DIY Masih Relatif Aman dari Kekeringan, BNPB Siapkan Antisipasi
BNPB menyebut kondisi kekeringan DIY masih relatif aman. Pemantauan krisis air dan hotspot terus dilakukan untuk mengantisipasi bencana.
Ilustrasi Perumahan. / Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Program pembangunan 3 juta rumah yang diinisiasi pemerintah pusat dinilai sulit diterapkan secara maksimal di Kota Jogja. Kepadatan penduduk yang tinggi serta keterbatasan lahan menjadi tantangan utama dalam implementasi program tersebut.
Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dinas PUPKP Kota Jogja, Sigit Setiawan, menyataka kondisi kepadatan Kota Jogja yang mencapai 11.000 jiwa per kilometer persegi membuat ruang untuk pembangunan perumahan baru sangat terbatas.
“Kalau memang kita mau memenuhi 3 juta rumah itu, melalui swasta pun sulit karena lahannya tidak ada. Kemungkinan yang bisa dilakukan ya kerja sama dengan Kraton,” ujar Sigit, Senin (25/8/2025).
Sigit menambahkan, pemanfaatan tanah milik Kraton Jogja atau Sultan Ground dapat menjadi opsi. Namun, konsep yang mungkin diterapkan bukan pembangunan rumah tapak, melainkan hunian vertikal.
“Mau tidak mau kalau sudah padat ya harus vertikal. Tapi nanti tinggal kerjasamanya bagaimana, kekancingannya seperti apa, itu yang perlu dibahas lebih detail,” katanya.
Menurutnya, pola pembangunan hunian di tanah Sultan Ground dapat dilakukan dengan model kekancingan bangunan, bukan tanah seperti yang selama ini berlaku. Ia mencontohkan, jika ada lahan 4.000 meter dengan sekitar 80 kekancingan, maka izin atau kekancingan yang diberikan bukan lagi sebatas tanah, melainkan bangunan vertikal.
“Pola ini bisa dikerjasamakan dengan swasta atau melalui skema CSR. Tetapi yang paling penting, masalah haknya harus diselesaikan dulu,” kata Sigit.
Meski begitu, Sigit menilai bahwa realisasi program 3 juta rumah sebaiknya dikelola di level Pemerintah Daerah DIY, bukan langsung oleh Pemerintah Kota Jogja. Alasannya, distribusi pembangunan rumah tidak bisa disamaratakan di setiap daerah, mengingat karakteristik wilayah berbeda-beda.
BACA JUGA: Jadwal KRL Solo-Jogja Senin 25 Agustus 2025: Berangkat dari Stasiun Palur
“Kalau imbang pembagiannya, Jogja mau dibangun di mana? Profil daerahnya tidak memungkinkan. Jadi lebih baik ranahnya DIY, baru nanti pemerintah kota berapa yang bisa ditawarkan. Kalau ditanya target, saya belum bisa komentar, tapi tawaran paling realistis ya yang tadi, pembangunan vertikal di Sultan Ground,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BNPB menyebut kondisi kekeringan DIY masih relatif aman. Pemantauan krisis air dan hotspot terus dilakukan untuk mengantisipasi bencana.
Harga iPhone 18 Pro diprediksi mencapai Rp24,9 juta atau naik sekitar Rp5 juta akibat lonjakan biaya komponen memori.
Rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang tumbuh yang aman secara emosional, psikologis, dan spiritual bagi anak maupun orang tua.
Memetri Kaistimewan DIY digelar di Lapangan Paseban Bantul, Sabtu 15 Agustus 2026. Ada senam, donor darah, jathilan, workshop hingga pertunjukan tari kolosal.
Persoalan stunting atau tengkes di Sleman dinilai tidak bisa hanya dilihat dari kondisi ekonomi keluarga.
Gempa 7 magnitudo mengguncang NTT pada Sabtu pagi. Getaran terasa hingga Lombok dan BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami.