Tradisi Maulid Nabi di Indonesia, dari Gorontalo hingga Kebumen

Jumali
Jumali Senin, 24 Agustus 2026 20:27 WIB
Tradisi Maulid Nabi di Indonesia, dari Gorontalo hingga Kebumen

Warga berebut sisa-sisa gunungan di halaman masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Rabu (21/11/2018)./Galih Yoga Wicaksono.

Harianjogja.com, JOGJA—Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia memiliki bentuk yang berbeda-beda di setiap daerah. Selain pengajian, selawat, dan doa bersama, masyarakat di berbagai wilayah mempertahankan tradisi lokal seperti Walimah di Gorontalo, Sekaten di Jawa, Baayun Maulid di Kalimantan Selatan, hingga Kirab Ampyang di Jawa Tengah.

Keragaman itu terlihat dari cara masyarakat mengisi peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada yang menggunakan gamelan, membacakan syair, mengarak makanan, mengayun anak, memainkan alat musik tradisional, hingga membawa makanan untuk kemudian dibagikan kepada warga.

Berbagai tradisi tersebut tersebar dari Sabang sampai Merauke dan menjadi bagian dari kegiatan masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi. Bentuknya tidak seragam karena setiap daerah memiliki kebiasaan serta warisan budaya yang berbeda.

Walimah di Gorontalo

Salah satu tradisi Maulid Nabi yang memiliki sejarah panjang terdapat di Gorontalo. Tradisi yang dikenal dengan nama Walimah itu diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-17, seiring dengan masuknya Islam di Gorontalo, menurut Kementerian Agama.

Walimah merupakan perayaan komunal yang berpusat di masjid. Rangkaian kegiatannya mencakup zikir, pembacaan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, arak-arakan makanan, serta kegiatan berbagi antarwarga.

Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, menjadi salah satu pusat pelaksanaan tradisi tersebut. Masyarakat setempat tidak hanya menempatkan Walimah sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

Prosesi Walimah biasanya diawali dengan Dikili. Tradisi lisan itu dilakukan di masjid dengan rangkaian selawat, pujian kepada Nabi Muhammad SAW, serta kisah mengenai kelahiran dan kenabian beliau.

Masyarakat kemudian membawa Toyopo, yaitu wadah anyaman dari janur yang diisi berbagai makanan. Selain itu, terdapat Tolangga yang berbentuk seperti menara, masjid, atau perahu dan dihiasi dengan makanan tradisional Gorontalo.

Bentuk Tolangga memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat Gorontalo yang banyak berprofesi sebagai nelayan.

Sekaten dan Grebeg Maulud di Jawa

Di Jawa, salah satu tradisi yang sangat lekat dengan Maulid Nabi ialah Sekaten. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjelaskan Sekaten sebagai tradisi untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam rangkaian Sekaten, gamelan ditabuh selama enam hari. Pertunjukan gamelan berlangsung di Bangsal Pradangga yang berada di sisi selatan Masjid Agung dan Bangsal Pragangga di sisi utara Masjid Agung.

Tabuhan gamelan tidak berlangsung tanpa jeda. Gamelan hanya berhenti menjelang waktu salat dan setiap malam Jumat sehingga menghadirkan suasana khas di lingkungan keraton.

Puncak rangkaian Sekaten berlangsung pada hari ketujuh melalui Grebeg Maulud. Dalam prosesi itu, dua pasang gunungan yang berisi hasil bumi dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Kagungan Dalem Masjid Ageng Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Setelah didoakan, gunungan tersebut diperebutkan oleh warga. Prosesi itu menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian peringatan Maulid Nabi di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.

Baayun Maulid di Kalimantan Selatan

Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan memiliki cara lain untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW melalui Baayun Maulid. Dalam tradisi ini, bayi atau anak diayun sembari diiringi pembacaan syair Maulid.

Baayun Maulid menjadi ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus doa bagi anak agar tumbuh sehat dan memperoleh keberkahan. Pelaksanaannya juga melibatkan keluarga serta masyarakat sekitar.

Tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan bagi masyarakat Banjar. Pelaksanaannya juga menjadi bagian dari kegiatan bersama yang mempertemukan keluarga dan warga dalam peringatan Maulid Nabi.

Gerantung Mengiringi Maulid di Lombok Utara

Di Dasan Beleq, Lombok Utara, peringatan Maulid Nabi memiliki bunyi khas dari alat musik tradisional bernama gerantung. Alat musik itu merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat dalam mengisi perayaan.

Gerantung termasuk alat musik tradisional suku Dayak dan masuk jenis idiofon. Alat musik tersebut dibuat dari campuran logam, antara lain besi, kuningan, dan perunggu.

Dalam perayaan Maulid Nabi, gerantung dibunyikan selama lebih dari 24 jam hingga pergantian 12 Rabiulawal. Bunyi alat musik itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan yang berlangsung di masyarakat setempat.

Molodhan atau Muluduan di Madura

Di Madura, masyarakat mengenal tradisi Molodhan atau Muluduan sebagai salah satu bentuk peringatan Maulid Nabi. Salah satu ciri yang terlihat dalam tradisi tersebut adalah penyajian buah-buahan.

Buah-buahan itu ditusukkan pada lidi atau bambu. Setelah itu, buah disusun hingga menyerupai tumpeng dan menjadi bagian dari perayaan.

Penyajian makanan dalam tradisi Molodhan atau Muluduan menjadi bagian dari ungkapan syukur serta kegembiraan masyarakat ketika memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kirab Ampyang di Jawa Tengah

Tradisi lain muncul di Desa Loram Kulon, Kudus, Jawa Tengah, melalui Kirab Ampyang. Dalam prosesi ini, masyarakat mengarak makanan yang dihias menggunakan ampyang, nasi, dan kerupuk mengelilingi desa.

Setelah arak-arakan selesai, makanan tersebut dibagikan kepada warga. Prosesi itu menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW secara bersama-sama.

Kirab Ampyang mempertemukan kegiatan peringatan keagamaan dengan aktivitas masyarakat desa. Makanan yang diarak kemudian dibagikan sehingga warga terlibat dalam rangkaian perayaan.

Maudu di Kabupaten Gowa

Di Desa Rappolemba, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, masyarakat memiliki tradisi Maudu. Salah satu bagian yang mudah dikenali dari tradisi tersebut ialah telur yang ditempatkan pada pohon pisang.

Telur itu dihias menggunakan kertas berbentuk bunga. Dalam pelaksanaannya, anak-anak mengambil telur tersebut sembari membacakan syair Barazanji.

Keterlibatan anak-anak menjadi bagian dari pelaksanaan Maudu di tengah masyarakat setempat. Tradisi ini sekaligus menghadirkan aktivitas peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang melibatkan generasi muda.

Rolasan di Kebumen

Di Desa Pejengkolan, Kabupaten Kebumen, warga memiliki tradisi Rolasan yang dilaksanakan setiap 12 Rabiulawal. Masyarakat berkumpul sambil membawa berbagai makanan tradisional.

Makanan yang dibawa antara lain nasi gilig, ayam panggang, opak, dan pisang. Berbagai hidangan tersebut menjadi bagian dari kegiatan warga dalam memperingati Maulid Nabi.

Rolasan juga menjadi kegiatan yang mempertemukan warga di lingkungan pedesaan. Dalam pelaksanaannya terdapat unsur gotong royong, kekompakan, dan kebersamaan masyarakat.

Tradisi Berbeda, Perayaan Maulid Tetap Beragam

Rangkaian tradisi tersebut memperlihatkan beragam cara masyarakat Indonesia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Walimah di Gorontalo menampilkan Dikili, Toyopo, dan Tolangga, sedangkan Sekaten di Jawa menghadirkan gamelan dan Grebeg Maulud.

Di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar menjalankan Baayun Maulid dengan mengayun bayi atau anak sembari membaca syair Maulid. Sementara itu, gerantung menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi di Dasan Beleq, Lombok Utara.

Masyarakat Madura menghadirkan Molodhan atau Muluduan dengan susunan buah-buahan berbentuk tumpeng. Di Jawa Tengah terdapat Kirab Ampyang dengan arak-arakan makanan, sedangkan masyarakat di Desa Rappolemba, Kabupaten Gowa, menjalankan Maudu dengan telur yang ditempatkan pada pohon pisang dan dihias.

Adapun warga di Desa Pejengkolan, Kabupaten Kebumen, memperingati 12 Rabiulawal melalui Rolasan dengan membawa makanan tradisional seperti nasi gilig, ayam panggang, opak, dan pisang.

Bentuk perayaan yang berbeda-beda itu memperlihatkan bahwa peringatan Maulid Nabi di berbagai daerah memiliki ciri khas masing-masing. Musik, makanan, syair, arak-arakan, doa, serta kegiatan berkumpul menjadi bagian dari tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Pelaksanaan tradisi juga melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Anak-anak terlibat dalam Maudu di Kabupaten Gowa, keluarga dan masyarakat mengikuti Baayun Maulid di Kalimantan Selatan, sedangkan warga bersama-sama mengikuti arak-arakan dan pembagian makanan dalam tradisi Walimah serta Kirab Ampyang.

Keberadaan tradisi-tradisi itu membuat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak hanya berlangsung dalam satu bentuk. Setiap daerah menghadirkan cara masing-masing untuk memperingati kelahiran Nabi, dengan tetap mempertahankan unsur budaya yang hidup di masyarakat setempat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online