Trotoar Jogja Diperbaiki, Guiding Block Dipastikan Ramah Difabel

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Jum'at, 28 Agustus 2026 15:17 WIB
Trotoar Jogja Diperbaiki, Guiding Block Dipastikan Ramah Difabel

Jalur pedestrian Malioboro, Jogja./Harian Jogja-Maya Herawati

Harianjogja.com, JOGJA— Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja terus membenahi trotoar secara bertahap untuk memperbaiki akses pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas netra. Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja memastikan trotoar yang diperbaiki dan memiliki ruang memadai untuk pejalan kaki akan dilengkapi guiding block.

Kepala DPUPKP Kota Jogja Umi Akhsanti mengatakan penataan trotoar pada tahun ini dilakukan di sejumlah titik, termasuk Jalan Sultan Agung dan kawasan Kotabaru.

Meski demikian, penataan belum dapat dilakukan di seluruh wilayah secara bersamaan. Pekerjaan dilakukan bertahap karena keterbatasan pelaksanaan.

“Untuk tahun ini kami ada penataan di Jalan Sultan Agung sama di kawasan Kotabaru. Memang tahun ini tidak bisa banyak untuk trotoar, bertahap, tapi kami tetap berprogres,” katanya, Jumat (28/8/2026).

Perbaikan Tak Hanya Lewat Proyek Konstruksi

Perbaikan trotoar di Jogja tidak seluruhnya dilakukan melalui pekerjaan konstruksi. DPUPKP juga mengerjakannya secara swakelola dengan memanfaatkan tenaga yang dimiliki dinas.

Metode tersebut terutama digunakan untuk menangani kerusakan ringan hingga pemasangan guiding block pada trotoar yang membutuhkan perbaikan.

Umi menegaskan guiding block menjadi bagian yang diupayakan hadir dalam setiap trotoar yang diperbaiki, selama tersedia ruang yang memungkinkan untuk aktivitas pejalan kaki.

“Selama ini kalau ada perbaikan langsung sekaligus kita pasang guiding block-nya semua. Kecuali memang lokasinya tidak memungkinkan karena kecil sekali. Kalau bisa untuk jalan kaki, mesti ada guiding block-nya,” ujarnya.

Guiding Block Kerap Tertutup Aktivitas Warga

Di sisi lain, pemanfaatan trotoar masih menjadi tantangan. Umi menyebut guiding block terkadang tertutup aktivitas pedagang, digunakan untuk parkir, atau dijadikan tempat menaruh barang.

Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi trotoar sekaligus menyulitkan penyandang disabilitas netra yang mengandalkan guiding block sebagai jalur pemandu.

Menurut Umi, masih ada masyarakat yang belum memahami fungsi fasilitas tersebut. Sebagian hanya melihat guiding block sebagai tegel berwarna kuning, tanpa mengetahui bahwa fasilitas itu dirancang sebagai jalur pemandu bagi penyandang tunanetra.

“Ini bukan hanya pemerintah, tapi PR bersama untuk mengkampanyekan bahwa guiding block itu fungsinya adalah untuk pemandu bagi teman-teman tunanetra. Supaya masyarakat juga tidak seenaknya meletakkan sesuatu di atas guiding block,” jelasnya.

Guiding Block Aluminium Pernah Dicuri

Persoalan lain yang pernah dihadapi adalah kerusakan dan hilangnya material guiding block. Umi mengatakan sekitar 2020, sejumlah guiding block berbahan aluminium sempat dicuri karena memiliki nilai jual.

Material tersebut kemudian diganti dengan tegel. Menurut Umi, penggunaan tegel dinilai lebih aman karena tidak memiliki nilai jual seperti material aluminium yang sebelumnya digunakan.

“Awal-awal kami sempat menggunakan material aluminium, tapi ternyata malah hilang diambil satu-satu untuk dijual. Sekarang kami sudah mengganti material, semua menggunakan tegel. Kalau tegel kan enggak mungkin diambil untuk dijual,” katanya.

Warga Diminta Segera Laporkan Trotoar Rusak

Umi juga mengajak masyarakat ikut menjaga fasilitas pedestrian yang telah dibangun Pemkot Jogja. Menurutnya, menjaga fasilitas publik tidak berarti masyarakat harus memperbaiki kerusakan sendiri.

Masyarakat dapat melaporkan guiding block maupun bagian trotoar yang rusak kepada DPUPKP Kota Jogja dan Pemkot Jogja melalui kanal pengaduan yang tersedia.

Laporan sedini mungkin dinilai dapat mencegah kerusakan berkembang menjadi lebih parah. Guiding block yang baru terlepas pada satu bagian, misalnya, dapat segera diperbaiki sebelum kerusakan meluas akibat air atau aktivitas pejalan kaki.

“Kalau baru lepas satu kemudian mereka melapor, kami bisa memperbaiki satu. Kerusakannya tidak semakin parah. Tapi kalau rusak satu tidak ada yang lapor dan kami tidak tahu, nanti kena air, kesandung, akhirnya rusaknya jadi dua, tiga,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online