Kronologi Klitih Maut di Kotabaru Jogja, 1 Pelajar Meninggal Dunia
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Ketua KWT Lorong Sayur Gembira, Ely Puspitasari berfoto di lahan tani kelompoknya di Rejowinangun, Kotagede, Kota Jogja, pada Jumat (26/9/2025). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Kelompok Wanita Tani (KWT) Lorong Sayur Gembira di Gang Melati, RW 06, Rejowinangun, Kotagede, Kota Jogja, menjadi salah satu contoh kreativitas warga perkotaan dalam mengatasi keterbatasan lahan pertanian.
Sejak 2019, kelompok ini konsisten mengembangkan metode bercocok tanam di lahan sempit dengan memanfaatkan tembok sebagai media tanam.
BACA JUGA: Muhaimin Soroti Anak Muda Tak Mau Jadi Petani
Ketua KWT Lorong Sayur Gembira, Ely Puspitasari, menuturkan ide awal muncul setelah adanya pelatihan urban farming. Dari sana, para ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok berinisiatif mengembangkan tanaman sayur dengan wall planter.
“Kita memanfaatkan lahan sempit di perkotaan, disarankan untuk bisa tanam di tembok. Dari situ kemudian terbentuk KWT dengan sekitar 20 orang anggota di dua titik,” ujar Ely, Jumat (26/9/2025).
Jenis tanaman yang dibudidayakan pun beragam, mulai dari kangkung, labu siam, hingga sawi. Seiring berjalannya waktu, kelompok ini juga menanam tanaman obat keluarga (toga). Tidak hanya dikonsumsi untuk kebutuhan sendiri, toga yang dihasilkan juga dijual untuk menambah penghasilan para anggota.
Dalam aktivitas sehari-hari, KWT menerapkan sistem kerja bergilir untuk perawatan tanaman. Ely menjelaskan, setiap anggota memiliki jadwal piket mingguan untuk menyiram, merawat, hingga membersihkan lorong sayur.
“Kalau masa tanam kita bersama-sama. Tapi kalau rutinitas keseharian seperti perawatan menanam, mencabut rumput itu kita bergilir seminggu sekali,” jelasnya.
Hasil panen yang diperoleh tidak hanya bermanfaat untuk kebutuhan konsumsi anggota, tetapi sebagian juga dijual agar kelompok tetap berdaya secara ekonomi. Dukungan lahan dari yayasan di sekitar kampung semakin memacu semangat KWT Lorong Sayur Gembira untuk memperluas areal tanam.
Kreativitas kelompok ini tidak berhenti pada pemanfaatan tembok sebagai media tanam. Mereka juga mandiri dalam membuat pupuk organik. Sampah rumah tangga berupa sisa sayur dan buah diolah menjadi kompos dan pupuk cair yang digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Dengan cara tersebut, KWT Lorong Sayur Gembira disebut tidak hanya mendukung ketahanan pangan keluarga, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan sampah organik di lingkungan sekitar.
Ely berharap semangat bercocok tanam di lahan terbatas ini dapat menginspirasi warga lain di Jogja agar lebih peduli terhadap pemanfaatan ruang sempit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
SIM keliling Bantul hari ini hadir di Halaman Kantor Kalurahan Wukirsari. Cek jadwal lengkap dan syarat perpanjangan SIM A dan C.
Bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji digelar di Padukuhan Dayakan 2, Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, Rabu (20/5).
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.