Babad Siti Kemantren #4, Sejarah Lokal Jadi Penggerak Potensi Jogja

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Minggu, 30 Agustus 2026 15:37 WIB
Babad Siti Kemantren #4, Sejarah Lokal Jadi Penggerak Potensi Jogja

Ilustrasi Kesenian jathilan.

Harianjogja.com, JOGJA—Festival Babad Siti Kemantren #4 tidak lagi sekadar menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah dan budaya lokal. Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja mengarahkan penyelenggaraan festival tahun keempat ini untuk menggali sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing wilayah.

Festival tersebut digelar serentak di 14 kemantren pada Senin (31/8/2026), bertepatan dengan Peringatan Hari Keistimewaan DIY. Masyarakat diajak melihat lebih dekat kekayaan budaya yang tumbuh di setiap kemantren di Jogja.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti mengatakan setiap kemantren memiliki karakter serta cerita budaya yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadi modal untuk memperkuat narasi sejarah lokal agar lebih dekat dengan masyarakat.

“Setiap kemantren memiliki cerita dan karakter budaya yang berbeda. Melalui Babad Siti Kemantren, kami ingin memperkuat narasi sejarah dan budaya di setiap wilayah sekaligus mengemasnya melalui storytelling yang menarik dan komunikatif, sehingga sejarah menjadi lebih hidup dan dekat dengan masyarakat,” katanya, Minggu (30/8/2026).

Sejarah Dikemas dalam Jelajah Wilayah

Menurut Yetti, penguatan narasi sejarah lokal dapat menjadi salah satu cara untuk membantu masyarakat mengenali potensi yang ada di wilayahnya. Karena itu, cerita-cerita sejarah tidak hanya disampaikan secara konvensional, tetapi dikemas melalui kegiatan jelajah wilayah atau historical walk dan pameran tematik.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan Festival Babad Siti Kemantren yang memasuki tahun keempat. Sejarah lokal ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman masyarakat dalam mengenali lingkungan dan wilayahnya sendiri.

“Sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai rekam jejak masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan yang dapat dihidupkan kembali dan dimaknai dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini,” jelasnya.

Libatkan Pemerintah hingga Lembaga Pendidikan

Memasuki penyelenggaraan keempat, Babad Siti Kemantren dikembangkan dengan pendekatan pentahelix. Model ini melibatkan pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas budaya, serta lembaga pendidikan.

Yetti mengatakan kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan membuka peluang pengembangan potensi lokal. Bentuknya dapat berupa ekonomi kreatif, produk unggulan, kemitraan maupun pariwisata berbasis pengalaman.

Dengan pendekatan tersebut, festival tidak hanya menjadi agenda pelestarian sejarah dan budaya, tetapi juga ruang untuk mengenali kekuatan yang dimiliki masing-masing wilayah.

Dibuka di Klenteng Poncowinatan

Rangkaian Festival Babad Siti Kemantren #4 secara resmi dibuka di Klenteng Poncowinatan, Kemantren Jetis, Senin (31/8/2026).

Pembukaan festival berlangsung pukul 07.30 WIB hingga 10.00 WIB. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian festival yang digelar serentak di 14 kemantren.

Yetti berharap Babad Siti Kemantren tahun ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan pelestarian budaya. Festival tersebut diharapkan mampu memperkenalkan potensi budaya yang tersebar di setiap wilayah.

Melalui penguatan cerita dan kolaborasi lintas sektor, setiap kemantren diharapkan dapat mengidentifikasi kekuatan wilayahnya dan mengembangkannya secara berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online