Segera Dibuka, Kelok 23 Jadi Harapan Baru Ekonomi Sisi Barat Gunungkidul
Kelok 23 di Girijati, Gunungkidul, dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan investasi setelah menghubungkan JJLS dengan Bantul.
Kondisi Telaga Budegan di Padukuhan Budegan di Kalurahan Piyaman, Wonosari yang mengering saat kemarau. Selasa (9/9/2025) Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sejumlah telaga di Kabupaten Gunungkidul mulai mengering karena dampak dari musim kemarau. Diharapkan ada proses revitalisasi sehingga fungsi telaga dapat kembali normal alias airnya dapat terjaga saban tahun.
Lurah Pacarejo, Semanu, Suhadi mengatakan, di wilayahnya terdapat 13 telaga. Kendati demikian, fungsi dari penampungan air ini tidak lagi normal sehingga mengering saat musim kemarau.
BACA JUGA: Kekeringan di Bantul Meluas, BPBD Salurkan 48 Tangki Air Bersih
Ia mencatat, ada sembilan telaga yang mengering di Pacarejo. Adapun telaga yang masih berfungsi alias ada airnya ada di Telaga Jonge, Ledok, Sri Lutut dan Sruweng. “Untuk yang lainnya sudah mengering karena dampak kemarau,” katanya, selasa (9/9/2025).
Dia berharap ada program revitalisasi telaga agar fungsi telaga dapat kembali normal. Keberadaan telaga-telaga ini penting karena selain untuk pemeliharaan pertanian juga dipergunakan kebutuhan ternak.
“Harapannya bisa menjadi penampungan air yang normal sehingga tidak mengering. Tentunya saat normal, bisa dimanfaatkan berbagai kegiatan seperti budidaya ikan dan lainnya,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Supardi, salah seorang warga Tahunan, Sumberejo, Semin. Menurut dia, di wilayahnya ada Telaga Plumpit dan kondisinya sudah mulai menyusut airnya.
Ia tidak menampik di telaga sudah dibikin plester dengan cor, tapi dikarenakan airnya banyak dimanfaatkan untuk pertanian, maka sudah mulai mengering. “Kalau musim penghujan jadi penampungan. Tapi, kalau kemarau airnya disedot untuk mengairi lahan pertanian warga di sekitar telaga,” katanya.
Kepala Bidang Sumber Daya Air, DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono mengatakan, berdasarkan Surat Keputusan Bupati No.345/KPTS/2022 tentang Penetapan Daftar Telaga di Gunungkidul, tercatat ada 359 telaga tersebar di seluruh wilayah di 18 kapanewon. Hasil dari pendataan ini juga diketahui ada ratusan telaga yang tidak bergungsi dengan baik.
Hal ini dikarenakan terjadi sedimentasi yang parah sehingga mengering saat kemarau. Selain itu, juga ada alih fungsi dari telaga menjadi lahan pertanian.
Meski demikian, Sigit belum bisa memastikan berapa jumlah telaga yang berganti fungsi ini. “Datanya di kantor. Tapi memang banyak telaga yang rusak sehingga tidak berfungsi dengan baik,” katanya.
Ia mencatat, dari 359 telaga yang ada, hanya sekitar 20 telaga yang berfungsi dengan baik karena tidak mengering saat kemarau. “Memang tidak banyak karena mayoritas sudah rusak karena sedimentasi yang parah sehingga berpengaruh terhadap keberadaan telaga,” ungkapnya.
Menurut dia, terus ada upaya revitalisasi dan pemeliharaan telaga. Langkah-langkah yang dilakukan dengan perbaikan talut hingga upaya pengerukan.
“Kegiatan penanaman pohon juga dibutuhkan untuk mencegah aliran permukaan yang membawa sedimentasi ke telaga. Sehingga tidak cepat dangkal telaganya, makanya butuh sosialisasi di Masyarakat,” kata Sigit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 di Girijati, Gunungkidul, dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan investasi setelah menghubungkan JJLS dengan Bantul.
Harga emas Pegadaian hari ini 15 September 2026 untuk Antam, UBS, dan Galeri 24 lengkap dengan harga jual serta buyback.
Macklemore dicoret dari sisa tur Ed Sheeran di AS setelah dukung Palestina. Sejumlah venue disebut menolak konser jika ia tetap tampil.
Harga rumah Yogyakarta mencapai median Rp2 miliar pada Agustus 2026. Harga naik 14,3%, sedangkan listing turun 27,4%.
Joanna Wietrzyk menang HYROX Beijing setelah insiden di tengah lomba. Kenali profil dan prestasi atlet Australia tersebut.
Produksi mobil Indonesia mencapai 859.256 unit hingga Agustus 2026. Toyota menyumbang 353.778 unit atau 41,2 persen.