ARTJOG 2026 Tembus 87 Ribu Pengunjung, Berdampak ke Ekosistem Seni dan Ekonomi Jogja

Media Digital
Media Digital Minggu, 30 Agustus 2026 22:57 WIB
ARTJOG 2026 Tembus 87 Ribu Pengunjung, Berdampak ke Ekosistem Seni dan Ekonomi Jogja

CEO ARTJOG Heri Pemad menyampaikan sambutan dalam Penutupan ARTJOG 2026 di JNM pada Minggu (30/8/2026). /Harian Jogja-Stefani Yulindriani.

Harianjogja.com, JOGJA—ARTJOG 2026 mencatat lebih dari 87.000 pengunjung hingga sehari sebelum pameran seni tahunan tersebut ditutup. CEO ARTJOG Heri Pemad menilai jumlah pengunjung menjadi salah satu bahan evaluasi, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penyelenggaraan.

ARTJOG 2026 yang memasuki penyelenggaraan ke-19 mengusung tema ARS LONGA: GENERATIO. Menurut Heri, penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum bagi ARTJOG untuk melakukan retrospeksi sekaligus introspeksi terhadap perjalanan selama hampir dua dekade.

Ia mengatakan evaluasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah pengunjung, tetapi juga kualitas pertemuan antara seniman, karya seni, dan masyarakat yang datang.

“Tahun ini, di usia ARTJOG yang ke-19, merupakan titik puncak retrospeksi dan introspeksi bagi kami. Evaluasi tahun ini tidak sekadar kita lihat dari angka-angka pencapaian, tetapi juga dari kualitas perjumpaan antara seniman, karya, dan publik,” kata Heri dalam penutupan ARTJOG 2026 di Jogja National Museum (JNM), Minggu (30/8/2026).

ARTJOG 2026 Dikunjungi 87 Ribu Orang

Dari sisi jumlah pengunjung, ARTJOG 2026 mencatat capaian lebih dari 87.000 orang hingga sehari sebelum penutupan. Rata-rata sekitar 1.200 pengunjung datang setiap hari untuk menikmati pameran maupun berbagai program yang digelar.

Heri mengatakan angka tersebut menjadi bagian dari catatan evaluasi penyelenggaraan. Namun, tingginya jumlah pengunjung menurutnya belum cukup untuk menggambarkan keberhasilan sebuah perhelatan seni.

Menurut dia, perhatian juga perlu diberikan pada bagaimana publik merespons karya yang ditampilkan. Ketertarikan dan diskusi yang muncul dari pengunjung menjadi indikator penting bagi keberlangsungan ekosistem seni.

“Yang paling penting bukan cuma soal angka atau traffic, melainkan respons dan ketertarikan mereka terhadap karya. Bisa dilihat juga bahwa respons publik tahun ini kritis dan antusiasmenya tetap tinggi,” ujarnya.

Ratusan Seniman Terlibat

ARTJOG 2026 juga melibatkan ratusan seniman dan kelompok seni dalam pameran, pertunjukan, serta sejumlah program lainnya. Para seniman menghadirkan gagasan yang merespons tema ARS LONGA: GENERATIO dengan pendekatan yang beragam.

Heri menilai keterlibatan para seniman tersebut memperlihatkan fungsi ARTJOG sebagai ruang perjumpaan dalam ekosistem seni. Tidak hanya menjadi tempat untuk memamerkan karya, ARTJOG juga memberikan ruang bagi seniman untuk bertemu dengan publik dan berbagai pelaku industri seni.

Seniman lokal Jogja dan seniman muda juga memperoleh ruang yang cukup besar dalam penyelenggaraan tahun ini. Keterlibatan tersebut hadir melalui pameran utama, program performa ARTJOG, ruang edukasi, serta sejumlah agenda lainnya.

“ARTJOG selalu berpegang pada prinsip memberikan ruang bagi kebebasan berekspresi. Porsi seniman lokal Jogja dan seniman muda juga mendapat tempat yang sangat signifikan,” kata Heri.

Menurutnya, ruang tersebut sekaligus membuka peluang bagi seniman lokal untuk memperluas jejaring. ARTJOG mempertemukan seniman dengan kurator, kolektor, pengamat seni, hingga publik dari berbagai wilayah.

Dinamika ARTJOG Jadi Bahan Evaluasi

Selain capaian pengunjung dan keterlibatan seniman, penyelenggaraan ARTJOG 2026 juga diwarnai berbagai dinamika serta diskursus di ruang publik.

Heri mengatakan berbagai respons tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi penyelenggara. Kritik maupun diskusi yang muncul akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki tata kelola ARTJOG pada penyelenggaraan berikutnya.

“Dinamika serta diskursus yang muncul sejak awal penyelenggaraan kami catat sebagai pembelajaran berharga. Kami menyadari kekurangan itu dan menjadikannya evaluasi bagi tata kelola kami agar ke depannya lebih transparan, peka, dan etis,” ujarnya.

Ia menegaskan ARTJOG akan terus berupaya mempertahankan ruang bagi kebebasan berekspresi sekaligus memperkuat tata kelola penyelenggaraan.

ARTJOG Beri Efek Berganda bagi Ekonomi Jogja

Heri juga menyoroti dampak ARTJOG terhadap ekosistem ekonomi dan seni di Jogja. Menurutnya, sebuah perhelatan seni dengan jumlah pengunjung besar tidak hanya berdampak pada seniman dan penyelenggara, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi di berbagai sektor pendukung.

Kehadiran puluhan ribu pengunjung selama penyelenggaraan ARTJOG berpotensi menggerakkan berbagai aktivitas masyarakat, termasuk sektor akomodasi, kuliner, transportasi, perdagangan, hingga usaha kreatif yang berkaitan dengan pariwisata dan seni.

Heri menyadari ARTJOG merupakan inisiatif swasta dan ruang independen. Namun, keberadaannya tetap menjadi bagian dari dinamika ekosistem kota yang lebih luas.

“Meski ARTJOG adalah sebuah inisiatif swasta dan ruang independen, kami juga menyadari bahwa peristiwa yang kami ciptakan ini memiliki multiplier effect yang nyata, baik dari segi perekonomian maupun citra Kota Jogja,” katanya.

Dengan capaian lebih dari 87.000 pengunjung dan keterlibatan ratusan seniman, ARTJOG 2026 sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah agenda seni dapat menjadi ruang pertemuan antara karya, seniman, publik, serta berbagai sektor ekonomi di Jogja. Bagi penyelenggara, capaian tersebut menjadi modal evaluasi untuk membawa ARTJOG menuju penyelenggaraan berikutnya dengan tata kelola yang lebih baik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online