Perajin Jamu Kiringan Bantul Didorong Garap Pasar Lebih Luas

Newswire
Newswire Rabu, 08 Juli 2026 18:22 WIB
Perajin Jamu Kiringan Bantul Didorong Garap Pasar Lebih Luas

UNU Jogja mendampingi perajin Desa Wisata Jamu Kiringan Bantul mengembangkan produk herbal berbasis TOGA melalui inovasi, hilirisasi, dan branding. /Istimewa.

Harianjogja.com, BANTUL—Potensi industri jamu nasional dinilai masih jauh dari optimal meski Indonesia memiliki lebih dari 19.000 jenis tanaman obat berkhasiat. Untuk meningkatkan nilai tambah produk herbal lokal, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta menggulirkan program di Desa Wisata Jamu Kiringan, Kalurahan Canden, Kapanewon Jetis, Bantul.

Program tersebut diarahkan untuk mendampingi para perajin jamu agar mampu mengembangkan produk berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi produk yang lebih inovatif, memiliki daya simpan lebih panjang, serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Potensi Besar Industri Jamu Belum Tergarap Optimal

Indonesia memiliki kekayaan hayati berupa lebih dari 19.000 jenis tanaman obat yang berpotensi dikembangkan menjadi jamu maupun obat herbal siap konsumsi. Namun, pemanfaatannya masih relatif terbatas.

Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), industri jamu nasional memiliki nilai ekonomi sekitar Rp1,2 triliun per tahun. Di sisi lain, tren gaya hidup sehat (wellness) di tingkat global diperkirakan memiliki nilai pasar hingga Rp350 triliun setiap tahun. Meski demikian, Indonesia baru menguasai sekitar dua persen dari pasar tersebut.

Melihat peluang itu, akademisi memilih mendampingi perajin jamu di Desa Kiringan yang telah lama dikenal sebagai sentra jamu tradisional di DIY.

Desa Wisata Jamu Kiringan Miliki Warisan Sejak 1950-an

Desa Kiringan telah dikenal sebagai Desa Wisata Jamu sejak era 1950-an. Tradisi meracik jamu berbahan TOGA diwariskan secara turun-temurun hingga melahirkan ratusan perajin dan penjual jamu gendong yang masih mempertahankan tradisi tersebut.

Meski memiliki potensi besar, para pelaku usaha menghadapi sejumlah tantangan. Produk yang dipasarkan masih didominasi jamu segar dengan masa simpan yang relatif singkat, variasi produk terbatas, serta pemasaran yang masih mengandalkan metode konvensional sehingga jangkauan pasar belum optimal.

Dosen Program Studi Agribisnis UNU Jogja, Nur Saudah Al Arifa D, mengatakan program tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuat identitas Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai destinasi wisata kesehatan berbasis kearifan lokal.

"Melalui program ini, kami berupaya mengembangkan produk jamu tradisional menjadi produk bernilai tambah yang lebih tinggi sekaligus memperkuat identitas Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai destinasi wisata kesehatan berbasis kearifan lokal," kata Nur Saudah Al Arifa D dalam keterangan, Rabu (1/7/2026).

Program tersebut dijalankan bersama dosen Fakultas Industri Halal UNU Jogja, Ertha Martha Intani dan Fitri Andriani Fatimah. Tahap awal dimulai melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 20 anggota Kelompok Jamu Gendong "Marguna" di Kiringan.

Kembangkan Produk hingga Perkuat Branding

Dalam FGD tersebut, tim pengabdian mengidentifikasi berbagai kebutuhan pelaku usaha. Pendampingan kemudian diarahkan pada pengembangan produk herbal dalam bentuk yang lebih praktis, penyempurnaan desain kemasan, penguatan manajemen keuangan usaha, hingga strategi pemasaran digital dan branding.

"Kami melihat bahwa masyarakat sebenarnya memiliki pengetahuan yang kuat mengenai jamu tradisional. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah tanpa meninggalkan identitas lokal,” katanya.

Pendekatan partisipatif dalam diskusi juga menghasilkan sejumlah program prioritas yang akan dijalankan bersama para perajin.

Siapkan Pelatihan bagi Perajin Jamu

Dalam beberapa bulan mendatang, anggota Kelompok Jamu Gendong "Marguna" akan mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari pembuatan jamu serbuk instan, inovasi wedang uwuh celup, budidaya TOGA, manajemen bisnis, hingga strategi branding yang menyasar konsumen generasi muda.

Ia berharap kolaborasi tersebut tidak hanya menghasilkan produk herbal baru, tetapi juga membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat yang memadukan riset, inovasi, dan kewirausahaan berbasis potensi lokal.

"Dengan mengombinasikan pendekatan ilmiah dan kearifan lokal dalam pengolahan jamu tradisional, program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha sekaligus mendukung keberlanjutan Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai destinasi wisata berbasis herbal," pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online