Musim Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran Lahan di Kulonprogo

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Rabu, 29 Juli 2026 16:27 WIB
Musim Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran Lahan di Kulonprogo

Petugas pemadam kebakaran memadamkan api yang membakar lahan kas desa di sekitar Perumahan Kepek, Kapanewon Pengasih, belum lama ini. - Istimewa/Dokumen BPBD Kulonprogo

Harianjogja.com, KULONPROGO—Jumlah kebakaran lahan di Kabupaten Kulonprogo melonjak drastis sepanjang 2026. Hingga pertengahan tahun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat 17 kejadian kebakaran lahan atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan total kejadian pada dua tahun sebelumnya.

Lonjakan tersebut terjadi seiring kondisi musim kemarau yang lebih kering dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan data BPBD Kulonprogo, jumlah kebakaran lahan pada 2024 tercatat empat kejadian dan pada 2025 juga sebanyak empat kejadian.

Kepala BPBD Kulonprogo, Setiawan Tri Widada, mengatakan sepanjang 2026 kebakaran lahan meningkat signifikan akibat perubahan pola cuaca. Tahun lalu, Kulonprogo mengalami kemarau basah yang membuat angka kebakaran lahan relatif rendah.

"Tahun 2025 lalu kita mengalami kemarau basah, sehingga angka kebakaran lahan terhitung rendah, hanya sekitar empat kejadian. Namun, memasuki puncak kemarau kering tahun ini, hingga pertengahan tahun saja sudah tercatat 17 kejadian kebakaran lahan," ujar Setiawan saat ditemui di kantornya, Rabu (29/7/3026).

BPBD Kulonprogo mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau tahun ini. Imbauan tersebut juga disampaikan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang biasanya diikuti kegiatan kerja bakti dan pembersihan lingkungan oleh masyarakat.

Menanggapi tradisi tahunan tersebut, BPBD Kulonprogo memberikan penekanan khusus terkait pengelolaan sampah hasil pembersihan lingkungan. Warga diminta tidak membakar tumpukan sampah maupun dedaunan kering di area terbuka.

"Kami sangat mengapresiasi semangat warga dalam menyambut HUT Ke-81 RI dengan menjaga kebersihan lingkungan. Namun, kami memohon dengan sangat agar masyarakat tidak membakar sampah. Dalam kondisi angin kencang dan cuaca kering saat ini, kobaran api sangat mudah menjalar ke lahan pemukiman atau area perkebunan di sekitarnya," tegasnya.

Setiawan menambahkan, penanganan kebakaran lahan terbuka pada musim kemarau memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena api dapat meluas dengan cepat apabila tidak segera ditangani.

"Jika api sudah membesar dan meluas, proses pemadaman akan sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu, langkah pencegahan dari kesadaran masyarakat adalah kunci terpenting saat ini," jelas Setiawan.

Secara keseluruhan, beban operasional layanan Damkarmat Kulonprogo juga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, Damkarmat mencatat 931 total layanan yang terdiri atas 105 kejadian kebakaran dan 826 non-kebakaran.

Pada 2025, total layanan tercatat 719 kejadian yang terdiri atas 50 kebakaran dan 669 non-kebakaran.

Sementara itu, hingga pertengahan 2026, total layanan Damkarmat telah mencapai 617 kejadian yang terdiri atas 58 peristiwa kebakaran dan 559 penanganan non-kebakaran, seperti evakuasi satwa liar dan gangguan lingkungan.

Jumlah kasus kebakaran hingga pertengahan tahun 2026 bahkan telah melampaui total kejadian kebakaran sepanjang 2025.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online