2,3 Juta Anak Belum Imunisasi, Pakar Ingatkan Risiko Wabah
2,3 juta anak Indonesia belum mendapat imunisasi. Pakar UMY mengingatkan risiko wabah penyakit dan pentingnya imunisasi dasar lengkap.
Pemda DIY dan YAKKUM memperingati Hari Clubfoot Sedunia 2026 dengan memperluas layanan kaki pengkor, edukasi keluarga, dan wisuda metode Ponseti. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya memperluas akses layanan penanganan kaki pengkor atau Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau Clubfoot terus diperkuat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui peringatan Hari Clubfoot Sedunia 2026, pemerintah daerah bersama mitra rehabilitasi menegaskan komitmen untuk memastikan setiap anak dengan kondisi tersebut memperoleh layanan kesehatan yang tepat sejak dini agar dapat tumbuh aktif, mandiri, dan produktif.
Peringatan World Clubfoot Day 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dan penanganan dini CTEV. Selain memperkuat dukungan bagi keluarga, kegiatan ini juga diarahkan untuk mengurangi stigma terhadap anak penyandang kaki pengkor melalui edukasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Kegiatan yang digelar di Yogyakarta tersebut merupakan kolaborasi antara Pusat Rehabilitasi YAKKUM dan Pemerintah Daerah DIY dengan mengusung tema global “See Early, Treat Early, Run Free”.
Acara ini dihadiri unsur pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, serta para penerima manfaat program. Sebanyak 18 anak penyandang CTEV hadir bersama 36 orang tua maupun pengasuh (caregiver) yang selama ini mendampingi proses pengobatan dan rehabilitasi.
Pemda DIY Perluas Akses Jaminan Kesehatan dan Rehabilitasi
Melalui program peningkatan layanan Clubfoot/CTEV yang dijalankan bersama MiracleFeet, Pusat Rehabilitasi YAKKUM menegaskan komitmennya dalam mendukung pemenuhan hak kesehatan anak-anak dengan kaki pengkor. Program tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi kepada anak-anak yang berhasil menyelesaikan seluruh tahapan pengobatan hingga dinyatakan lulus dari protokol penanganan medis.
Pemerintah Daerah DIY turut memberikan dukungan terhadap penguatan layanan tersebut melalui berbagai program kesehatan dan rehabilitasi yang telah berjalan.
Kepala Seksi Kepesertaan dan Pengembangan Jaminan Kesehatan Sosial Balai Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (Bapel Jamkesos) DIY, Enaryaka mengapresiasi konsistensi Pusat Rehabilitasi YAKKUM dalam mendampingi komunitas penyandang kaki pengkor dan keluarganya.
“Dinas Kesehatan DIY melalui Balai Pelayanan Jaminan Kesehatan Sosial terus memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat melalui Program Jaminan Kesehatan Terpadu dan layanan reguler di puskesmas maupun rumah sakit. Selain itu, tersedia dukungan akses alat bantu dan layanan rehabilitasi yang dilaksanakan bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Pusat Rehabilitasi YAKKUM”.
Dukungan Orang Tua Jadi Kunci Keberhasilan Terapi
Selain intervensi medis, keberhasilan penanganan CTEV juga sangat ditentukan oleh konsistensi dan dukungan keluarga selama proses terapi berlangsung. Hal tersebut menjadi salah satu temuan penting yang diperoleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM selama melakukan pendampingan kepada anak-anak penyandang kaki pengkor di berbagai wilayah.
Koordinator Program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Christian Pramudya, mengatakan keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada alat bantu maupun tindakan medis yang diberikan.
Menurutnya, keterlibatan aktif orang tua dalam menjalankan seluruh tahapan terapi menjadi faktor yang sangat menentukan kemampuan anak untuk berjalan, bermain, dan beraktivitas secara normal.
“Ada satu pembelajaran penting yang kami temukan selama mendampingi anak-anak. Dukungan berupa sepatu koreksi, tindakan medis, maupun layanan yang diberikan melalui program pemerintah tentu sangat penting. Akan tetapi, keberhasilan anak-anak untuk dapat berjalan, bermain, dan berlari dengan baik tidak terlepas dari dukungan luar biasa dari orang tua dan keluarga,” ungkap Christian Pramudya.
Wisuda Metode Ponseti Warnai Peringatan Hari Clubfoot Sedunia
Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai peringatan Hari Clubfoot Sedunia saat prosesi wisuda kelulusan penanganan kaki pengkor digelar. Sebanyak 10 anak bersama orang tua mereka secara simbolis dinyatakan berhasil menyelesaikan fase penting terapi metode Ponseti.
Anak-anak tersebut telah menuntaskan tahapan pemasangan gips, tindakan tenotomi, hingga penggunaan alat bantu ortopedi sesuai standar penanganan medis CTEV. Keberhasilan itu menjadi bukti pentingnya kepatuhan keluarga dalam menjalankan seluruh proses terapi yang berlangsung dalam jangka panjang.
Salah satu orang tua penerima manfaat, Widi Ningsih dari Sedayu, Bantul, mengaku melihat perubahan signifikan pada anaknya setelah menjalani rangkaian terapi.
“Saya merasakan perubahan besar pada anak saya yang lahir dengan CTEV setelah menjalani terapi gips, tenotomi, dan penggunaan brace selama hampir empat tahun melalui pendampingan YAKKUM dan Miracle Feet, hingga kini ia dapat berjalan dan beraktivitas seperti anak-anak lainnya.”
Program Good Feet at Four Cegah Kekambuhan
Pada sesi akhir kegiatan, peserta mengikuti seminar Gathering Anak dengan Clubfoot bertema “Kisah Jejak Langkahku Menuju Run Free 2030”. Seminar tersebut menghadirkan dokter ortopedi untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya pemantauan pascaperawatan guna mencegah risiko kekambuhan atau relapse.
Wakil Perkumpulan Ahli Bedah Orthopedi Indonesia (PABOI) DIY sekaligus dokter ortopedi RSUD Sleman, Risa Dumastoro, menjelaskan bahwa pengawasan rutin hingga usia balita sangat penting untuk memastikan struktur kaki tetap berkembang secara optimal.
Ia memperkenalkan program Good Feet at Four, sebuah pendekatan pemantauan berkelanjutan yang mendorong keluarga tetap disiplin menggunakan brace serta aktif melakukan kontrol hingga anak berusia empat tahun.
“Program Good Feet at Four dikembangkan untuk memastikan anak dengan clubfoot mendapatkan pemantauan hingga usia empat tahun guna mencegah kekambuhan, sekaligus mendorong orang tua tetap konsisten menggunakan brace dan berbagi pengalaman kepada keluarga lain yang menghadapi kondisi serupa,” ungkap dr. Risa Dumastoro.
Melalui kolaborasi antara Pusat Rehabilitasi YAKKUM, MiracleFeet, fasilitas layanan kesehatan, serta pemerintah daerah, upaya memperluas akses layanan clubfoot di DIY terus diperkuat. Pengembangan layanan yang inklusif dan ramah anak diharapkan mampu menjangkau lebih banyak keluarga hingga tingkat komunitas sehingga semakin banyak anak penyandang kaki pengkor memperoleh kesempatan tumbuh sehat dan mandiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
2,3 juta anak Indonesia belum mendapat imunisasi. Pakar UMY mengingatkan risiko wabah penyakit dan pentingnya imunisasi dasar lengkap.
BMKG menegaskan gempa M7,7 di Laut Sulawesi bukan berasal dari megathrust. Tsunami mikro 9-75 sentimeter terdeteksi dan masih terus dipantau.
Pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026, jumlah pendaftar mencapai 4.044 peserta, sementara kuota yang tersedia hanya 324 siswa
PPN DTP properti diperpanjang hingga 2027. Knight Frank menilai kebijakan ini efektif mendorong transaksi rumah dan menekan backlog perumahan.
Peredaran miras ilegal di Bantul beralih ke sistem COD. Polisi membongkar modus baru dan menangkap dua pelaku dalam operasi penyamaran.
Presiden Prabowo menyebut Indonesia kehilangan lebih dari US$900 miliar akibat praktik under-invoicing yang berlangsung selama bertahun-tahun.