Peserta Senam Kreasi Penthul Tembem Gunungkidul Pecahkan Rekor Dunia
Gunungkidul Pecahkan Rekor Dunia! 1.588 Perempuan Senam Penthul Tembem di Nglanggeran
Kondisi Telaga Budegan di Padukuhan Budegan di Kalurahan Piyaman, Wonosari yang mengering saat kemarau. Selasa (9/9/2025) Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sejumlah telaga di Kabupaten Gunungkidul mulai mengering karena dampak dari musim kemarau. Diharapkan ada proses revitalisasi sehingga fungsi telaga dapat kembali normal alias airnya dapat terjaga saban tahun.
Lurah Pacarejo, Semanu, Suhadi mengatakan, di wilayahnya terdapat 13 telaga. Kendati demikian, fungsi dari penampungan air ini tidak lagi normal sehingga mengering saat musim kemarau.
BACA JUGA: Kekeringan di Bantul Meluas, BPBD Salurkan 48 Tangki Air Bersih
Ia mencatat, ada sembilan telaga yang mengering di Pacarejo. Adapun telaga yang masih berfungsi alias ada airnya ada di Telaga Jonge, Ledok, Sri Lutut dan Sruweng. “Untuk yang lainnya sudah mengering karena dampak kemarau,” katanya, selasa (9/9/2025).
Dia berharap ada program revitalisasi telaga agar fungsi telaga dapat kembali normal. Keberadaan telaga-telaga ini penting karena selain untuk pemeliharaan pertanian juga dipergunakan kebutuhan ternak.
“Harapannya bisa menjadi penampungan air yang normal sehingga tidak mengering. Tentunya saat normal, bisa dimanfaatkan berbagai kegiatan seperti budidaya ikan dan lainnya,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Supardi, salah seorang warga Tahunan, Sumberejo, Semin. Menurut dia, di wilayahnya ada Telaga Plumpit dan kondisinya sudah mulai menyusut airnya.
Ia tidak menampik di telaga sudah dibikin plester dengan cor, tapi dikarenakan airnya banyak dimanfaatkan untuk pertanian, maka sudah mulai mengering. “Kalau musim penghujan jadi penampungan. Tapi, kalau kemarau airnya disedot untuk mengairi lahan pertanian warga di sekitar telaga,” katanya.
Kepala Bidang Sumber Daya Air, DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono mengatakan, berdasarkan Surat Keputusan Bupati No.345/KPTS/2022 tentang Penetapan Daftar Telaga di Gunungkidul, tercatat ada 359 telaga tersebar di seluruh wilayah di 18 kapanewon. Hasil dari pendataan ini juga diketahui ada ratusan telaga yang tidak bergungsi dengan baik.
Hal ini dikarenakan terjadi sedimentasi yang parah sehingga mengering saat kemarau. Selain itu, juga ada alih fungsi dari telaga menjadi lahan pertanian.
Meski demikian, Sigit belum bisa memastikan berapa jumlah telaga yang berganti fungsi ini. “Datanya di kantor. Tapi memang banyak telaga yang rusak sehingga tidak berfungsi dengan baik,” katanya.
Ia mencatat, dari 359 telaga yang ada, hanya sekitar 20 telaga yang berfungsi dengan baik karena tidak mengering saat kemarau. “Memang tidak banyak karena mayoritas sudah rusak karena sedimentasi yang parah sehingga berpengaruh terhadap keberadaan telaga,” ungkapnya.
Menurut dia, terus ada upaya revitalisasi dan pemeliharaan telaga. Langkah-langkah yang dilakukan dengan perbaikan talut hingga upaya pengerukan.
“Kegiatan penanaman pohon juga dibutuhkan untuk mencegah aliran permukaan yang membawa sedimentasi ke telaga. Sehingga tidak cepat dangkal telaganya, makanya butuh sosialisasi di Masyarakat,” kata Sigit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul Pecahkan Rekor Dunia! 1.588 Perempuan Senam Penthul Tembem di Nglanggeran
Nobar Piala Dunia 2026 di Teras Malioboro dipadati ratusan warga dan berdampak positif pada omzet UMKM yang meningkat hingga empat kali lipat.
Gabsi Sleman menggelar Kejurkab Bridge 2026 sebagai ajang seleksi atlet menuju Kejurda DIY dan Pelatkab Porda 2027.
FK-KMK UGM menggelar Summer Course 2026 bertema sistem kesehatan tangguh bencana yang diikuti 81 peserta dari 11 negara.
Kejagung menegaskan status Febrie Adriansyah tetap tersangka meski menerbitkan tiga sprindik baru terkait dugaan korupsi dan TPPU.
Menkop Ferry Juliantoro merespons isu pengadaan kipas angin Kopdes Merah Putih senilai Rp1,8 triliun dalam rapat bersama Komisi VI DPR.