Kekerasan Daycare Jogja, 53 Anak Jadi Korban, Pemda DIY Turun Tangan
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Kelompok Tani Patehan Hijau bercocok tanam di lahan mereka, beberapa waktu lalu./ist
Harianjogja.com, JOGJA—Gencarnya pengelolaan sampah di Kota Jogja berbanding lurus dengan produktivitas pertanian perkotaan oleh kelompok tani. Ini disebabkan pengolahan sampah organik menghasilkan pupuk yang menunjang pertumbuhan tanaman.
Hal ini salah satunya dilakukan di Kelurahan Patehan, Kraton. Di sini, beberapa bank sampah maupun individu yang sudah berhasil mengelola sampah, juga berhasil mengelola pertanian. Hubungan pengelolaan sampah dan pertanian menjadi symbiosis mutualisme atau hubungan yang saling menguntungkan.
BACA JUGA: Titik Sampah Liar di Jogja Diklaim Berkurang Berkat Sistem Transporter
Ketua Pengelola Sampah Mandiri (PSM) Patehan Hujau yang juga Ketua RW 04, Agus Wijjayanto, menjelaskan di samping mengelola sampah anorganik untuk disalurkan ke pengepul, PSM Patehan Hijau juga mengelola sampah anorganik.
Kelompok sedekah sampah yang sudah berdiri sejak 2012 ini memiliki tiga unit drum komposter yang digunakan untuk mengolah sampah organik terutama dari sampah dedaunan. “Hasilnya menjadi pupuk kompos, yang digunakan untuk kegiatan kelompok tani,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Komposter tersebut ada yang merupakan bantuan, ada pula yang beli sendiri dari hasil pengelolaan sampah anorganik. “Hasil penimbangan sampah anorganik setiap bulan rata-rata Rp400.000 setiap bulan, digunakan untuk membeli keperluan pengelolaan sampah,” katanya.
Kelompok tani di wilayah tersebut bernama sama seperti kelompok sedekah sampahnya, yakni Kelompok Tani Patehan Hijau. Kelompok tani ini memiliki lahan khusus yang digunakan untuk para anggota kelompok bercocok tanam secara kolektif.
Selain di lahan tersebut, Agus juga menanam di pekarangan rumahnya sendiri dengan lahan yang lebih terbatas. “Saya punya banyak pupuk hasil dari pengolahan melalui komposter. Digunakan untuk memupuk tanaman di rumah,” ungkapnya.
Hal yang sama juga dilakukan Ketua Bank Sampah Pualam, Dwi Lestari. Warga RW 03 Patehan ini mengelola sampah organik dengan berbagai macam metode, mulai dari komposter, biopori, lusida, ember tumpuk hingga ecoenzim.
Di rumahnya, ia juga menanam berbagai macam tanaman. Dari pengolahan sampah itu ia menghasilkan pupuk untuk tanamannya. “Pupuknya saya gunakan untuk tanaman. Setiap enam bulan saya olah tanahnya, diberi pupuk. Tanaman saya banyak sekali,” ungkapnya.
Dengan symbiosis ini, maka materi sampah organik sebenarnya berputar, dari bahan makanan atau sisa makanan, diolah, menjadi pupuk, lalu digunakan untuk menanam tanaman pertanian yang hasilnya juga menjadi bahan pangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Jadwal imsak, Subuh, dan Maghrib di DIY pada Kamis 30 Juli 2026 untuk puasa sunnah Kamis. Cek waktu sahur dan berbuka di sini.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 30 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak 12 perjalanan dan tarif Commuter Line Rp8.000.
KPK mendalami penukaran 46.500 dolar Singapura yang diduga disiapkan Suhardiman Amby untuk Raja Juli Antoni dalam penyidikan kasus Kuansing.
PSEL Legok Nangka senilai Rp7,2 triliun mulai dibangun di Kabupaten Bandung. Proyek ini akan mengolah 2.131 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 40,79 M
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 30 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jam keberangkatan tiap stasiun.