Pameran Art in Focus Angkat Tren Kartu Pos, Hadirkan 120 Karya

Sunartono
Sunartono Senin, 13 Juli 2026 22:27 WIB
Pameran Art in Focus Angkat Tren Kartu Pos, Hadirkan 120 Karya

Pameran Art in Focus di Kavach Space menampilkan sekitar 120 karya dari 70 seniman lintas negara melalui medium kartu pos hingga 31 Agustus 2026. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Rangkaian Lebaran Seni di Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi baru bagi para pencinta seni. Kali ini, Kavach Space Jalan Kaliurang menjadi tuan rumah pameran Art in Focus bertema Sight, Space & Stories yang berlangsung mulai 13 Juli hingga 31 Agustus 2026, menghadirkan sekitar 120 karya dari 70 seniman lintas disiplin, termasuk sejumlah perupa dari luar negeri.

Mengusung medium kartu pos (postcard), pameran ini menawarkan pengalaman menikmati karya seni dalam format yang lebih personal. Berbagai karya dipamerkan menyatu dengan ruang ritel bergaya modern sehingga menghadirkan suasana berbeda dibanding galeri seni pada umumnya.

Seni Lebih Dekat

Creative Director Kavach sekaligus kurator pameran, Antino Restu, mengatakan penggunaan media berukuran kartu pos merupakan upaya memperluas partisipasi seniman sekaligus menghadirkan suasana pameran yang lebih intim.

"Dalam pameran ini, kami memilih untuk mengangkat media seukuran kartu pos. Alasan pemilihan media ini adalah agar dapat melibatkan lebih banyak seniman. Selain itu, suasananya terasa lebih intim saat dihadirkan dalam satu ruangan yang membaur [blend] dengan merek kacamata di toko ini," ujar Antino saat ditemui di lokasi pameran, Senin (13/7/2026).

Sebanyak 70 seniman ambil bagian dalam pameran tersebut. Beberapa di antaranya berasal dari luar Indonesia, termasuk dari Benua Afrika. Karya yang dipamerkan terdiri atas berbagai medium, mulai dari art print, lukisan tangan, kolase, hingga fotografi digital.

Karya Bisa Langsung Dibawa Pulang

Berbeda dengan pameran konvensional, pengunjung yang membeli karya dapat langsung membawanya melalui sistem hand carry. Menurut Antino, apabila sebuah karya terjual, penyelenggara akan meminta seniman terkait mengirim karya baru untuk mengisi ruang pameran.

"Jika ada karya seniman yang laku terjual, kami akan langsung menghubungi seniman yang bersangkutan untuk mengisi kembali [restock] ruang pameran dengan karya baru," tambah Antino.

Dalam proses kurasi, penyelenggara menerapkan sistem open call dan invited artists. Meski memberikan kebebasan berekspresi, seluruh karya tetap harus memenuhi ketentuan bebas dari unsur SARA.

Ruang Ritel dan Seni

Antino menilai pameran ini menjadi contoh bagaimana ruang komersial dapat berkembang sebagai ruang kreatif tanpa menghilangkan fungsi utamanya.

Melalui salah satu merek kacamata, Kavach Space ingin membangun ekosistem yang tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga menjadi wadah bagi perkembangan seni rupa kontemporer.

"Kami tidak hanya mengambil konten atau sekadar merilis produk saja dengan seniman, tetapi benar-benar menghadirkan pergerakan seni yang nyata di dalam toko," jelasnya.

Sejumlah nama yang ikut terlibat antara lain Kinobi dari Jakarta yang sebelumnya berkolaborasi dengan Cool Uncle. Selain itu, Apeng Calter juga dijadwalkan merilis proyek kolaborasi baru dalam waktu dekat.

Kartu Pos Kembali Diminati

Dosen, kurator, sekaligus seniman visual Indonesia, Arsita Pinandita, menilai medium kartu pos kembali mendapat tempat di kalangan anak muda, seiring meningkatnya minat terhadap berbagai media analog.

Menurutnya, fenomena tersebut serupa dengan kembalinya popularitas kaset, piringan hitam (vinyl), maupun kamera analog sebagai bagian dari gaya hidup.

"Kartu pos sebenarnya merupakan sebuah medium yang sangat intim dan dekat. Pameran ini hadir sebagai wadah untuk merayakan anak muda hari ini yang selalu menciptakan tren. Seperti halnya kaset, piringan hitam [vinyl], dan kamera analog yang kembali diminati, kartu pos kini diadopsi menjadi medium personal mereka," kata Arsita.

Ia menilai karya-karya yang dipamerkan menghadirkan representasi keseharian secara jujur dengan pendekatan visual yang lebih cair, berpadu dengan unsur fashion dan lifestyle.

Tren Art Print

Antino juga melihat semakin banyak seniman muda mulai mengembangkan karya dalam bentuk art print berseri. Melalui teknik digital, silk screen (sablon), hingga lithography, karya tidak lagi diproduksi sebagai karya tunggal, tetapi dalam edisi terbatas sekitar lima hingga sepuluh cetakan.

Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan perkembangan industri fashion modern yang mengedepankan produksi terbatas tanpa mengurangi nilai artistik sebuah karya.

Pameran Art in Focus dapat dikunjungi hingga 31 Agustus 2026, memberikan kesempatan bagi masyarakat dan pencinta seni menikmati karya visual yang menjadi bagian dari semarak Lebaran Seni di Yogyakarta.

Salah satu seniman yang ambil bagian dalam pameran Art in Focus adalah Sony. Melalui karya berjudul Need More Sunday, ia mengangkat kegelisahan yang akrab dirasakan banyak orang dewasa, yakni kerinduan terhadap waktu istirahat yang terasa semakin singkat di tengah rutinitas.

Menurut Sony, karya tersebut lahir dari refleksi pribadinya mengenai perubahan makna hari Minggu sejak masa kecil hingga dewasa. Jika dahulu hari libur identik dengan kebebasan bermain dan menikmati hiburan tanpa beban, kini hari tersebut justru terasa tidak lagi cukup untuk memulihkan energi.

Refleksi itu kemudian diterjemahkan ke dalam visual yang dipenuhi nuansa nostalgia. Sony menghadirkan sejumlah karakter yang mewarnai masa kecilnya, seperti Kamen Rider, Speed Racer, Voltus, hingga ikon MTV yang dahulu rutin ia saksikan.

Meski tampil dalam format kartu pos pada pameran Art in Focus, karya tersebut sejatinya merupakan reproduksi dari lukisan asli bermedium oil on canvas berukuran 40 x 60 sentimeter.

Lukisan orisinal itu telah lebih dahulu terjual kepada kolektor di Bali. Namun karena dinilai sangat sesuai dengan konsep pameran yang mengusung medium kartu pos, Sony memutuskan menghadirkannya kembali dalam versi postcard.

Ia mengungkapkan proses pengerjaan lukisan asli membutuhkan waktu sekitar lebih dari satu pekan. Ide yang mengalir deras membuat proses kreatif berlangsung intens hingga karya tersebut selesai.

"Aku ikutkan lagi karena temanya cocok menurutku, dan aku angkat lagi jadiin postcard. Dan itu ternyata sama menariknya dibanding sama lukisannya," imbuh Sony.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online