Dishub Bantul Renovasi 133 Lampu Trotoar Jalan Sudirman
Dishub Bantul menganggarkan Rp399 juta untuk memperbaiki 133 lampu trotoar di Jalan Jenderal Sudirman agar lebih aman dan menarik.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat lonjakan signifikan jumlah kasus obesitas berdasarkan kode ICD 10 (E.66 - E.66.9). Pada tahun 2023, terdapat 638 kasus. Namun, pada 2024, angkanya melonjak drastis menjadi 2.785 kasus.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul, Feranose Panjuantiningrum mengatakan, kasus obesitas dalam kode ICD-10 diklasifikasikan dalam rentang E66. Kode E66.0 mengacu pada obesitas akibat kelebihan kalori, sementara E66.9 mengacu pada obesitas yang tidak ditentukan.
BACA JUGA: Obesitas Membuat Seseorang Semakin Sulit Menurunkan Berat Badan
"Obesitas akibat kelebihan kalori ini adalah klasifikasi umum untuk obesitas yang disebabkan oleh konsumsi kalori lebih banyak daripada yang dibakar oleh tubuh. Sementara obesitas tidak ditentukan digunakan ketika diagnosis obesitas tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang penyebab atau jenisnya," kata dia, Senin (19/5/2025).
Menurut Fera, peningkatan ini tidak lepas dari program Integrasi Layanan Primer (ILP) yang mendorong peningkatan kegiatan skrining kesehatan. “Jadi di 2024, ada program ILP sehingga skrining lebih meningkat dan penemuan kasus lebih banyak,” ujar Fera.
Ia menambahkan, peningkatan obesitas berdampak langsung pada tingginya risiko penyakit tidak menular, terutama diabetes melitus. Menurutnya, faktor utama pemicu diabetes melitus adalah gaya hidup tidak sehat. "Kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, antara lain tinggi asupan gula, konsumsi minuman kemasan atau dalam botol," jelas Fera.
Faktor risiko lain termasuk konsumsi alkohol, minimnya asupan buah dan sayur, serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk rutin skrining dan kontrol. "Kurangnya kesadaran dari masyarakat untuk melakukan skrining dan kontrol rutin bagi penderita diabetes melitus juga berpengaruh terhadap penyakit tersebut," ujarnya.
Dalam menanggulangi diabetes, Dinkes Bantul menerapkan strategi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Edukasi kepada masyarakat menjadi ujung tombak promosi kesehatan. Sementara itu, upaya preventif dilakukan melalui skrining rutin.
“Upaya kuratif dan rehabilitatif dilakukan dengan pengecekan kadar gula secara rutin minimal satu kali sebulan, pemberian edukasi, dan obat-obatan,” jelasnya.
Dinkes juga melakukan skrining komplikasi melalui pemeriksaan profil lipid dan rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG). Fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas telah disiapkan dengan alat dan bahan medis untuk mendukung penanganan standar diabetes melitus.
Fera mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup sehat dan aktif melakukan deteksi dini. “Kami menghimbau agar masyarakat menerapkan pola hidup sehat, melakukan skrining kesehatan minimal setahun sekali, dan yang sudah menderita diabetes melitus dapat melakukan kontrol rutin di fasyankes,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dishub Bantul menganggarkan Rp399 juta untuk memperbaiki 133 lampu trotoar di Jalan Jenderal Sudirman agar lebih aman dan menarik.
BGN akan menangguhkan SPPG tanpa Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi. Kebijakan ini demi menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis.
Serangan Israel ke Lebanon kembali meningkat. Puluhan wilayah dihantam, korban tewas bertambah. Simak perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
Kesbangpol DIY menyelenggarakan pendidikan politik perempuan di Wates, Kabupaten Kulonprogo, Rabu (13/5/2026). Pendidikan ini ditujukan untuk mendorong kaum Haw
Prabowo ungkap Rp49 triliun uang tak terurus di bank akan masuk negara. Dana diduga terkait koruptor dan siap dimanfaatkan untuk rakyat.
Komet C/2025 R3 PANSTARRS muncul di 2026 dan tak kembali selama 170.000 tahun. Fenomena langka yang simpan sejarah Tata Surya.