Proyek Konservasi Burung Aviary Purwosari Ditarget Rampung 2029

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 13 Mei 2026 05:17 WIB
Proyek Konservasi Burung Aviary Purwosari Ditarget Rampung 2029

Ilustrasi pelepasliaran burung./freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pembangunan tempat konservasi burung atau aviary di Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, Gunungkidul dipastikan kembali berlanjut pada 2026. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menyiapkan anggaran sebesar Rp5,6 miliar untuk meneruskan proyek konservasi yang dibiayai melalui Dana Keistimewaan (Danais) DIY tersebut.

Tahapan proyek saat ini masih berada dalam proses persiapan lelang. Dokumen perencanaan pembangunan aviary Purwosari masih menjalani review oleh Inspektorat Daerah sebelum masuk proses pengadaan rekanan pelaksana.

Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan DLH Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto, mengatakan pembangunan kawasan konservasi burung itu sudah dimulai sejak 2023. Hingga kini, total anggaran yang telah digelontorkan melalui Dana Keistimewaan DIY mencapai lebih dari Rp15 miliar.

“Tahun ini dialokasikan anggaran Rp5,6 miliar,” kata Adinoto, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, pembangunan aviary Purwosari tahun ini akan difokuskan pada penyelesaian sejumlah fasilitas utama. Beberapa di antaranya meliputi pembangunan gedung klinik kesehatan hewan, dome aviary, serta mess penunjang operasional kawasan konservasi.

Ia menjelaskan proses lelang belum dapat dimulai karena seluruh dokumen teknis masih dalam tahap evaluasi dan pemeriksaan oleh Inspektorat Daerah.

“Semoga review dari inspektorat segera selesai sehingga di akhir Mei sudah masuk lelang untuk mencari rekanan yang akan mengerjakan proyek,” katanya.

Adinoto memastikan kawasan konservasi burung di Purwosari belum dapat dioperasikan dalam waktu dekat. Berdasarkan kajian perencanaan, total kebutuhan anggaran agar kawasan aviary dapat berfungsi penuh diperkirakan mencapai sekitar Rp40 miliar.

Anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk pembangunan kandang konservasi dan fasilitas kesehatan satwa, tetapi juga meliputi berbagai sarana pendukung lain seperti area parkir, perpustakaan, coffee shop, amphitheater, jalur pedestrian, hingga instalasi jaringan listrik.

“Kalau berdasarkan perencanaan kami, maka paling cepat selesainya di 2029,” katanya.

Meski demikian, keberlanjutan pembangunan aviary Purwosari tetap bergantung pada kebijakan Pemerintah DIY karena proyek tersebut didukung pendanaan Dana Keistimewaan.

“Memang bertahap prosesnya dan harapannya bisa sesuai dengan rencana sehingga dapat selesai tepat waktu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Gunungkidul, Tommy Darlianto, mengatakan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah menetapkan sejumlah proyek strategis daerah yang akan dijalankan sepanjang 2026.

Menurut Tommy, proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor mulai dari infrastruktur, kesehatan, lingkungan, pendidikan, hingga pengembangan pariwisata. Lanjutan pembangunan konservasi burung di Purwosari menjadi salah satu proyek prioritas yang masuk dalam daftar strategis daerah.

“Total untuk lima proyek strategis ini mencapai Rp17.375.139.200, salah satunya lanjutan pembangunan konservasi burung di Purwosari,” kata Tommy.

Ia mengakui seluruh proyek strategis tersebut saat ini masih berada dalam tahap persiapan dokumen sebelum masuk proses lelang. Masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) masih melakukan review terhadap spesifikasi teknis, harga perkiraan sendiri (HPS), hingga dokumen perencanaan lainnya agar sesuai regulasi yang berlaku.

“Semua harus mengacu pada regulasi yang ada sehingga tidak menimbulkan masalah hukum kelak di kemudian hari,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online