IMI Hentikan Semua Event Drag Race di Lintasan Non-Permanen
IMI menghentikan sementara drag race di lintasan non-permanen seperti jalan raya dan kompleks perumahan di seluruh Indonesia.
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena cuaca panas terik yang mendadak berubah menjadi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia ternyata dipengaruhi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut dinamika atmosfer ini sedang aktif dan berdampak besar terhadap peningkatan potensi cuaca ekstrem di Indonesia.
Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di berbagai daerah merasakan suhu udara yang sangat gerah pada pagi hingga siang hari. Namun, kondisi tersebut kemudian berubah drastis saat sore atau malam dengan munculnya hujan deras secara tiba-tiba. BMKG menjelaskan pola cuaca tidak menentu itu berkaitan erat dengan pergerakan MJO yang kini berada di sekitar Samudra Hindia.
BMKG menerangkan MJO merupakan gelombang atmosfer tropis berskala besar yang bergerak dari barat ke timur melintasi wilayah khatulistiwa. Fenomena ini memiliki siklus sekitar 30 hingga 60 hari dan berpengaruh kuat terhadap proses pembentukan awan hujan di kawasan tropis, termasuk Indonesia.
Aktivitas MJO menyebabkan distribusi uap air di atmosfer berubah cukup signifikan. Ketika gelombang atmosfer tersebut aktif melintasi suatu wilayah, potensi pembentukan awan hujan meningkat tajam sehingga memicu cuaca ekstrem.
Dalam kajian klimatologi, MJO dibagi menjadi delapan fase yang tersebar di empat kawasan utama dunia, yakni:
Fase 1 dan 8 berada di kawasan Afrika dan barat Samudra Hindia
Fase 2 dan 3 berada di wilayah Samudra Hindia
Fase 4 dan 5 berada di kawasan Benua Maritim termasuk Indonesia
Fase 6 dan 7 berada di wilayah Pasifik Barat
BMKG menyebut saat ini MJO berada pada fase 3 atau di kawasan Samudra Hindia. Posisi tersebut mulai meningkatkan suplai uap air menuju Indonesia bagian barat dan selatan sehingga peluang hujan deras kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tersebut juga membuat cuaca terasa lebih panas dan gerah pada pagi hingga siang hari. Minimnya tutupan awan menyebabkan radiasi matahari langsung memanaskan permukaan bumi secara maksimal. Di sisi lain, kelembapan udara yang tinggi membuat energi panas berubah menjadi pembentuk awan konvektif yang berkembang cepat menjadi hujan deras pada sore hingga malam hari.
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG pada 11–13 Mei 2026, sejumlah daerah di Indonesia mencatat suhu maksimum di atas 36 derajat Celsius hingga mencapai 37,1 derajat Celsius. Suhu tertinggi terpantau terjadi di Sumatra Utara, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur.
BMKG menegaskan peningkatan suhu udara tersebut bukan berarti Indonesia sepenuhnya memasuki musim kemarau. Tingginya kelembapan atmosfer justru membuat potensi hujan lebat masih terus muncul di berbagai wilayah.
Data BMKG menunjukkan curah hujan harian tertinggi dalam beberapa hari terakhir tercatat di Sulawesi Barat dengan intensitas mencapai 139,0 mm per hari. Selain itu, hujan lebat juga terjadi di Sulawesi Tenggara sebesar 81,4 mm per hari, Papua Barat 80,0 mm per hari, Papua Tengah 71,0 mm per hari, Sumatra Barat 70,9 mm per hari, Kalimantan Barat 66,3 mm per hari, Papua Pegunungan 62,4 mm per hari, serta Kalimantan Tengah 57,4 mm per hari.
BMKG menilai tingginya curah hujan tersebut tidak hanya dipengaruhi MJO. Sejumlah gangguan atmosfer lain juga terpantau aktif, seperti Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, Mixed Rossby-Gravity (MRG), hingga kemunculan sirkulasi siklonik di sejumlah wilayah perairan Indonesia.
Kombinasi berbagai gangguan atmosfer itu memperbesar peluang terbentuknya awan hujan karena meningkatkan suplai uap air serta memicu perlambatan angin dan pertemuan massa udara di atmosfer.
Penelitian klimatologi periode 2011–2020 menunjukkan curah hujan di Indonesia dapat meningkat sekitar 30% hingga 80% ketika MJO aktif pada fase 2 dan fase 3. Sebaliknya, saat MJO bergerak menuju fase 6 hingga fase 8, curah hujan di Indonesia justru dapat turun drastis sekitar 50% hingga 60%.
BMKG memprakirakan dinamika atmosfer dalam sepekan ke depan masih cukup aktif. Selain pengaruh MJO, Gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan melintasi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
BMKG juga memantau potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di sekitar Selat Karimata, Laut Sulawesi, dan Selat Makassar bagian selatan. Kondisi tersebut dapat mempercepat pertumbuhan awan hujan dan meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat yang disertai petir serta angin kencang di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa hari mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IMI menghentikan sementara drag race di lintasan non-permanen seperti jalan raya dan kompleks perumahan di seluruh Indonesia.
Batik Sembung di Kulonprogo membuat kain batik sepanjang 8,1 meter untuk memperingati HUT ke-81 RI dan menyuarakan pesan persatuan bangsa.
Thailand siapkan overhaul pajak kendaraan setelah Indonesia rayu Toyota pindahkan produksi. Tarif cukai lebih rendah untuk produsen lokal, lebih tinggi untuk CB
Toyota Kijang Innova Zenix HEV masih menjadi mobil hybrid terlaris Juli 2026. Mitsubishi Xforce HEV langsung masuk jajaran 10 besar.
iPhone 17 raih skor 157 di DxOMark, naik 10 poin dari iPhone 16. Kamera ultrawide 48MP jadi peningkatan utama, tapi ketiadaan lensa telefoto masih jadi kelemaha
Putri Kusuma Wardani lolos ke babak kedua Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026 setelah mengalahkan Mikaela Joy De Guzman 21-12, 21-6.