DIY 131 Hari Tanpa Hujan, Ini 17 Provinsi yang Dilanda HTH Ekstrem

Jumali
Jumali Selasa, 15 September 2026 08:17 WIB
DIY 131 Hari Tanpa Hujan, Ini 17 Provinsi yang Dilanda HTH Ekstrem

Ilustrasi cuaca panas/Magnific


Harianjogja.com, JOGJA—Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat sebagai wilayah dengan deret hari tanpa hujan (HTH) terpanjang di Indonesia hingga pemutakhiran data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) 10 September 2026. Durasi HTH di wilayah tersebut mencapai 131 hari.

Catatan BMKG menunjukkan kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Selain DIY, periode tanpa hujan yang masuk kategori ekstrem panjang juga terjadi di Jawa Tengah dengan 130 hari dan Jawa Timur selama 129 hari.

Secara keseluruhan, HTH ekstrem panjang tersebut tersebar di 17 provinsi. Data ini merupakan bagian dari hasil monitoring perkembangan musim dan deret HTH yang dilakukan BMKG.

Bagi masyarakat di wilayah yang mengalami periode tanpa hujan panjang, data tersebut menjadi gambaran bahwa musim kemarau masih mendominasi. BMKG juga mencatat sebagian besar zona musim (ZOM) di Indonesia belum beralih ke musim hujan.

17 provinsi dengan HTH ekstrem panjang

Berdasarkan pemutakhiran hingga 10 September 2026, berikut wilayah yang tercatat mengalami HTH ekstrem panjang:

1. DI Yogyakarta: 131 hari
2. Jawa Tengah: 130 hari
3. Jawa Timur: 129 hari
4. Nusa Tenggara Timur: 118 hari
5. Nusa Tenggara Barat: 115 hari
6. Bali: 113 hari
7. Jawa Barat: 110 hari
8. Banten: 108 hari
9. Sulawesi Selatan: 102 hari
10. Maluku: 94 hari
11. Sulawesi Barat: 91 hari
12. Kalimantan Selatan: 89 hari
13. Kalimantan Tengah: 89 hari
14. Sulawesi Tenggara: 89 hari
15. Gorontalo: 89 hari
16. Sulawesi Utara: 88 hari
17. Maluku Utara: 86 hari

Dari daftar tersebut, tiga provinsi di Pulau Jawa menempati posisi teratas. DIY berada di urutan pertama dengan 131 hari, disusul Jawa Tengah 130 hari dan Jawa Timur 129 hari.

Di DIY sendiri, data BMKG Provinsi Banten yang memuat monitoring wilayah BBMKG Wilayah II menyebut HTH terpanjang terjadi di Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, dengan durasi 131 hari.

80,7 persen ZOM masih kemarau

Panjangnya periode tanpa hujan tersebut sejalan dengan kondisi musim di Indonesia. BMKG mencatat sebanyak 564 ZOM atau 80,7% dari total ZOM masih mengalami musim kemarau hingga pemutakhiran 10 September 2026.

Sebaliknya, wilayah yang sudah memasuki musim hujan baru mencapai 22 ZOM atau 3,1%. Adapun bagian lainnya merupakan wilayah yang memiliki satu tipe musim sehingga tidak dikategorikan berdasarkan pergantian musim kemarau dan musim hujan seperti ZOM pada umumnya.

Dengan kondisi tersebut, periode kering masih menjadi karakter utama cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia pada pertengahan September 2026. BMKG dalam analisis dasarian pertamanya juga mencatat curah hujan pada 1–10 September 2026 didominasi kategori rendah, sementara 92,62% wilayah berada pada curah hujan kategori rendah.

HTH lebih dari sebulan juga terjadi di banyak wilayah

Tidak hanya wilayah yang masuk daftar HTH ekstrem panjang, BMKG mencatat banyak daerah lain mengalami periode tanpa hujan lebih dari satu bulan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karakter musim kemarau masih terasa di berbagai wilayah Indonesia.

Pemantauan BMKG di sejumlah daerah menunjukkan variasi durasi HTH yang cukup lebar. Di Jawa Tengah, misalnya, sebagian besar wilayah berada pada HTH kategori menengah hingga kekeringan ekstrem, dengan HTH terpanjang 130 hari di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen.

Sementara itu, BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan mencatat HTH terpanjang di provinsi tersebut mencapai 81 hari di Pos Hujan Muara Kuang, Kecamatan Muara Kuang, Kabupaten Ogan Ilir, berdasarkan pemutakhiran 10 September 2026.

BMKG juga masih memantau kondisi atmosfer yang relatif kering di tengah dominasi musim kemarau. Dalam prakiraan periode 11–17 September 2026, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi dampak cuaca panas, kondisi udara yang lebih kering, kekeringan, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.

Di tengah kondisi tersebut, hujan tetap berpeluang turun secara lokal di sejumlah wilayah. Karena itu, perkembangan HTH, musim kemarau, dan potensi hujan terus diperbarui BMKG melalui pemantauan iklim dan prakiraan cuaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online