Tol Trihanggo-Junction Sleman 88 Persen, Dikebut untuk Nataru
Progres Tol Jogja-Solo Trihanggo-Junction Sleman mencapai 88 persen. Proyek dikebut agar bisa difungsionalkan saat Nataru.
Petani di Rejo Farm, Ngaglik menghias buah melon dengan tema merah putih pada Senin (10/8/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN— Ratusan buah melon di sebuah greenhouse Rejo Farm, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, tampil berbeda menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Buah yang biasanya tumbuh menjuntai dan siap dipanen itu dihiasi pita merah putih, mata boneka, alis, hidung, serta ekspresi tersenyum sehingga menyerupai sosok pejuang.
Kreativitas tersebut digagas oleh 10 petani muda Rejo Farm. Selain menjadi cara untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, dekorasi melon ini digunakan untuk mengasah kreativitas sekaligus menumbuhkan nasionalisme petani muda melalui sektor pertanian.
Deretan greenhouse terlihat memenuhi lahan pertanian di Sariharjo, Ngaglik. Tanaman melon ditanam secara vertikal sehingga buah-buahnya tampak bergelantungan di antara dominasi warna hijau tanaman.
Namun, satu greenhouse memiliki pemandangan yang berbeda. Dari balik dinding transparan terlihat aksen merah putih yang berasal dari ratusan melon yang sengaja dihias dengan tema kemerdekaan.
Pada bagian atas melon dipasang pita merah putih menyerupai ikat kepala. Di bawahnya terdapat sepasang mata boneka dengan alis tebal berwarna hitam, hidung berwarna pink, serta mulut tersenyum lebar.
Salah satu petani sekaligus edukator di Rejo Farm, Edi Rahmat Hidayat, mengatakan gagasan tersebut muncul untuk memberikan ruang bagi petani muda dalam mengembangkan kreativitas sekaligus ikut mengenang perjuangan para pahlawan.
"Seperti yang kita ketahui bahwa 17 Agustus itu adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan untuk mengenang jasa pahlawan dan untuk ikut merasakan perjuangan pahlawan-pahlawan kita dulu, leluhur kita, maka kita menghias melon di Rejo Farm ini dengan tema Kemerdekaan Republik Indonesia," kata Edi pada Senin (10/8/2026).
Menurut Edi, kegiatan tersebut tidak sekadar menghias hasil pertanian. Ada harapan agar semangat kebangsaan para petani muda tumbuh dan diwujudkan melalui kontribusi di bidang pertanian.
"Harapannya teman-teman yang bekerja di sini, petani-petani muda di sini jiwa nasionalismenya tumbuh. Artinya kita hidup di negara Indonesia, tentunya nanti ikut andil berjuang untuk membangun Indonesia lewat pertanian," ujarnya.
Ide tersebut awalnya mendapat beragam respons dari para petani muda. Sebagian menganggap kegiatan menghias melon sebagai sesuatu yang lucu dan unik karena buah yang biasanya segera dipanen untuk dijual kali ini justru menjadi media untuk berkreasi.
"Lucu, unik, kemudian ini kok aneh iki, kok lucu. Lucu, melon ndadak dibentuk-bentuk seperti itu. Cuma itu wujud dari kreativitas teman-teman di sini, kami mengapresiasi dan ini salah satu inovasi dan penyemangat buat teman-teman dan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia," ungkap Edi.
Proses dekorasi melon tidak membutuhkan waktu lama. Para petani terlebih dahulu menempelkan sepasang mata boneka pada bagian luar buah, kemudian memasang kain flanel hitam yang sudah dipotong melengkung sebagai alis.
Untuk bagian wajah lainnya, petani memasang stiker bergambar mulut dengan ekspresi tersenyum. Pita merah putih kemudian diikatkan di bagian atas melon sehingga menyerupai ikat kepala.
Kecepatan petani dalam menghias buah menjadi bagian lain dari kreativitas tersebut. Edi mengatakan tiga buah melon dapat dihias dalam waktu sekitar lima menit.
"Untuk proses pendekorannya kita tidak tidak lama, tidak butuh lama. Mungkin sekitar lima menit lah, lima menit bisa kita mendekor tiga buah melon dan satu greenhouse kita proyeksikan itu memang dengan tema kemerdekaan," jelas Edi.
Satu greenhouse yang dihias memiliki populasi sekitar 300 tanaman melon. Dengan jumlah tersebut, ratusan buah di dalam greenhouse menjadi bagian dari dekorasi bertema kemerdekaan.
"Kami menghias satu greenhouse yang kurang lebih populasi tanaman di situ ada sekitar 300 tanaman," ungkapnya.
Pemilihan waktu dekorasi juga berkaitan dengan siklus panen. Ratusan tanaman melon tersebut memang diproyeksikan memasuki masa panen pada Agustus sehingga bertepatan dengan momentum peringatan kemerdekaan.
"Kita memang memproyeksikan itu panen di bulan Agustus dan kita hias seperti itu karena memang momennya adalah momen kemerdekaan," tuturnya.
Bagi petani, masa panen menjadi momentum yang identik dengan kegembiraan. Di Rejo Farm, suasana tersebut kemudian dipadukan dengan perayaan kemerdekaan.
"Kita bersukacita sebagai petani, petani itu kalau wayahnya, kalau saatnya panen itu mereka bahagia. Ini pun sama, kita bahagia panen, bangga panen dan berbarengan dengan kebanggaan untuk Indonesia merdeka," tandas Edi.
Sebanyak 10 petani Rejo Farm terlibat dalam kegiatan menghias melon tersebut. Dekorasi dibuat dengan konsep sosok pejuang, meski properti yang digunakan disesuaikan dengan bahan yang tersedia.
"Ini sosok pejuang, sosok pejuang yang memang kita ini kemarin mendekorasikan ini, memproyeksikan dia sebagai pejuang dan kemudian karena memang keterbatasan properti, kami mendekornya seperti ini," terangnya.
Rejo Farm merupakan kompleks pertanian terpadu yang memiliki sejumlah komoditas dan teknologi pertanian. Selain greenhouse melon, terdapat pula budi daya anggur, peternakan ayam kampung, budi daya lele hingga pengolahan pupuk.
Dari sejumlah komoditas tersebut, melon menjadi salah satu andalan Rejo Farm. Buah tersebut pula yang dipilih sebagai media dekorasi karena lebih mudah dilihat dan dihias.
"Rejo Farm ini yang ter-blow up itu adalah melonnya memang, yang awal ter-blow up adalah melonnya, dan kemudian kami, melon ini kan mudah dilihat dan gampang untuk didekorasi," ujarnya.
Rejo Farm merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dengan fokus menggaet anak-anak muda untuk terlibat dalam sektor tersebut. Edi menyebut saat ini terdapat 40 orang petani muda yang ikut bertani di Rejo Farm.
Konsep pertanian yang dikembangkan menggunakan sistem integrated farming. Salah satunya melalui pemanfaatan limbah untuk menghasilkan pupuk yang kembali digunakan dalam budi daya melon.
"Kami integrated farming, dalam artian integrated kami memproduksi pupuk sendiri yang itu dari limbah, dari limbah buah, limbah kotoran hewan, dan sebagainya itu kita buat pupuk. Kemudian itu untuk kita gunakan sebagai pupuk padat untuk tanaman melon," jelasnya.
"Kemudian lanjut ke lele, ada maggot juga, ada ayam juga. Nah, itu nanti terintegrasikan semua," imbuh Edi.
Hasil pertanian Rejo Farm sebagian dipasarkan melalui outlet yang tersebar di wilayah Sleman. Berbagai komoditas pangan dari Rejo Farm juga dijual melalui toko-toko modern maupun pasar tradisional.
Dekorasi melon bertema Hari Kemerdekaan turut menarik perhatian pengunjung. Setelah mengetahui adanya melon berhias merah putih, sejumlah pengunjung datang ke Rejo Farm untuk berswafoto sekaligus menikmati hasil pertanian.
"Tentunya banyak antusias dari pengunjung yang setelah tahu melon di Rejo Farm dihias itu mereka pada datang. Mereka datang dan pengin ber-selfie, berfoto ria sambil menikmati kesegaran melon premium milik kita," tuturnya.
Pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan kegiatan berfoto. Pengunjung juga dapat menikmati melon secara langsung sekaligus memperoleh pengalaman edukasi tentang dunia pertanian.
"Menikmati langsung segarnya, manisnya, crunchy-nya melon di Rejo Farm ini, suatu pengalaman tersendiri, experience tersendiri ketika teman-teman pengunjung itu, anak-anak, itu memetik melon secara langsung. Sekaligus untuk edukasi terkait dunia pertanian untuk anak-anak," lanjut Edi.
Melon yang sebelumnya dihias untuk menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI kini sudah dipanen dan dijual. Antusiasme petani dan pengunjung membuat Rejo Farm mempertimbangkan untuk kembali menggelar kegiatan serupa pada tahun berikutnya.
"Tentunya di tahun berikutnya kami juga akan menyelenggarakan hal yang serupa, tidak sama tapi serupa," terangnya.
Kegiatan menghias melon tersebut baru pertama kali dilakukan tahun ini. Sebelumnya, Rejo Farm mengadakan lomba-lomba pada momentum peringatan kemerdekaan.
"Baru tahun ini, baru tahun ini [menghias melon]. Tahun sebelumnya kami mengadakan lomba-lomba. Kemudian yang tahun ini kami sengaja mendekor ini memang karena untuk biar memunculkan ide kreativitas dari teman-teman petani muda di sini," tegasnya.
Di luar momentum Hari Kemerdekaan, Rejo Farm juga menerima kunjungan wisata edukasi yang berkaitan dengan dunia pertanian. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mengenalkan pertanian kepada anak-anak sejak masih bersekolah.
"Kami ingin menanamkan sejak dini, sejak masih sekolah, teman-teman anak-anak masih sekolah, untuk mengenal dunia pertanian agar nanti ke depan mereka peduli, minimal peduli terkait dunia pertanian," tukasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Progres Tol Jogja-Solo Trihanggo-Junction Sleman mencapai 88 persen. Proyek dikebut agar bisa difungsionalkan saat Nataru.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo, Selasa 18 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan Kutoarjo. Simak jam keberangkatan terbaru.
Prakiraan cuaca DIY Selasa 18 Agustus 2026 didominasi udara kabur. Sleman diprediksi cerah, sementara wilayah lain perlu waspada jarak pandang terbatas.
Neeltje Deliana Insjowi Werimon, Paskibraka asal Jayapura, menjadi pembawa baki bendera saat penurunan Sang Merah Putih di Istana Merdeka.
DPMPTSP Kota Jogja meluncurkan Katalog Data untuk mempermudah akses informasi perizinan, nonperizinan, OSS, dan investasi secara digital.
Petani muda Rejo Farm di Sleman menghias ratusan melon dengan tema pejuang merah putih untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.