HUT Ke-81 RI, Sri Sultan Bicara Makna Kedaulatan dan Kemakmuran

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Selasa, 18 Agustus 2026 04:17 WIB
HUT Ke-81 RI, Sri Sultan Bicara Makna Kedaulatan dan Kemakmuran

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X memimpin Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Agung Jogja, Senin (17/8/2026). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA— Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengajak masyarakat meneguhkan kembali komitmen membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Menurutnya, tiga nilai tersebut bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi laku bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan dalam amanat upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Agung Jogja, Senin (17/8/2026). Ia menilai momentum 81 tahun setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia menjadi saat untuk kembali merawat sekaligus mengisi kemerdekaan melalui pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Tema HUT Ke-81 RI, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, menurut Sri Sultan memiliki makna mendalam karena berakar pada nilai-nilai yang telah lama hidup dalam peradaban Indonesia.

Kedaulatan Berakar pada Sangkan Paraning Dumadi

Sri Sultan menjelaskan makna kedaulatan melalui konsep Sangkan Paraning Dumadi, yakni kesadaran mengenai asal dan tujuan. Nilai tersebut, menurutnya, menuntun bangsa Indonesia agar mampu berdiri di atas kaki sendiri dan tidak mudah goyah menghadapi tekanan zaman.

“Berdaulat, adalah wujud dari sikap Sangkan Paraning Dumadi, kesadaran akan asal dan tujuan, yang menuntun bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri, tidak mudah goyah oleh tekanan zaman,” katanya dalam amanat upacara Peringatan HUT RI ke-81 pada Senin (17/8/2026).

Semangat kedaulatan tersebut juga mencerminkan upaya bangsa Indonesia mempertahankan martabat di tengah berbagai tantangan dan perubahan zaman.

Keadilan Harus Dirasakan hingga Pelosok Kalurahan

Untuk nilai keadilan, Sri Sultan memaknainya sebagai pengejawantahan dari Jumangkah Anjantra Laku Memayu Hayuning Bawana. Konsep tersebut menggambarkan ikhtiar nyata untuk memperindah sekaligus menyejahterakan kehidupan.

Karena itu, pembangunan harus mampu menghadirkan pemerataan. Keadilan, kata Sri Sultan, tidak cukup berhenti sebagai wacana, tetapi harus benar-benar dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.

“Keadilan sejati lahir ketika hasil pembangunan dirasakan merata, dari kota hingga pelosok kalurahan,” ujarnya.

Sementara itu, kemakmuran dimaknai Sri Sultan sebagai buah dari Gemi Nastiti Ngati-ati, yaitu kecermatan dan kehati-hatian dalam mengelola sumber daya.

Pengelolaan sumber daya secara cermat diperlukan agar kesejahteraan yang dibangun tidak hanya bersifat sementara. Kemakmuran, menurutnya, harus memiliki fondasi yang kuat sehingga dapat bertahan dan dinikmati lintas generasi.

Sri Sultan Sebut Cara Jogja Membangun

Sri Sultan menilai kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran merupakan tiga nilai yang tidak dapat dipisahkan. Ketiganya menyatu dalam laku Nitik-Napak-Nanting, yakni mengamati dengan saksama, berpijak pada kenyataan, kemudian bertindak dengan penuh pertimbangan.

“Inilah cara Jogja membangun: tidak tergesa, namun juga tidak berhenti melangkah,” katanya.

Dalam amanatnya, Sri Sultan juga mengingatkan masyarakat bahwa tantangan yang dihadapi saat ini semakin kompleks. Disrupsi teknologi dan persaingan global yang semakin tajam menjadi bagian dari tantangan tersebut.

Dalam situasi itu, semangat Eling lan Waspada dinilai perlu menjadi kompas. Nilai tersebut diperlukan agar upaya menjaga kedaulatan tidak lengah, keadilan tidak luntur, dan kemakmuran tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang masih tertinggal.

Sri Sultan kemudian mengajak masyarakat DIY meneguhkan kembali komitmen membangun daerah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari cita-cita besar Indonesia.

“Marilah kita teguhkan kembali komitmen membangun DIY sebagai bagian utuh dari cita-cita besar Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online