UGM Temukan Residu PVC di Lokasi Api Misterius Seyegan
UGM menemukan residu PVC di lokasi fenomena api Seyegan, Sleman. Tim peneliti menyimpulkan sumber api bukan berasal dari gas alam dan kini fokus mencari pemanti
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan saat mengunjungi SMAN 1 Depok pada Kamis (16/4/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Lonjakan harga plastik hingga 70% mulai mengganggu sektor pangan. Pemerintah langsung turun tangan dengan memanggil pengusaha biji plastik untuk mencari solusi agar kenaikan tidak semakin liar.
Kenaikan harga plastik yang melampaui batas wajar menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut lonjakan harga di pasar sudah jauh di atas kenaikan normal.
"Ini sedang kami atasi, kami sedang panggil beberapa pengusaha yang untuk biji plastik. Nanti gimana kira-kira agar ini tidak terlalu [kenaikannya]," kata Zulhas saat ditemui di Sleman, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, secara perhitungan, kenaikan harga plastik seharusnya berada di kisaran 30%. Namun di lapangan, harga justru melonjak hingga 60% sampai 70%.
“Kan naiknya kira-kira 30 [persen] tapi di pasar ada yang sampai 60 sampai 70 [persen],” tegasnya.
Menurut Zulhas, salah satu penyebab utama lonjakan ini adalah ketergantungan bahan baku plastik terhadap impor minyak. Kenaikan harga minyak global otomatis mendorong naiknya biaya produksi plastik.
"Ya itu memang kami sedang kejar sekarang, karena plastik itu kan tergantung kepada impor minyak. Memang itu sangat berpengaruh langsung," jelasnya.
Dampak kenaikan ini tidak berhenti di industri plastik, tetapi mulai merembet ke sektor pangan. Banyak komoditas, termasuk beras, sangat bergantung pada kemasan plastik dalam distribusinya.
“Beras enggak naik, minyak, bensin enggak naik, semua enggak naik. Tapi kalau plastiknya enggak ada kan gimana? Itu kan beras harus pakai kantong,” ujarnya.
Ia menyoroti lonjakan harga kantong plastik yang sebelumnya sekitar Rp500 kini bisa mencapai Rp2.000. Kondisi ini dinilai berpotensi menambah beban biaya distribusi pangan.
“Kalau masih naik aja masih ada mending juga. Kadang-kadang yang dulu Rp500 sekarang Rp2.000, kan nambah beras, mahal sekali itu,” lanjutnya.
Pemerintah pun tengah menjajaki berbagai langkah, termasuk berkoordinasi dengan pelaku industri untuk menstabilkan pasokan dan harga.
Di sisi lain, Zulhas juga membuka peluang penggunaan bahan alternatif sebagai pengganti plastik. Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan bahan organik.
“Bagus sekali kalau punya alternatif, kan kita sebetulnya kaya dengan organik. Kalau itu bisa, plastik diganti organik bagus sekali,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGM menemukan residu PVC di lokasi fenomena api Seyegan, Sleman. Tim peneliti menyimpulkan sumber api bukan berasal dari gas alam dan kini fokus mencari pemanti
Gempa DIY membuat perjalanan kereta sempat dihentikan sementara. KAI Daop 6 memastikan seluruh operasional kereta kini kembali normal dan aman.
Jadwal KRL Solo-Jogja hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.