KPR Subsidi Sepi Peminat, Pekerja Informal Sulit Lolos Kredit
Penyaluran KPR subsidi baru 178.211 unit hingga 9 Oktober 2026. Ekonom menyoroti daya beli rendah dan sulitnya pekerja informal mengakses kredit.
Sarasehan pencak silat bertajuk Di Persimpangan Zaman yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY di Gelanggang Inovasi dan Kreasi (GIK) UGM, Kamis (27/8/2026). /Istimewa.
Harianjogja.com, SLEMAN—Pencak silat dinilai perlu dikaji lebih luas di lingkungan akademik agar perkembangan seni bela diri tradisional tersebut tidak membuatnya kehilangan akar budaya. Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Wening Udasmoro, mendorong penelitian pencak silat dari perspektif antropologis dan sosiologis, termasuk terhadap tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Wening dalam sarasehan dalam rangkaian Pencak Wisata Budaya (PWB) 5 bertajuk Di Persimpangan Zaman di Gelanggang Inovasi dan Kreasi (GIK) UGM, Kamis (27/8/2026).
Menurut Wening, penelitian pencak silat tidak seharusnya hanya ditempatkan dalam kerangka olahraga formal. Kajian akademik dapat digunakan untuk melihat keberagaman tradisi pencak silat, kesetaraan gender dalam jurus-jurusnya, hingga perjuangan mandiri perguruan-perguruan kecil yang berkembang di masyarakat.
Sekat Antarperguruan
Selain mendorong riset, Wening melihat perkembangan positif pencak silat pada era modern. Menurut dia, seni bela diri tersebut kini semakin inklusif dan terbuka bagi berbagai kalangan, termasuk di lingkungan kampus.
Perubahan itu terlihat dari semakin cairnya batas antarperguruan. Kondisi tersebut berbeda dengan situasi yang pernah terjadi pada era 1980-an atau 1990-an ketika pencak silat masih lebih terkotak-kotak berdasarkan perguruan.
"Jadi sudah tidak ada lagi barrier ya, batas-batas ini perguruan ini, perguruan itu. Sekarang sudah mulai cair sehingga kemudian memang tujuannya adalah untuk kemajuan pencak silat," kata Wening.
Keterbukaan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi pencak silat untuk berkembang melalui pertukaran pengetahuan dan kajian yang lebih beragam. Lingkungan akademik menjadi salah satu ruang yang dapat mempertemukan tradisi pencak silat dengan penelitian mengenai aspek sosial dan budaya.
Nilai Pencak Silat Tergerus
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan kebutuhan untuk menjaga pengetahuan pencak silat semakin penting setelah seni bela diri tersebut ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda dunia oleh UNESCO pada 15 Desember 2019.
Menurut Dian, perkembangan zaman yang serbainstan, global, dan bergerak cepat berpotensi membuat pengetahuan yang melekat dalam pencak silat mengalami degradasi. Ia mengingatkan jangan sampai pencak silat pada akhirnya hanya menyisakan gerakan tanpa pemahaman terhadap makna di baliknya.
"Zaman kita yang saat ini cukup instan, global, dan bergerak dengan sangat cepat, kita khawatir bahwa pengetahuan-pengetahuan yang sebenarnya melekat di dalam pencak silat itu kemudian malah akan terdegradasi atau bahkan hilang. Yang sampai kemudian hanya satu gerakan-gerakannya saja yang mungkin tanpa makna. Nah, ini yang benar-benar harus kita jaga," ujar Dian Lakshmi di sela-sela acara.
Dian menilai pencak silat menyimpan nilai kedisiplinan, kesabaran, penghormatan kepada senior, hingga kebersamaan. Nilai-nilai tersebut dinilai penting dalam pembentukan karakter generasi muda sehingga pelestarian pencak silat tidak berhenti pada penguasaan gerakan fisik.
Menurutnya, yang perlu diteruskan kepada generasi berikutnya adalah ingatan, pengetahuan, serta nilai kehidupan yang melekat dalam pencak silat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penyaluran KPR subsidi baru 178.211 unit hingga 9 Oktober 2026. Ekonom menyoroti daya beli rendah dan sulitnya pekerja informal mengakses kredit.
BNPB menghormati proses hukum KPK setelah operasi tangkap tangan di lingkungannya. Sebanyak 14 orang, termasuk Sestama BNPB, diamankan.
BYD memperkenalkan Flash Charging berdaya 1.500 kW yang diklaim mampu mengisi baterai 10-70 persen dalam lima menit.
Kemarau panjang di Gunungkidul membuat buah durian lebih sedikit rontok dan tanaman tembakau tumbuh subur. Petani berharap panen lebih maksimal.
ICRC memperingatkan eskalasi konflik Timur Tengah dapat menjadi bencana bagi puluhan juta orang dan mendesak perlindungan warga sipil.
Hashim Djojohadikusumo menyebut ekonomi abu-abu RI mencapai 30–40% ekonomi nasional dan menyoroti potensi penerimaan negara yang hilang.