180 Komunitas Motor di Jogja Ramaikan Road to MotoGP Mandalika 2026
Sekitar 180 komunitas motorsport Jogja mengikuti Road to Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 melalui konvoi dan Watch Party AustrianGP.
Ilustrasi gerebeg besar. Dok.harianjogja
Harianjogja.com, JOGJA— Keraton Yogyakarta kembali menggelar tradisi sakral Garebeg Besar Dal 1959 pada Rabu (27/05/2026). Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, prosesi kali ini berlangsung lebih sederhana tanpa kirab besar di ruang publik. Meski demikian, nilai utama tradisi tetap dijaga melalui pembagian ribuan ubarampe kepada abdi dalem.
Dalam pelaksanaan kali ini, sebanyak 4.000 ubarampe pareden dibagikan kepada abdi dalem sebagai simbol sedekah raja kepada rakyatnya. Prosesi diawali dengan doa bersama yang dipimpin Kanca Kaji sekitar pukul 09.00 WIB di dalam lingkungan keraton.
Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa, KRT Kusumanegara, menjelaskan bahwa pembagian ubarampe dilakukan oleh sejumlah putra-putri keraton, di antaranya GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, serta KPH Wironegoro dan KPH Notonegoro.
"Ubarampe dibagikan kepada perwakilan abdi dalem, yang untuk selanjutnya dibagikan di masing-masing Kawedanan Hageng dan Kawedanan. Dan sesuai dhawuh Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X) prosesi Garebeg disederhanakan, yang dimulai dari Garebeg Besar ini," paparnya.
Penyederhanaan ini berdampak pada sejumlah rangkaian acara yang biasanya menjadi bagian penting dari tradisi Garebeg. Ritual seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik yang umumnya digelar beberapa hari sebelum puncak acara, kali ini ditiadakan. Selain itu, kirab gunungan yang biasanya menarik perhatian masyarakat luas juga tidak diselenggarakan.
Meski demikian, pihak keraton menegaskan bahwa esensi budaya tidak berkurang. Tradisi sedekah raja tetap diwujudkan melalui pembagian ubarampe kepada kalangan internal, yang kemudian didistribusikan lebih luas oleh masing-masing perwakilan.
Sementara itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X sebelumnya menyampaikan bahwa kebijakan penyederhanaan ini merupakan bagian dari upaya efisiensi anggaran di tengah kondisi ekonomi saat ini.
"Ya penghematan aja, kabeh kan penghematan ya kan. Ya kita juga menghemat lah, prinsipnya kan gitu," ujar Sri Sultan.
Menurutnya, biaya terbesar dalam penyelenggaraan Garebeg selama ini berasal dari logistik dan kirab luar ruangan yang melibatkan banyak personel. Oleh karena itu, penyesuaian pada aspek tersebut dinilai sebagai langkah paling realistis.
Sri Sultan juga menegaskan bahwa format sederhana ini tidak serta-merta menjadi kebijakan permanen. Ke depan, pihak keraton akan mempertimbangkan kembali pelaksanaan Garebeg secara penuh, menyesuaikan kondisi ekonomi yang terus berkembang.
"Saya nggak bisa menentukan. Nanti kita lihat perkembangan kalau memang keadaan ekonominya lebih baik, ya dimunculkan lagi. Kita kan belum tahu," tutup Sri Sultan.
Dengan format baru ini, Garebeg Besar tetap menjadi simbol kuat kearifan lokal Jogja—menggabungkan nilai spiritual, budaya, dan kepedulian sosial dalam satu tradisi yang terus beradaptasi dengan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sekitar 180 komunitas motorsport Jogja mengikuti Road to Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 melalui konvoi dan Watch Party AustrianGP.
Kemenkes mencatat 2.365 warga masih dipasung akibat gangguan jiwa. Sementara itu, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan.
Kemenhaj mengimbau WNI di Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan. Calon jemaah umrah diminta mengecek jadwal dan berkoordinasi dengan PPIU.
Pemkab Banyumas menggelar Salat Istisqa di tengah kekeringan. BPBD mengerahkan enam armada tangki air untuk membantu warga terdampak.
CEO Microsoft Satya Nadella mengusulkan mekanisme darurat untuk menghentikan model AI, disertai audit independen dan transparansi sistem.
IDAI mengingatkan bahaya telur mentah bagi bayi dan anak karena risiko Salmonella. Simak cara mengolah telur yang aman untuk MPASI.