Seragam Gratis Bantul 2026 Diproses, Disdikpora Tunggu Hasil SPMB
Seragam gratis Bantul 2026 masih dalam tahap pengadaan. Disdikpora menunggu hasil akhir SPMB untuk menentukan jumlah penerima.
Petugas saat menertibkan lapak pedagang di kawasan Pantai Parangtritis. Dok Satpol PP Bantul
Harianjogja.com, BANTUL—Deretan lapak dan gubuk yang digunakan berjualan para pedagang di kawasan Pantai Parangtritis dibongkar petugas. Penertiban dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama Dinas Pariwisata Bantul itu menyasar area selatan paving blok yang sejak awal ditetapkan sebagai kawasan terlarang untuk aktivitas jual beli.
Kepala Satpol PP Bantul, Jati Bayu Broto, menyatakan pembongkaran dilakukan karena kondisi lapak sudah tidak tertata dan mengganggu kenyamanan wisatawan.
"Penertiban lapak itu dilakukan karena kondisinya sudah terlalu kumuh, terlalu padat terutama di zona atau space untuk pengunjung wisata yang ada di kawasan pasir pantai," ujarnya pada Senin (17/11) pagi.
Penertiban ini berlangsung pada Jumat (14/11) dan sebagian besar berjalan tanpa paksaan. Jati menjelaskan para pedagang bersedia merapikan dan membongkar lapak mereka secara mandiri.
"Alhamdulillah warga dengan penuh kesadaran mau menata dan menertibkan sendiri lapak-lapak, ada puluhan lapak yang ditertibkan, kalau jumlah pastinya ada di Dinas Pariwisata," katanya.
Ia menambahkan, lokasi tersebut sebenarnya sudah lama ditetapkan sebagai zona tanpa aktivitas dagang, karena pemerintah telah menyediakan area usaha di bagian utara paving blok. Penertiban terakhir dilakukan beberapa tahun lalu, dan sejak itu kawasan kembali dipenuhi kios-kios semi permanen.
"Beberapa tahun lalu puluhan lapak pernah kita tertibkan, ini kan sudah lama tidak tersentuh, kemarin terlalu padat terlalu kumuh, payungnya tidak terbatas, kemudian kemarin kita minta kesadaran masyarakat untuk menertibkan sendiri didampingi dengan Dinas Pariwisata," ujarnya.
Selain lapak, petugas juga menata kursi, meja, dan gerobak yang sebelumnya ditempatkan di zona terlarang dan memindahkannya ke warung-warung resmi di bagian utara. Para pedagang pun kembali diingatkan agar tidak kembali membangun tempat jualan di area pasir selatan.
"Kita menyadarkan masyarakat bahwa sekarang itu persaingan, kompetisi antar destinasi wisata itu sangat ketat, semua wilayah juga membangun, sehingga kita ingatkan agar penataan itu juga harus dimulai dari masyarakat sendiri biar para wisatawan bisa nyaman," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seragam gratis Bantul 2026 masih dalam tahap pengadaan. Disdikpora menunggu hasil akhir SPMB untuk menentukan jumlah penerima.
Gempa DIY membuat perjalanan kereta sempat dihentikan sementara. KAI Daop 6 memastikan seluruh operasional kereta kini kembali normal dan aman.
Jadwal KRL Solo-Jogja hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.