Inflasi Kota Jogja 0,24%, Kenaikan Harga Daging Ayam Ras Jadi Pemicu

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 03 September 2026 13:17 WIB
Inflasi Kota Jogja 0,24%, Kenaikan Harga Daging Ayam Ras Jadi Pemicu

Pedagang daging ayam di Pasar Bantul menjajakan dagangannya. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, JOGJA—Inflasi Kota Jogja pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,24% secara month to month (mtm). Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja menyebut kenaikan tersebut masih berada dalam batas normal, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama.

Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno mengatakan inflasi Kota Jogja secara month to month (mtm) pada Agustus 2026 mencapai 0,24%. Secara year on year (yoy), inflasi tercatat sebesar 3,29%, sedangkan secara kumulatif sejak awal tahun hingga Agustus 2026 mencapai 1,64%.

Menurut Joko, inflasi tahunan Kota Jogja tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 1,5% hingga 3,5%.

"Kondisi inflasi Kota Jogja saat ini masih berada dalam batas normal," katanya pada Kamis (3/9/2026).

Daging Ayam Ras Jadi Penyumbang Utama

Joko menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok yang paling banyak memberikan andil terhadap inflasi Kota Jogja pada Agustus 2026.

Di dalam kelompok tersebut, kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang paling mencolok. Selain ayam, kacang panjang dan semangka juga turut mengalami kenaikan harga.

“Penyebab inflasi utama itu dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Yang paling cukup mencolok adalah kenaikan harga daging ayam ras. Kemudian ada juga kacang panjang dan semangka,” ujarnya.

Kenaikan harga daging ayam ras tersebut, menurut Joko, diduga berkaitan dengan meningkatnya permintaan ketika stok yang tersedia terbatas. Kondisi tersebut turut dikaitkan dengan kebutuhan pasokan daging ayam ras untuk program makan bergizi gratis (MBG).

Joko menyebut kebutuhan pasokan daging ayam ras untuk memasok program MBG yang sudah berlangsung kembali pada Agustus 2026 menjadi salah satu penyebab yang berkaitan dengan kenaikan permintaan.

Permintaan dan Pasokan Pengaruhi Harga Pangan

Selain daging ayam ras, pergerakan harga sejumlah komoditas pangan di Kota Jogja juga dipengaruhi keseimbangan antara permintaan dan pasokan.

Joko menjelaskan ketika permintaan meningkat sementara pasokan tidak mencukupi, kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga komoditas.

“Biasanya memang di harga itu ada dua, antara demand dan supply. Apabila permintaan meningkat kemudian supply-nya kurang, biasanya harganya meningkat. Ini permintaannya mungkin meningkat,” jelasnya.

Dengan demikian, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama yang mendorong inflasi bulanan Kota Jogja pada Agustus 2026. Kenaikan sejumlah harga pangan menjadi bagian penting dari pergerakan inflasi pada periode tersebut.

Emas Perhiasan Turut Beri Andil Inflasi

Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil terhadap inflasi Kota Jogja pada Agustus 2026.

Komoditas yang dominan dalam kelompok tersebut adalah emas perhiasan.

BPS Kota Jogja mencatat secara keseluruhan inflasi bulanan pada Agustus 2026 sebesar 0,24%, dengan inflasi tahunan 3,29% dan inflasi kumulatif sejak awal tahun hingga Agustus 2026 sebesar 1,64%.

Angka inflasi tahunan tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 1,5% hingga 3,5%, sehingga BPS Kota Jogja menilai kondisi inflasi saat ini masih berada dalam batas normal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online