1001 Pembatik Akan Membatik Serentak di Malioboro, Kadin DIY Bidik Generasi Muda

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Minggu, 27 September 2026 12:17 WIB
1001 Pembatik Akan Membatik Serentak di Malioboro, Kadin DIY Bidik Generasi Muda

Pembatik - Ilustrasi/JIBI

Harianjogja.com, JOGJA— Sebanyak 1.001 pembatik akan membatik secara serentak di sepanjang Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Jogja dalam kegiatan Simfoni 1001 Pembatik, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini digelar untuk memperkenalkan batik sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap dunia pembatikan.

Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Komunikasi, Informasi, dan Digital (Kominfodigi) Kadin DIY Y. Sri Susilo mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Batik Nasional 2026 sekaligus HUT ke-270 Kota Jogja.

Menurutnya, Simfoni 1001 Pembatik tidak sekadar menghadirkan ribuan pembatik secara serentak. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memperkenalkan proses pembuatan serta nilai yang terkandung dalam batik kepada masyarakat secara lebih luas, terutama generasi muda.

“Kadin juga punya komitmen mendukung pengembangan UMKM di bidang batik dan mensosialisasikan batik di kalangan anak muda atau masyarakat yang lebih luas,” ujarnya, Minggu (7/9/2026).

Regenerasi Jadi Tantangan Industri Batik

Sri Susilo mengatakan regenerasi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri batik saat ini. Jumlah anak muda yang bersedia meneruskan keterampilan membatik semakin sedikit, terutama untuk batik tulis yang membutuhkan ketelitian dan waktu pengerjaan lebih panjang.

“Ini memang tantangan saat ini, semakin langka anak muda yang bersedia untuk meneruskan atau menjadi pembatik,” katanya.

Selain persoalan regenerasi, industri batik juga menghadapi tantangan dari sisi harga. Batik tulis dibanderol dengan harga lebih tinggi karena proses pembuatannya membutuhkan waktu, keterampilan, serta bahan yang berkualitas.

Sri Susilo menjelaskan batik berbeda dengan kain bermotif batik yang dibuat menggunakan proses printing. Batik menggunakan malam dengan teknik tulis, cap, maupun perpaduan antara keduanya.

“Batik tulis harganya mahal karena bukan sekadar produk massal, tetapi ada unsur seni dan prosesnya. Bahan dasarnya juga berkualitas,” tuturnya.

Menurut dia, permintaan terhadap batik tulis sebenarnya masih ada meskipun pasarnya relatif terbatas. Sementara batik yang mengombinasikan teknik tulis dan cap dinilai memiliki peluang pasar lebih luas karena motifnya dapat menyesuaikan perkembangan selera konsumen.

1.001 Pembatik Batik Serentak di Malioboro

Melalui Simfoni 1001 Pembatik, Kadin DIY berharap masyarakat, terutama generasi muda, dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik.

Kegiatan membatik serentak tersebut akan berlangsung sepanjang sekitar 500 meter, mulai dari Simpang Empat Batik Terang Bulan hingga Titik Nol Kilometer Jogja.

“Kalau jumlahnya 1.000 pembatik, daya promosinya untuk meneruskan batik lebih tinggi dibandingkan 100 pembatik. Harapannya, batik semakin dikenal terutama di kalangan anak muda,” jelas Sri Susilo.

Tidak hanya pembatik, wisatawan dan masyarakat juga dapat berinteraksi langsung dengan proses membatik. Panitia akan menyediakan sejumlah perlengkapan bagi peserta yang ingin mencoba membatik dalam kegiatan tersebut.

Simfoni 1001 Pembatik Dorong Event Tourism

Sri Susilo mengatakan Simfoni 1001 Pembatik juga menjadi bagian dari agenda pariwisata Kota Jogja.

Kehadiran ribuan pembatik di kawasan Malioboro diharapkan dapat menarik wisatawan sekaligus memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

“Dampak langsungnya lebih ke event tourism. Ada beberapa booth UMKM yang bisa dibeli masyarakat. Event seperti apa pun akan mampu menggerakkan ekonomi,” katanya.

Simfoni 1001 Pembatik dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (3/10/2026) pukul 06.00–14.00 WIB. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-270 Kota Jogja dan Hari Batik Nasional 2026.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online