Kelok 23 Selesai, Investor JJLS Gunungkidul Diminta Tak Langgar Aturan
Investor di kawasan JJLS Gunungkidul diminta mematuhi perizinan dan menjaga lingkungan setelah Kelok 23 selesai dibangun.
Warga sedang melintas di atas jembatan bailey di Padukuhan Gelaran I, Desa Bejiharjo, Karangmojo/ Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Bonjing di Padukuhan Gelaran I, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo berharap bisa memiliki jembatan permanen yang membentang di atas Kali Oya. Pasalnya, Jembatan Bailey yang dibangun hanya bersifat sementara sehingga aktivitas warga tidak dapat berjalan optimal.
Dukuh Gelaran I, Bejiharjo, Husein Pamungkas, mengatakan dulu akses bagi warga Bonjing sempat ada jembatan, tetapi rusak karena diterjang banjir bandang yang diakibatkan dampak dari Badai Cempaka pada tahun 2017 lalu. Pascakejadian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung membangunkan Jembatan Bailey sebagai akses darurat yang bertahan hingga sekarang.
“Berhubung ini akses satu-satunya, maka keberadaan Jembatan Bailey sangat membantu bagi warga Bonjing. Tapi, kami berharap ada jembatan yang permanen agar aktivitas lebih bisa dimaksimalkan,” kata Husein, Minggu (30/11/2025).
Keterbatasan Akses dan Biaya Pemeliharaan
Menurut Husein, di awal dibangun, jembatan hanya khusus untuk kendaraan roda dua. Namun, setelah dilakukan penguatan pilar-pilar jembatan, akhirnya mobil dengan berat di bawah lima ton bisa melintas.
Husein mencatat, sejak dibangun pada akhir 2017, Jembatan Bailey sudah dilakukan perbaikan sebanyak lima kali. Rinciannya, empat kali pemeliharaan menggunakan anggaran dana desa masing-masing Rp20 juta dan sekali program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) sebesar Rp5 juta.
“Jadi ditotal untuk lima kali pemeliharaan sudah mengeluarkan anggaran Rp85 juta,” katanya.
Untuk pembangunan jembatan permanen, Husein mengakui sudah membuat kajian dengan akademisi. Guna membangun jembatan tersebut dibutuhkan dana sekitar Rp15 miliar.
“Kalau dibiayai kalurahan, jelas tidak mampu. Jadi, kami berharap kepada Pemkab [Pemerintah Kabupaten], pemerintah provinsi, atau Pemerintah Pusat untuk membantu dibangunkan jembatan yang permanen,” katanya.
Potensi Wisata Terkendala Akses
Salah seorang warga Bejiharjo, Sutarno, menambahkan di kawasan Bonjing sempat dikembangkan destinasi wisata Wonosumilir. Namun, kondisi sekarang tidak berfungsi lagi karena sudah tak ada aktivitas di lokasi tersebut.
“Sempat ada destinasi wisata yang coba dikembangkan, tapi sekarang sudah mati. Mungkin akses menjadi kendala sehingga wisatanya tidak berkembang,” katanya.
Menurut dia, Jembatan Bailey yang terbangun tidak bisa dilalui sembarangan kendaraan karena truk-truk dilarang melintas. Oleh karena itu, warga berharap ada jembatan lebih permanen sehingga bisa mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
“Tidak hanya pertanian atau perkebunan. Tapi, mungkin dengan adanya jembatan baru yang lebih kuat, maka wisatanya bisa dikembangkan lagi karena di sekitar jembatan juga ada wahana susur Sungai Oya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Investor di kawasan JJLS Gunungkidul diminta mematuhi perizinan dan menjaga lingkungan setelah Kelok 23 selesai dibangun.
Sebanyak 42 penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Minggu sore.
Pesawat aerosport Sky Ranger jatuh dan terbakar di persawahan Blora. Dua awak selamat dengan luka ringan setelah pendaratan darurat.
Garuda Indonesia membatalkan penerbangan dari dan menuju Jakarta, Bandung, dan Lampung hingga 7 September 2026 akibat abu vulkanik Anak Krakatau.
Perempuan 64 tahun di Nepal ditemukan selamat setelah 10 hari tertimbun reruntuhan akibat banjir bandang yang menerjang wilayah Rasuwa.
Kemenpar meminta keselamatan penerbangan menjadi prioritas di tengah dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan potensi pembatalan penerbangan.