Ada Program Sertakan BPJamsostek, Perusahaan di Jogja Diajak Lindungi Pekerja Informal
BPJS Ketenagakerjaan Yogyakarta mengajak 45 perusahaan memperluas perlindungan pekerja informal melalui program Sertakan dan CSR.
Kepala Bebadan Pangreksa Loka (BPL) Keraton Yogyakarta RM Gusthilantika Marrel Suryokusumo atau Mas Marrel menghadiri lokasi pentas jathilan di Dusun Ngampel, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman pada Jumat (21/8/2026) malam.
Harianjogja.com, SLEMAN— Ratusan warga Dusun Ngampel, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, memadati lokasi pentas jathilan pada Jumat (21/8/2026) malam. Pertunjukan seni tradisional tersebut menjadi salah satu rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus ruang untuk menghidupkan kembali kebudayaan di tengah masyarakat.
Suasana semakin semarak ketika Kepala Bebadan Pangreksa Loka (BPL) Keraton Yogyakarta RM Gusthilantika Marrel Suryokusumo atau Mas Marrel hadir langsung menyaksikan pertunjukan. Cucu Sri Sultan Hamengku Buwono X itu memilih berbaur bersama warga dan menikmati kesenian jathilan yang mendapat dukungan Dana Keistimewaan (Danais).
Bagi Mas Marrel, antusiasme masyarakat menjadi gambaran bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat Jogja.
“Saya mewakili dari Keraton Yogyakarta sangat senang karena acara kebudayaan seperti ini selalu kita berusaha di Daerah Istimewa Yogyakarta ini bisa kita tumbuhkan,” ujar Mas Marrel.
Mas Marrel: Generasi Muda Jadi Kunci Pelestarian Budaya
Menurutnya, keberlanjutan kebudayaan sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Anak-anak dan remaja perlu diberi ruang untuk mengenal, menyaksikan, bahkan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan seni tradisional.
“Besok mereka-mereka ini yang bisa membawa budaya-budaya Jogja terus lestari. Itulah yang bikin Jogja itu tetap istimewa,” katanya.
Ia juga menilai keberadaan Dana Keistimewaan memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan kebudayaan. Danais, menurutnya, bukan semata-mata dukungan pembiayaan kegiatan, tetapi harus memberi dampak terhadap upaya menjaga warisan budaya.
“Esensi utama dari Dana Keistimewaan ini adalah supaya budaya-budaya kita tetap terus lestari, kita tidak lupa,” ucapnya.
Mas Marrel menyebut Yogyakarta kini menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah. Mobilitas tersebut merupakan bagian dari dinamika Jogja, tetapi identitas budaya lokal tetap harus dijaga.
“Walaupun banyak orang datang dari luar Jogja, dari seluruh Indonesia datang ke Jogja, tapi kita tetap kuat dengan budaya dan sejarah kita,” ujarnya.
Jathilan Jadi Ruang Bertemu Warga
Antusiasme warga yang datang menyaksikan pertunjukan malam itu juga mendapat perhatian Mas Marrel. Menurut dia, keramaian tersebut menunjukkan bahwa anggapan budaya Jawa mulai ditinggalkan masyarakat tidak sepenuhnya benar.
“Saya buktikan malam ini itu tidak benar jika ada orang yang menyebut orang Jawa sudah hilang budayanya,” katanya.
Lurah Hargobinangun Fajar Akbar Kurniawan mengatakan pentas jathilan tidak sekadar menjadi hiburan dalam perayaan kemerdekaan. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan warga sekaligus memperkenalkan kesenian lokal kepada generasi muda.
“Ini bukan sekadar pentas hiburan. Kami ingin anak-anak dan generasi muda melihat langsung bahwa kesenian tradisional masih hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” kata Fajar.
Ia berharap kegiatan kebudayaan dapat digelar secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak anak muda. Dengan cara tersebut, kesenian tradisional tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Ditutup Seruan Merdeka dan Istimewa
Di tengah suasana yang semakin meriah, Mas Marrel mengajak masyarakat mempertahankan semangat kemerdekaan sekaligus kebanggaan terhadap identitas Yogyakarta.
Seruan tersebut kemudian disambut antusias oleh warga yang memadati lokasi pertunjukan.
“Kalau saya teriak Indonesia, teriak Merdeka. Kalau saya teriak Yogyakarta, panjangkan istimewa!” seru Mas Marrel.
Pentas jathilan di Dusun Ngampel pun menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni. Di tengah kemeriahan perayaan HUT ke-81 RI, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang, partisipasi masyarakat dan keterlibatan generasi muda agar nilai-nilai budaya Jogja tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPJS Ketenagakerjaan Yogyakarta mengajak 45 perusahaan memperluas perlindungan pekerja informal melalui program Sertakan dan CSR.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 8 Oktober 2026 tersedia mulai pagi. Simak jadwal lengkap dari Stasiun Palur hingga Jogja/Tugu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 8 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.
Awal musim hujan di Bantul diprediksi mundur lebih dari 30 hari. DPRD Bantul menyiapkan posko dan antisipasi kekeringan.
Suzuki e SKY resmi diperkenalkan di Jepang dan dijual mulai 16 November 2026. Mobil listrik mungil ini punya jarak tempuh 310 km dan desainnya tercatat di DJKI.
DPRD DIY meminta BUMD tak hanya mengejar pertumbuhan aset, tetapi juga memperbesar keuntungan dan kontribusi terhadap pendapatan daerah.