Stunting di Kota Jogja Menurun, Kotagede Masih Tertinggi

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 23 Juli 2026 19:37 WIB
Stunting di Kota Jogja Menurun, Kotagede Masih Tertinggi

Ilustrasi penanganan stunting. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Prevalensi stunting di Kota Jogja kembali menunjukkan penurunan pada 2026. Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Juni 2026, sebanyak 764 balita dari total 9.235 balita yang dipantau mengalami stunting atau setara dengan prevalensi 8,27%.

Capaian tersebut tidak hanya lebih rendah dibandingkan prevalensi stunting pada 2025 yang mencapai 9,71%, tetapi juga telah melampaui target nasional dan target daerah yang telah ditetapkan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, mengatakan data yang digunakan pada Juli 2026 mengacu pada hasil Pemantauan Status Gizi bulan Juni 2026.

"Data bulan Juli mengacu pada hasil Pemantauan Status Gizi bulan Juni 2026. Dari 9.235 balita yang dipantau, terdapat 764 balita stunting atau prevalensinya sebesar 8,27%," ujarnya, Kamis (23/7/2026).

Menurut Aan, pemerintah pusat menargetkan prevalensi stunting di bawah 14%, sedangkan target Kota Jogja berada di bawah 12%. Meski demikian, Pemerintah Kota Jogja menargetkan capaian yang lebih rendah lagi.

"Wali Kota bertekad agar prevalensi stunting di Kota Jogja dapat terus ditekan hingga mencapai 5%," katanya.

Di tengah tren penurunan tersebut, persoalan stunting belum tersebar merata di seluruh wilayah di Kota Jogja. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Kemantren Kotagede menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi dengan angka mencapai 10,81%.

Aan menjelaskan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang disebabkan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini terutama terjadi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Ia menyebut terdapat sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya stunting. Faktor tersebut meliputi asupan gizi yang tidak mencukupi, infeksi berulang, buruknya sanitasi lingkungan, pola asuh dan rendahnya pengetahuan gizi, serta faktor sosial ekonomi.

"Namun, dari berbagai faktor tersebut, kami tidak bisa memastikan faktor mana yang paling dominan menjadi penyebab stunting di Kota Jogja," ujarnya.

Untuk mempercepat penurunan angka stunting, Pemkot Jogja terus mengalokasikan anggaran bagi program Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Pada 2026, total anggaran PMT mencapai Rp7,63 miliar atau meningkat dibandingkan 2025 yang sebesar Rp6,49 miliar.

Anggaran PMT pada 2026 terdiri atas Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp5,4 miliar dan Dana Alokasi Khusus (DAK)/Biaya Operasional Kesehatan (BOK) sebesar Rp2,23 miliar. Adapun pada 2025, alokasi anggaran berasal dari Dana Keistimewaan sebesar Rp4,5 miliar dan DAK/BOK sebesar Rp1,99 miliar.

Aan berharap peningkatan anggaran tersebut mampu memperkuat intervensi gizi bagi balita yang berisiko mengalami stunting sehingga target prevalensi stunting sebesar 5% di Kota Jogja dapat tercapai dalam beberapa tahun mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online