Tidak Berbau, Yuk! Serap Sampah Sisa Makanan Dengan Budidaya Magot

Lugas Subarkah
Lugas Subarkah Rabu, 05 Maret 2025 22:37 WIB
Tidak Berbau, Yuk! Serap Sampah Sisa Makanan Dengan Budidaya Magot

Jumeno menaburi dedak pada tempat magot, di Bank Sampah Sidomulyo, Rabu (5/3/2025)./Harian Jogja-Lugas Subarkah

Harianjogja.com, JOGJA—Budidaya magot menjadi salah satu metode warga RW 2 Kotabaru, di Bank Sampah Sidomulyo untuk mengelola sampah organik, terutama sisa makanan. Hasil panen magot dimanfaatkan untuk pakan burung.

Bank Sampah Sidomulyo sudah mengembangkan budidaya magot sejak pertengahan 2023 lalu. Saat ini, setidaknya sudah ada dua budidaya magot di wilayah tersebut. Walau produksinya masih terbatas, namun budidaya magot ini mampu menyerap sampah sisa makanan dari masyarakat.

BACA JUGA: Dukung Penanganan Sampah Kota Jogja, Ini yang Dilakukan Pemda DIY

Pengelola budidaya magot Bank Sampah Sidomulyo, Jumeno, menjelaskan budidaya magot tersebut tidak berbau karena sisa makanan yang digunakan terlebih dahulu dicuci. “Sisa makanan dicuci, kemudian diberikan dedak,” ujarnya, Rabu (5/3/2025).

Magot diberikan makan hampir setiap hari sekali dengan sampah sisa makanan sekitar 1 kg. sampah sisa makanan tersebut terdiri dari sisa nasi, sisa sayur, kulit pisang, kulit papaya dan lainnya. “Itu saya tekan-tekan jadi seperti bubur, lalu saya taburi dedak biar tidak bau,” katanya.

Sampah sisa makanan didapatkan dari warga sekitar anggota Bank Sampah Sidomulyo yang rutin menyetorkan sampah sisa makanan. Namun setoran tersebut tidak terlalu banyak lantaran warga juga sudah memiliki biopori di rumahnya masing-masing untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk.

Maka magot yang diproduksi pun juga belum banyak. Dalam sekali panen biasanya hanya berkisar sekitar 0,5 kg magot. Karena masih terbatas, ia pun memanfaatkan hasil produksi magot untuk pakan burung dan untuk warga sekitar yang membutuhkan.

Magot bisa dimanfaatkan untuk pakan burung, ikan lele maupun ayam. Selain menjadi pakan, beberapa magot lainnya dijadikan pupa untuk dilanjutkan dalam proses daur hidupnya menjadi kepongpong, lalat dan kembali bertelur menjadi magot.

Ketua Bank Sampah Sidomulyo, Surtinah, mengatakan warga di RW 2 sudah memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik dikelola menggunakan biopori yang di setiap rumah sudah ada sekitar dua sampai 10 unit biopori, juga budidaya magot.

“Di RT 8 sudah lama budidaya magotnya. Kemudian sekarang di RT 7 juga sudah ada magot lagi. jadi masih pemula, tapi insyaalloh bisa kami bantu lewat dana dari bank sampah sedikit-sedikit, semoga bisa berkembang,” ungkapnya.

Ia berharap budidaya magot ini bisa mendapat dukungan dari Pemkot Jogja, khususnya untuk pelatihan dan pendampingan. “Karena dulu pelatihannya cuma dari perorangan. Jadi kalau dari dinas mengadakan pelatihan mungkin bisa berkembang lebih banyak,” kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online