Ratusan Warga Madura Datangi Polresta Jogja, Ini Tuntutannya
Ratusan warga Madura mendatangi Polresta Jogja mempersoalkan laporan terhadap pengurus KMY terkait kesepakatan jarak toko kelontong.
Rapat Paripurna di Gedung DPRD DIY, pada Jumat (27/3/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA— Aturan baru pengelolaan tambang di DIY mulai mengerucut ke pembatasan ketat, terutama terkait luasan area dan masa berlaku izin guna menekan risiko eksploitasi sumber daya alam.
Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) pertambangan tersebut telah disetujui dalam rapat paripurna DPRD DIY pada Jumat (27/3/2026), dengan fokus pada keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan pengelolaan tambang tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata.
“Pengelolaan pertambangan sejatinya tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan sektor perekonomian, namun wajib memperhatikan sektor lingkungan dan sosial budaya di masyarakat,” ujarnya.
Dalam beleid tersebut, konsep good mining practice menjadi landasan utama, dengan penekanan pada konservasi dan pembatasan aktivitas tambang.
Sejumlah aturan ditegaskan, mulai dari larangan tambang di tanah Kasultanan dan Kadipaten, kewajiban sosialisasi kepada masyarakat, hingga keharusan reklamasi dan pascatambang yang disertai jaminan.
Selain itu, aktivitas tambang wajib mempertimbangkan daya dukung lingkungan serta dilakukan pemantauan sejak tahap eksplorasi.
Ketua Panitia Khusus Raperda, Aslam Ridlo, menjelaskan pembatasan izin menjadi fokus penting untuk mencegah eksploitasi berlebihan, khususnya di wilayah sungai.
“Perlu pembatasan luasan dan masa berlaku IPR agar tidak terjadi eksploitasi berlebihan, khususnya di wilayah sungai,” jelasnya.
Ia menilai izin yang terlalu panjang berisiko mempercepat habisnya sumber daya alam. Karena itu, durasi dan luas izin akan dikontrol lebih ketat.
Pembatasan juga berlaku untuk Surat Izin Pertambangan Batuan (SIPB). Jika secara nasional batas maksimal mencapai 50 hektar, di DIY ditetapkan hanya 5 hektar untuk menghindari praktik monopoli.
“Luasan 50 hektar berpotensi monopoli, maka kemudian kita tetapkan luasannya adalah 5 hektar,” ungkapnya.
Penetapan batas ini telah melalui fasilitasi dengan Kementerian Dalam Negeri. Meski ada arahan mengikuti regulasi pusat, DIY tetap memiliki ruang penyesuaian melalui Peraturan Gubernur.
Raperda ini menjadi salah satu dari lima regulasi yang disepakati dalam rapat paripurna, dengan tujuan menghadirkan tata kelola pertambangan yang lebih berkelanjutan di DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ratusan warga Madura mendatangi Polresta Jogja mempersoalkan laporan terhadap pengurus KMY terkait kesepakatan jarak toko kelontong.
Jadwal DAMRI YIA-Jogja Kamis 15 Oktober 2026 tersedia untuk 5 rute. Simak jam keberangkatan dan tarif Rp80.000 per penumpang.
Jadwal KA Bandara YIA, Kamis 15 Oktober 2026, tersedia 24 perjalanan dari YIA ke Stasiun Tugu dan sebaliknya. Cek jam keberangkatan lengkapnya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Kamis 15 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Simak jadwal lengkap dari kedua arah.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 15 Oktober 2026 tersedia mulai pagi. Simak jadwal lengkap dari Stasiun Palur hingga Jogja/Tugu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis15 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.