Proyek Rp20 Miliar di Modalan Dikebut untuk Kurangi Penumpukan Sampah
TPST Modalan Bantul segera ditingkatkan melalui proyek hampir Rp20 miliar. Kapasitas pengolahan sampah ditargetkan naik menjadi 60 ton per hari.
Foto ilustrasi sakit tenggorokan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering tahun ini mulai menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul. Selain berpotensi memicu krisis air bersih, kondisi cuaca ekstrem tersebut juga meningkatkan risiko berbagai penyakit yang muncul saat suhu meningkat dan lingkungan dipenuhi debu.
Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widiyantara, menyebut pihaknya telah meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Bantul untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat. Langkah ini dinilai penting agar warga lebih siap menghadapi dampak kesehatan selama musim kemarau.
“Fasyankes wajib melaksanakan sosialisasi, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) secara masif melalui media sosial,” ujar Agus, Jumat (12/6).
Ia menegaskan, edukasi kesehatan perlu dilakukan sejak dini agar masyarakat memahami risiko yang muncul akibat perubahan cuaca ekstrem. Penyebaran informasi dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk media sosial, agar lebih mudah menjangkau masyarakat luas.
Risiko kesehatan meningkat saat kemarau
Agus menjelaskan, sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai selama musim kemarau antara lain dehidrasi, penyakit tular vektor, gangguan pencernaan, masalah gizi, hingga gangguan pernapasan akibat paparan debu dan polusi udara.
“Supaya masyarakat terlindungi dari risiko dehidrasi, penyakit tular vektor, gangguan pencernaan, gangguan gizi serta gangguan pernapasan akibat polusi debu/asap,” katanya.
Menurutnya, penyakit yang paling sering muncul saat musim kemarau adalah influenza dan iritasi mata. Kondisi ini umumnya dipicu tingginya debu dari tanah kering yang mudah beterbangan dan masuk ke saluran pernapasan atau mengenai mata.
Kelompok anak-anak menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Karena itu, orang tua diminta lebih waspada dan segera mengambil tindakan jika anak menunjukkan gejala sakit.
“Terutama pada anak harus lebih diwaspadai, orang tua harus ekstra memperhatikan kondisi anaknya,” ujarnya.
Imbauan PHBS dan penggunaan masker
Selain edukasi, Dinkes Bantul juga mengingatkan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah sederhana seperti menggunakan air bersih, mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengonsumsi makanan bergizi dinilai efektif menekan risiko penyakit selama kemarau.
Masyarakat juga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara berdebu atau saat mengalami gangguan pernapasan.
“Asupan cairan penting untuk mencegah dehidrasi karena cuaca panas yang berlebih dan pemenuhan gizi seimbang dengan vitamin-mineral,” jelas Agus.
Dinkes Bantul berharap berbagai langkah pencegahan ini dapat membantu masyarakat tetap sehat selama musim kemarau dan mengurangi potensi lonjakan penyakit yang dipicu cuaca kering berkepanjangan di wilayah Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TPST Modalan Bantul segera ditingkatkan melalui proyek hampir Rp20 miliar. Kapasitas pengolahan sampah ditargetkan naik menjadi 60 ton per hari.
KA Bandara YIA PSO melayani 865.187 penumpang sepanjang Januari-Juni 2026, didukung konektivitas antarmoda yang semakin terintegrasi.
Indonesia bertekad menjadi negara industri modern. Proyek LNG Abadi Masela dinilai penting untuk hilirisasi dan ketahanan energi.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa bertemu Sri Sultan HB X di Jogja, meresmikan program becak listrik dan menanggapi usulan tambahan anggaran IKN.
PBB dan IOM menyebut lebih dari 500 orang, mayoritas Rohingya, diduga tewas setelah dua kapal dilaporkan tenggelam di Myanmar.
Dewi Mlayu Deso 2026 digelar di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, menghadirkan sport tourism, fun run, fun walk.