2 Pelaku Pembacokan Petugas TPR Parangtritis Ditangkap, Ini Motifnya
Polisi menangkap dua pelaku pembacokan petugas TPR Parangtritis di Bantul. Aksi tersebut dipicu kesalahpahaman terkait hilangnya alat pancing setelah kecelakaan
Foto ilustrasi sakit tenggorokan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering tahun ini mulai menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul. Selain berpotensi memicu krisis air bersih, kondisi cuaca ekstrem tersebut juga meningkatkan risiko berbagai penyakit yang muncul saat suhu meningkat dan lingkungan dipenuhi debu.
Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widiyantara, menyebut pihaknya telah meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Bantul untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat. Langkah ini dinilai penting agar warga lebih siap menghadapi dampak kesehatan selama musim kemarau.
“Fasyankes wajib melaksanakan sosialisasi, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) secara masif melalui media sosial,” ujar Agus, Jumat (12/6).
Ia menegaskan, edukasi kesehatan perlu dilakukan sejak dini agar masyarakat memahami risiko yang muncul akibat perubahan cuaca ekstrem. Penyebaran informasi dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk media sosial, agar lebih mudah menjangkau masyarakat luas.
Risiko kesehatan meningkat saat kemarau
Agus menjelaskan, sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai selama musim kemarau antara lain dehidrasi, penyakit tular vektor, gangguan pencernaan, masalah gizi, hingga gangguan pernapasan akibat paparan debu dan polusi udara.
“Supaya masyarakat terlindungi dari risiko dehidrasi, penyakit tular vektor, gangguan pencernaan, gangguan gizi serta gangguan pernapasan akibat polusi debu/asap,” katanya.
Menurutnya, penyakit yang paling sering muncul saat musim kemarau adalah influenza dan iritasi mata. Kondisi ini umumnya dipicu tingginya debu dari tanah kering yang mudah beterbangan dan masuk ke saluran pernapasan atau mengenai mata.
Kelompok anak-anak menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Karena itu, orang tua diminta lebih waspada dan segera mengambil tindakan jika anak menunjukkan gejala sakit.
“Terutama pada anak harus lebih diwaspadai, orang tua harus ekstra memperhatikan kondisi anaknya,” ujarnya.
Imbauan PHBS dan penggunaan masker
Selain edukasi, Dinkes Bantul juga mengingatkan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah sederhana seperti menggunakan air bersih, mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengonsumsi makanan bergizi dinilai efektif menekan risiko penyakit selama kemarau.
Masyarakat juga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara berdebu atau saat mengalami gangguan pernapasan.
“Asupan cairan penting untuk mencegah dehidrasi karena cuaca panas yang berlebih dan pemenuhan gizi seimbang dengan vitamin-mineral,” jelas Agus.
Dinkes Bantul berharap berbagai langkah pencegahan ini dapat membantu masyarakat tetap sehat selama musim kemarau dan mengurangi potensi lonjakan penyakit yang dipicu cuaca kering berkepanjangan di wilayah Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polisi menangkap dua pelaku pembacokan petugas TPR Parangtritis di Bantul. Aksi tersebut dipicu kesalahpahaman terkait hilangnya alat pancing setelah kecelakaan
Juara Piala Dunia ternyata tidak bisa membawa pulang trofi asli. FIFA hanya memberikan replika resmi, sementara trofi asli tetap disimpan di Swiss.
Pemkab Bantul akan menerapkan pajak restoran dan kafe sebesar 10 persen mulai September 2026. Pelaku usaha masih dalam tahap pendataan.
Sensus Ekonomi 2026 mulai digelar di Batang. Sebanyak 825 petugas mendata seluruh usaha dan rumah tangga untuk dasar pembangunan 10 tahun ke depan.
Kimi Antonelli, 19, dominasi F1 2026 dengan 5 kemenangan dari 6 balapan, unggul 66 poin. Russell tertinggal, Hamilton mendekat. Alonso dan Verstappen puji talen
Ronaldo dan Messi jadi miliarder aktif pertama di Piala Dunia 2026. 11 pemain top dunia kantongi Rp15,4 triliun menurut Forbes.