Debut Inacraft di Jogja, Targetkan Rp8 Miliar dan 25.000 Pengunjung

Newswire
Newswire Selasa, 14 Juli 2026 22:57 WIB
Debut Inacraft di Jogja, Targetkan Rp8 Miliar dan 25.000 Pengunjung

Inacraft 2026 digelar di JEC pada 15-19 Juli dengan target 25.000 pengunjung, transaksi Rp8 miliar, dan kontrak bisnis global. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, Inacraft 2026 digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada 15-19 Juli 2026. Untuk pertama kalinya, ajang yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) itu tidak berlangsung di Jakarta.

Jogja dipilih sebagai tuan rumah dengan konsep festival yang memadukan pameran produk, budaya, dan aktivitas kreatif guna menarik lebih banyak pengunjung sekaligus membuka peluang kontrak bisnis jangka panjang bagi para perajin.

Ketua Umum ASEPHI, Muchsin Ridjan, mengatakan penyelenggaraan Inacraft di Jogja diharapkan mampu memperkuat daya saing produk kerajinan Indonesia. Pada penyelenggaraan perdana di Kota Gudeg ini, panitia menargetkan sedikitnya 25.000 pengunjung serta nilai transaksi ritel mencapai Rp8 miliar selama lima hari pameran.

"Target pertama kami itu 25.000 pengunjung. Kami yakin jumlah ini bisa terus meningkat dan mendongkrak omzet para pelaku UKM. Untuk target penjualan retail sendiri, kami membidik angka Rp8 miliar selama lima hari pameran," ujar Muchsin dikutip Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, Inacraft bukan sekadar pameran produk kerajinan, tetapi juga menjadi ruang bagi para pelaku usaha untuk memperluas jaringan bisnis melalui pertemuan dengan pembeli potensial dari dalam maupun luar negeri.

Jogja Dipilih Beri Pengalaman Baru bagi Buyer

Wakil Ketua Umum II ASEPHI, Baby Jurmawati, menjelaskan pemindahan lokasi penyelenggaraan ke Jogja dilakukan untuk menghadirkan pengalaman baru bagi para buyer internasional. Selama ini, pameran yang rutin digelar di Jakarta dinilai mulai terasa monoton bagi sebagian pelaku bisnis mancanegara.

Menurut Baby, Jogja memiliki nilai lebih karena dikenal sebagai pusat budaya sekaligus memiliki banyak sentra kerajinan yang dapat dikunjungi langsung oleh para pembeli.

"Tahun ini tercatat ada 10 negara yang ikut berpartisipasi dalam paviliun internasional, di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Uzbekistan, Australia, India, Jepang hingga Inggris. Delegasi Thailand bahkan membawa langsung sekitar 30 buyer dan visitor ke Jogja," katanya.

Meski sejumlah pembeli dari Timur Tengah membatalkan kedatangan akibat kendala penerbangan yang dipicu situasi geopolitik global, antusiasme peserta dari kawasan Asia Pasifik tetap tinggi.

ASEPHI menegaskan fokus utama penyelenggaraan bukan hanya mengejar transaksi langsung selama pameran, melainkan mendorong lahirnya kontrak kerja sama jangka panjang melalui skema business-to-business (B2B).

"Melalui jaringan global kami di World Craft Council dan AHPADA, kami optimistis kerja sama ini akan terus berlanjut," ujar Baby.

Konsep Festival dan Regenerasi Perajin Muda

Project Officer Inacraft 2026, Emrita Pratiwi, mengatakan penyelenggaraan tahun ini mengusung konsep festival agar memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pameran dagang konvensional.

Selain menghadirkan ratusan stan produk, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kegiatan interaktif seperti craft talk, fashion show, workshop membatik, hingga pelatihan kerajinan berbasis keberlanjutan atau sustainability craft.

Inacraft 2026 diikuti sekitar 250 eksibitor yang menampilkan beragam produk, mulai dari wastra, kerajinan tangan, aksesori, hingga furnitur. Panitia juga menyediakan ruang khusus bagi sekitar 15 pelaku usaha muda untuk memperkenalkan karya mereka kepada pasar internasional sebagai bagian dari regenerasi perajin Indonesia.

"Kami menyediakan area khusus bagi anak-anak muda agar berani mempromosikan produknya secara mandiri di ajang internasional. Ini menjadi langkah penting untuk regenerasi setelah 27 tahun perjalanan Inacraft," kata Emrita.

Inacraft 2026 terbuka untuk masyarakat hingga Minggu (19/7/2026) di Jogja Expo Center (JEC). Penyelenggara berharap ajang ini tidak hanya meningkatkan transaksi ekonomi kreatif, tetapi juga memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat industri kerajinan nasional yang memiliki daya saing di pasar global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online