Prakiraan Cuaca DIY Senin 12 Oktober, Suhu Jogja Capai 33 Derajat
Prakiraan cuaca DIY Senin 12 Oktober 2026 didominasi berawan. Suhu tertinggi di Kota Jogja mencapai 33 derajat Celsius.
Ketua DPP PDIP Bidang Pariwisata, Wiryanti Sukamdani. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA— Kekayaan pangan lokal Indonesia dinilai dapat menjadi fondasi untuk mewujudkan kedaulatan pangan tanpa ketergantungan terhadap komoditas impor. Gagasan tersebut disampaikan Ketua DPP PDIP Bidang Pariwisata, Wiryanti Sukamdani jelang pelaksanaan Festival Mustika Rasa yang digelar pada 29-30 Agustus 2026 di Alun-Alun Selatan Jogja.
Wiryanti mengatakan kedaulatan pangan tidak sebatas memastikan ketersediaan makanan atau ketahanan pangan. Konsep tersebut, menurutnya, menempatkan kemampuan bangsa dalam mengolah dan memberdayakan bahan pangan lokal sebagai bagian penting dari kemandirian.
"Yang selalu kita katakan itu adalah kedaulatan pangan. Kita tidak boleh tergantung dari luar negeri [impor], terutama mengenai makanan. Apa sih yang kita tidak punya? Kita punya semua," ujar Wiryanti, Jumat (28/8/2026) malam.
Menurut dia, Indonesia memiliki kekayaan bahan pangan yang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Pengetahuan mengenai pengolahan tersebut salah satunya telah terdokumentasi dalam buku Mustika Rasa, warisan Presiden Pertama RI Soekarno.
Wiryanti menilai buku Mustika Rasa tidak semestinya hanya dipandang sebagai dokumentasi resep masakan. Buku tersebut dapat menjadi panduan masyarakat untuk mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan yang enak, bergizi, terjangkau, dan menyehatkan.
"Dengan adanya Mustika Rasa ini, masyarakat betul-betul bisa menjadikan ini sebagai way of life. Karena masakan dari seluruh Indonesia ada di situ," lanjutnya.
Menurutnya, Mustika Rasa memuat lebih dari 1.000 resep dari Sabang sampai Merauke. Isinya tidak hanya menjelaskan tata cara memasak, tetapi juga kandungan gizi, teknik pemotongan bahan, hingga peralatan tradisional yang digunakan.
Warisan resep tersebut, lanjut Wiryanti, menunjukkan besarnya potensi bahan pangan lokal yang dimiliki Indonesia. Ia menilai Bung Karno telah berpikir jauh ke depan untuk memastikan masyarakat dapat mengonsumsi makanan yang enak dan bergizi tanpa bergantung pada bahan pangan dari luar negeri.
Wiryanti juga mengaitkan pemanfaatan pangan lokal dengan persoalan gizi masyarakat. Ia mencontohkan masih ditemukannya kasus stunting di wilayah penghasil ikan seperti Sulawesi.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak selalu disebabkan oleh ketiadaan bahan pangan. Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah pemahaman masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan yang bergizi sekaligus disukai anak-anak.
Karena itu, kemampuan mengolah bahan pangan lokal secara tepat, bergizi, dan lezat dinilai menjadi salah satu kunci untuk membantu mengatasi persoalan gizi buruk dan stunting.
Selain persoalan gizi, Wiryanti mendorong pengenalan pangan lokal non-beras kepada masyarakat. Diversifikasi pangan tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak terus bergantung pada konsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat utama.
"Masakan itu tidak semuanya harus nasi. Bisa dari singkong, ubi, sukun, talas, hanjeli, hingga porang. Semuanya punya khasiat sendiri-sendiri, seperti jagung dan lainnya," ungkapnya.
Ia kembali menekankan bahwa bahan pangan lokal memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satunya terlihat dari pangan berbasis kedelai yang selama ini digunakan dalam pembuatan tempe.
"Tempe buatan asli Indonesia itu jauh lebih gurih dan berasa dibanding kedelai impor. Apalagi kalau mau bikin tempe bungkus daun, pakai bahan impor malah tidak akan jadi. Kita punya banyak alternatif karbohidrat, ada ubi, singkong, hingga sorgum," urai Wiryanti.
Festival Mustika Rasa digelar pada 29-30 Agustus 2026 di Alun-Alun Selatan Jogja. Pemilihan Jogja sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan tidak terlepas dari posisinya sebagai kota budaya, pariwisata, sekaligus destinasi kuliner dengan pilihan yang beragam dan terjangkau.
Keterlibatan para pelaku UMKM lokal dalam festival tersebut diharapkan turut mendorong masyarakat untuk semakin menghargai dan bangga terhadap kekayaan kuliner Nusantara.
Bagi Wiryanti, keberadaan buku Mustika Rasa menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia memiliki kekayaan bahan pangan sekaligus pengetahuan kuliner yang sangat luas. Pemanfaatan warisan tersebut dinilai dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan berbasis potensi lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Prakiraan cuaca DIY Senin 12 Oktober 2026 didominasi berawan. Suhu tertinggi di Kota Jogja mencapai 33 derajat Celsius.
Kontingen Indonesia bertolak ke Jepang untuk Asian Para Games 2026 dengan target 7 emas, 8 perak, dan 17 perunggu.
Rupiah hari ini, Selasa 13 Oktober 2026, diprediksi melemah ke kisaran Rp17.910–Rp17.960 per dolar AS akibat tekanan geopolitik dan kebijakan The Fed.
Prabowo membahas percepatan revitalisasi lebih dari 200 museum dan situs budaya pada 2026, termasuk pembaruan narasi sejarah dan teknologi digital.
Psikolog Rose Mini membagikan kiat menghadapi perbedaan pola asuh antara orang tua dan kakek-nenek demi memenuhi kebutuhan anak.
Komdigi memastikan aturan turunan Perpres Ojol terbit sebelum 31 Desember 2026, termasuk formula perhitungan ongkos kirim barang dan makanan.