Debit Air Sumur Menyusut, Warga Kokap Minta Droping untuk Hajatan

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Senin, 03 Agustus 2026 13:17 WIB
Debit Air Sumur Menyusut, Warga Kokap Minta Droping untuk Hajatan

Droping air di tangki berkapasitas 5.100 liter yang berlokasi tidak jauh dari rumah Kamiran warga yang meminta bantuan air untuk keperluan hajatan khitanan cucunya, Senin (3/8/2026). Harian Jogja/Khairul Ma'arif.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Musim kemarau yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir mulai berdampak pada kebutuhan air bersih warga di Kabupaten Kulonprogo.

Penurunan debit air sumur membuat sebagian warga kesulitan memenuhi kebutuhan air dalam jumlah besar, termasuk untuk pelaksanaan hajatan. Kondisi itu dialami warga Padukuhan Tangkisan III, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap, yang harus meminta bantuan droping air agar agenda khitanan keluarga tetap dapat berlangsung sesuai rencana.

Bantuan tersebut diterima Kamiran yang tengah mempersiapkan hajatan khitanan cucunya pada Kamis (6/8/2026). Air bersih dibutuhkan tidak hanya untuk konsumsi tamu, tetapi juga menunjang aktivitas dapur umum selama acara berlangsung.

Kamiran mengaku sehari-hari tidak memiliki sumur pribadi sehingga memanfaatkan sumur milik tetangga secara bersama-sama. Namun, debit air sumur yang terus menurun selama kemarau dipastikan tidak mampu memenuhi kebutuhan hajatan.

"Saya sendiri gak punya sumur, sehari-hari sumurnya berbagi dengan tetangga jadi sumurnya dibagi dua. Kalau buat hajatan tidak cukup jadi minta bantuan droping air," katanya kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, Senin (3/8/2026).

Debit Air Sumur Turun Saat Kemarau

Persiapan hajatan di rumah Kamiran telah dimulai. Sejumlah tetangga bergotong royong memasang tenda di halaman rumah sebagai bagian dari persiapan acara yang akan digelar pada Kamis mendatang.

Di depan rumah juga telah tersedia toren penampungan air berkapasitas 5.100 liter yang digunakan untuk menampung pasokan air hasil droping.

Kamiran menuturkan kondisi sumur saat musim hujan sangat berbeda dibandingkan ketika kemarau seperti sekarang. Saat curah hujan tinggi, air sumur tetap melimpah meski dipompa menggunakan mesin.

"Kalau musim hujan sumurnya disedot sanyo airnya itu tidak habis, sedangkan kalau kemarau kaya gini habis sehingga untuk hajatan butuh bantuan tambahan air," lanjutnya.

Lokasi rumah Kamiran berada di kawasan perbukitan Kokap yang memiliki kondisi tanah relatif tandus. Kondisi tersebut menyebabkan cadangan air tanah terbatas sehingga debit sumur turun drastis ketika kemarau berlangsung cukup lama.

SAR Sigap Salurkan Air Bersih

Relawan SAR Sigap Kulonprogo, Agus Armanto, mengatakan bantuan yang disalurkan ke rumah Kamiran berupa satu tangki truk berisi sekitar 4.000 liter air bersih.

Menurutnya, air yang didistribusikan berasal dari Bayeman, Temon. Air tersebut telah dipastikan layak dikonsumsi sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak, minum, maupun keperluan rumah tangga lainnya.

"Airnya kita ambil dari Bayeman Temon, sehat tidak berbau bisa dikonsumsi," ungkapnya.

Armanto menjelaskan warga yang mengalami kekurangan air selama musim kemarau dapat mengajukan permohonan bantuan droping air kepada SAR Sigap apabila kondisinya memang mendesak.

Menurutnya, layanan droping air dari relawan SAR Sigap menjadi salah satu alternatif bantuan selain distribusi air bersih yang dilakukan oleh BPBD Kulonprogo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online