DPRD Kota Jogja Matangkan Raperda Pembinaan Ideologi Pancasila
DPRD Kota Jogja mematangkan Raperda Pembinaan Ideologi Pancasila dan Pendidikan Wawasan Kebangsaan melalui koordinasi lintas instansi.
Pawai takbiran di Kampung Yudonegaran, Kamis (19/3/2026) malam.-Stefani Yulindriani/harianjogja.com
Harianjogja.com, JOGJA--Pawai takbiran di Kampung Yudonegaran tahun ini tak sekadar meriah, tetapi juga sarat pesan lingkungan. Kelompok Gardayuda dari Masjid BMI Yudonegaran menampilkan lampion bertema kerusakan alam yang dibuat dari bahan bekas.
Penanggung Jawab Takbiran BMI Yudonegaran, Deggy Revando menjelaskan karya tersebut terinspirasi dari peristiwa kerusakan lingkungan yang terjadi di Sumatera. Melalui lampion itu, pihaknya ingin menggambarkan dua sisi dampak, yakni ketika lingkungan dijaga dan ketika diabaikan. “Bagian atas menggambarkan lingkungan yang terjaga, terlihat lebih asri, berwarna, dan tertata. Sementara bagian bawah menunjukkan dampak kerusakan, seperti hutan gundul yang memicu longsor dan merusak permukiman,” ujarnya Kamis (19/3/2026).
Dia menambahkan desain lampion juga dilengkapi pesan bahwa kerusakan darat dan laut terjadi akibat ulah manusia. Visual tersebut diperkuat dengan ornamen kayu di bagian bawah serta gambaran kehidupan di bagian atas.
Proses pembuatan lampion berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu dengan melibatkan sekitar 12-15 orang. Seluruh bahan yang digunakan berasal dari limbah daur ulang, seperti kardus, koran, plastik mika, stik es krim, tusuk sate, hingga potongan triplek dan ranting.
“Bahan kami ambil dari bank sampah Kusuma Pertiwi di kampung, lalu kami olah kembali menjadi karya,” jelasnya.
Tak hanya menyampaikan pesan melalui karya, tim takbiran juga menerapkan aksi nyata dengan menjaga kebersihan selama pawai berlangsung. Deggy menyebut, timnya telah diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, bahkan turut memungut sampah yang ditemui di sepanjang rute.
“Selama keliling nanti kami juga sambil memunguti sampah. Ada tim khusus empat orang, dua bertugas mengambil sampah dan dua lainnya membawa kantong,” katanya.
Menurutnya, gerakan tersebut menjadi bagian dari ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, mulai dari memilah sampah hingga menanam pohon demi keberlangsungan generasi mendatang.
Menurutnya, pengelolaan sampah wilayah Yudonegaran telah dilakukan secara mandiri melalui bank sampah setempat, sehingga kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan terus tumbuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Kota Jogja mematangkan Raperda Pembinaan Ideologi Pancasila dan Pendidikan Wawasan Kebangsaan melalui koordinasi lintas instansi.
DPRD Gunungkidul mendorong tambahan Rp400 juta untuk dropping air karena alokasi 3.000 tangki diperkirakan habis sebelum kekeringan berakhir.
Pemerintah menyiapkan tanda kehormatan HUT ke-81 RI. Sejumlah menteri masuk daftar calon penerima, termasuk individu berprestasi di bidang teknologi.
PLN UID Yogyakarta menargetkan penambahan 26 SPKLU di DIY hingga akhir 2026. Saat ini sudah ada 33 unit yang terbangun.
Kubu Febrie Adriansyah buka suara soal kematian Sutrimo. Keluarga menyebut almarhum telah lama mengidap diabetes.
Lakon Tatu membawa kisah cinta, kesetiaan, dan luka pasca-Perjanjian Giyanti hingga mengantar Sleman meraih Penyaji Terbaik I.