Bendungan Jlantah Pekuat Ketahanan Pangan Jateng
Bendungan Jlantah di Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar adalah salah satu bendungan yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto
Forum Perangkat Daerah Penyusunan Rancangan Renja Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWP2) Setda DIY 2027, di Kepatihan, Rabu (25/2/2026). - ist
JOGJA—Pengembangan Geopark Jogja tidak hanya dituntut memenuhi aspek konservasi dan edukasi, tetapi juga harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Para ahli menilai nilai kebermanfaatan menjadi kunci penting menuju pengakuan UNESCO.
Kawasan Geopark Jogja yang mencakup 15 situs warisan geologi atau geosite telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional oleh Pemerintah Indonesia. Status tersebut menjadi pijakan awal untuk pengembangan lebih lanjut, terutama dalam meningkatkan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan.
Ahli geologi dari UPN Veteran Yogyakarta, Prasetyadi, menjelaskan geopark memiliki dua aspek utama, yakni statis dan dinamis. Aspek statis berkaitan dengan pengakuan sebagai geopark nasional serta pemenuhan persyaratan asesmen administratif maupun ilmiah, sedangkan aspek dinamis berkaitan langsung dengan manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Justru yang disorot adalah aspek dinamisnya. Yang saya maksud aspek dinamis itu adalah aspek yang membuat geopark kita itu mempunyai nilai kebermanfaatan,” ujarnya dalam Forum Perangkat Daerah Penyusunan Rancangan Renja Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWP2) Setda DIY 2027, di Kepatihan, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, aspek dinamis mencakup kemaslahatan serta kemampuan relasi pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan geopark. Tidak hanya sebatas edukasi maupun konservasi, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi secara nyata.
“Jadi bukan relasi semata-mata edukasi, relasi bukan semata-mata konservasi, itu juga penting. Tapi justru yang disoroti untuk meningkat menjadi Geopark UNESCO itu adalah relasi pemberdayaannya,” katanya.
Ia mencontohkan geosite Eosen Nanggulan yang memiliki keunikan karena menjadi lokasi satu-satunya di Jawa tempat batuan sedimen tertua dapat diamati secara langsung. Tantangan yang muncul adalah bagaimana potensi tersebut mampu menjadi kebanggaan masyarakat setempat sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.
“Tantangannya adalah bagaimana geopark yang punya keistimewaan ini menjadi kebanggaan juga masyarakat setempat dan akhirnya memunculkan sebuah value, value ekonomi terutama,” kata dia.
Contoh lain disampaikan pada kawasan Lava Bantal Berbah. Berdasarkan pengamatannya, aspek dinamis pemberdayaan masyarakat di kawasan tersebut belum berkembang optimal meskipun memiliki potensi besar, termasuk sebagai penyimpan sumber air.
“Ini menjadi tantangan untuk memunculkan sinergi sehingga geosite Lava Bantal Berbah itu aspek dinamisnya nanti yang harus sudah selesai dan kemudian bisa mengikuti jejak tetangganya yakni Tebing Breksi,” ungkapnya.
Kepala Biro PIWP2 Sekretariat Daerah DIY, Agnes Dhiany Indria Sari, menyebut penguatan Geopark Jogja menjadi salah satu fokus program pada 2026 dan 2027 melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
“Pada 2026, kami berkolaborasi sektoral dengan OPD terkait dalam Pengelolaan dan Pengembangan Geopark Jogja,” katanya.
Pada 2027, Pemerintah DIY menargetkan pengajuan Geopark Jogja ke UNESCO. Selain aspek warisan geologi, geopark juga mencakup keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), serta keragaman budaya (cultural diversity).
“Signifikansi dan Strategi Pengelolaan yang akan diangkat di sini adalah adanya perubahan mindset pengelolaan sumber daya alam yakni perubahan fokus dari ekstraksi atau penambangan menjadi konservasi untuk peningkatan nilai tambah,” ujarnya.
Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, menilai potensi pemberdayaan masyarakat tidak hanya terbatas pada kawasan geopark. Ia mencontohkan optimalisasi Sungai Oyo yang dinilai masih memiliki peluang besar untuk mendukung ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
“Pernah nggak kita berpikir Sungai Oyo kita optimalkan untuk pemberdayaan masyarakat? Sepanjang sungai itu. Mulai dari ketahanan pangan dan sebagainya. Bahkan kalau kita urusan dengan ketahanan pangan itu, Mataram itu menjadi soko gurunya ketahanan pangan,” katanya.
Pengembangan Geopark Jogja yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat tersebut diharapkan dapat memperkuat nilai ekonomi kawasan sekaligus mendukung proses menuju pengakuan UNESCO melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bendungan Jlantah di Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar adalah salah satu bendungan yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto
Laporan eSafety Australia mengungkap Instagram, WhatsApp, iMessage, dan Snapchat paling sering dikaitkan dengan kasus sextortion. Ribuan korban dilaporkan menga
Benjamin Netanyahu memuji Presiden Argentina Javier Milei dan mendukung Argentina di Piala Dunia 2026. Hubungan kedua negara kini menjadi salah satu yang terdek
Forbes mencatat ekonomi kreator dunia menembus US$1 miliar untuk pertama kalinya. MrBeast menjadi kreator dengan pendapatan terbesar mencapai Rp5,4 triliun dala
Jayden Adams meninggal dunia usai membela Afrika Selatan di Piala Dunia 2026. Polisi membuka penyelidikan sementara dunia sepak bola menyampaikan belasungkawa.
Indonesia mengoleksi 30 gelar Japan Open dan menjadi negara tersukses ketiga sepanjang sejarah. Ganda putra menyumbang 15 gelar, terbanyak dibanding sektor.