Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Kepala DLH Jogja, Radjan Taufik; Lurah Keparakan, Yusuf Ahbari; dan kader Mas Jos Keparakan mengikuti Temu Kader Mas Jos, di Kampung Dipowinatan, Kelurahan Keparakan, Selasa (11/11/2025)./ist Keparakan
Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jogja mendorong penguatan pengolahan sampah organik dalam program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) Keparakan. Di wilayah tersebut, bank sampah sudah terbentuk banyak sehingga pengelolaan sampah anorganik sudah berjalan baik.
Kepala DLH Jogja, Radjan Taufik, mendorong dalam Mas Jos di Keparakan saat ini fokus pada penguatan gerakan pengolahan sampah organik. Sementara untuk pemilahan sampah sesuai jenis dan pengelolaan sampah anorganik sudah berjalan cukup baik.
"Bank sampah sudah ada di semua RW. Sehingga hal yang perlu ditekankan adalah pengolahan sampah organik. Agar jumlah sampah yang masuk ke depo dapat terus dipertahankan kosong atau depo tetap bersih," ujarnya dalam Temu Kader Mas Jos di Kelurahan Keparakan, Selasa (11/11/2025).
Lurah Keparakan, Yusuf Ahbari, menuturkan bahwa saat ini bank sampah di Kelurahan Keparakan jumlahnya sudah banyak. Dari 13 RW yang ada di Keparakan, sudah terbentuk 17 bank sampah. “Jadi ada RW yang memiliki bank sampah lebih dari satu," kata dia.
Sementara untuk pengelolaan sampah organik, warga disebutnya terus mendapatkan dorongan dari tim relawan dan kader Mas Jos Keparakan untuk mengelola sampah organik. Selain dengan biopori, warga juga sudah mengembangkan budidaya maggot.
Masyarakat juga mulai diarahkan untuk membudayakan pengelolaan sampah sejak di hulu atau di sumber produksi sampah, dalam hal ini keluarga. Utamanya untuk pengelolaan sampah organik seperti sampah bahan mentah masakan dan sisa makanan.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mendekatkan sarana pengelolaan sampah organik dengan lokasi produksi sampah di rumah tangga. Pembuatan sarana seperti ember atau galon tumpuk di dekat dapur membantu memudahkan masyarakat untuk memulai pengelolaan sampah organik.
"Masyarakat kita saat ini budayanya mager atau malas gerak. Jadi kalau kejauhan sedikit, sudah malas untuk bergerak. Makanya keberadaan ember atau galon tumpuk ini sebisa mungkin di dekat tempat memasak," ujar Ketua Forum Bank Sampah dan Sekda Kota Jogja, Aman Yuriadijaya.
Pemkot Jogja pada 15 November berencana melakukan gerakan serentak menanam atau menempatkan galon tumpuk di rumah-rumah warga. Gerakan tersebut diharapkan dapat membangkitkan dan membantu upaya membudayakan pengelolaan sampah sejak dari rumah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Kementan menargetkan tambahan 600.000 sapi perah hingga 2029 untuk memperkuat produksi susu lokal dan menekan ketergantungan impor.
Partai Gema Bangsa bersilaturahmi ke PP Muhammadiyah di Jogja membahas desentralisasi politik dan target Pemilu 2029.
Dugaan politik uang muncul di Pilur Panggungharjo. Calon lurah melapor, sementara panitia mengingatkan fakta integritas dan mekanisme penanganan.
BMKG memprakirakan sejumlah wilayah berpotensi hujan pada 2–5 Oktober 2026 meski kemarau panjang masih melanda banyak daerah.
IKI September 2026 berada di level 51,93 atau turun 0,37 poin. Industri masih ekspansi, tetapi biaya logistik dan BBM menekan laju.