DPRD DIY Soroti Kesiapan Guru dalam Pendidikan Khas Kejogjaan

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Selasa, 12 Mei 2026 04:57 WIB
DPRD DIY Soroti Kesiapan Guru dalam Pendidikan Khas Kejogjaan

Seragam sekolah SD dan SMP - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—DPRD DIY mendukung peluncuran program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) yang dideklarasikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Namun, kesiapan sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga pendidik, dinilai menjadi tantangan utama dalam implementasi program tersebut.

Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu, menilai penguatan kapasitas guru menjadi faktor penting agar nilai-nilai keistimewaan DIY dapat terintegrasi dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Baru saja Ngarso Dalem mendeklarasikan pendidikan khas Jogja. Pendidikannya di mana? Di sekolah lagi. Pendidikan khas Jogja harus konsekuensinya adalah SDM. SDM yang mampu mengeksplor keistimewaan dalam pembelajaran,” ujar Dwi, Senin (11/5/2026).

Guru Dinilai Belum Memahami Keistimewaan DIY

Menurut Dwi, sebagian guru saat ini masih berfokus pada kurikulum nasional sehingga belum sepenuhnya memahami substansi sejarah maupun nilai keistimewaan DIY sebagai materi pembelajaran.

“Karena hari ini guru-guru belum tentu dia tahu tentang keistimewaan. Guru sejarah paling hanya bicara sesuai kurikulum nasional, tapi sejarah keistimewaan apakah dia tahu? Belum tentu,” katanya.

Ia menilai peningkatan kompetensi guru harus menjadi prioritas agar Pendidikan Khas Kejogjaan tidak berhenti sebatas konsep, melainkan benar-benar diterapkan di ruang kelas.

Pelatihan Guru Butuh Dukungan Anggaran

Dwi menegaskan penguatan SDM guru dapat dilakukan melalui berbagai program peningkatan kompetensi, seperti pelatihan, bimbingan teknis (bimtek), hingga pendidikan lanjutan.

Menurutnya, langkah tersebut memerlukan dukungan anggaran yang memadai dari pemerintah daerah agar implementasi PKJ berjalan optimal.

“Kalau pun SDM yang sudah ada ya harus dinaikkan kompetensinya. Itu pasti berbasis anggaran, bisa bimtek, bisa sekolah,” tandasnya.

DIY Diharapkan Kembali Kuat sebagai Kota Pelajar

Lebih lanjut, Dwi berharap program Pendidikan Khas Kejogjaan mampu mengembalikan marwah DIY sebagai kota pelajar yang memiliki karakter berbasis budaya dan nilai keistimewaan daerah.

Ia menilai identitas pendidikan di DIY seharusnya tidak hanya menjadi label, tetapi tercermin dalam sistem pembelajaran dan karakter peserta didik.

Sri Sultan Sebut PKJ sebagai Gerakan Kebudayaan

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan Pendidikan Khas Kejogjaan bukan sekadar program pendidikan formal, melainkan gerakan kebudayaan untuk membentuk manusia yang utuh secara intelektual maupun karakter.

Sri Sultan menjelaskan pendidikan tersebut berlandaskan falsafah “Hamemayu Hayuning Bawana” yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Melalui konsep itu, pendidikan di DIY diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara batin dan memiliki perilaku luhur.

Sinergi Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Program Pendidikan Khas Kejogjaan juga mengedepankan konsep Tri Sentra Pendidikan yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pembentukan karakter peserta didik.

Konsep tersebut diperkuat melalui sinergi Kraton, kampus, dan kampung sebagai ekosistem pendidikan berbasis budaya di DIY.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online