23 Kasus Leptospirosis di Jogja hingga Agustus 2026, Ini Imbauan Dinas Kesehatan

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Selasa, 15 September 2026 16:57 WIB
23 Kasus Leptospirosis di Jogja hingga Agustus 2026, Ini Imbauan Dinas Kesehatan

Ilustrasi leptospirosis./Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA— Kasus leptospirosis di Kota Jogja hingga Agustus 2026 tercatat 23 kasus, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mengingatkan masyarakat tetap waspada menjelang musim penghujan karena kondisi lingkungan dapat meningkatkan risiko paparan bakteri penyebab leptospirosis.

Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja, Anandi Iedha Retnani, mengatakan jumlah kasus hingga Agustus 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, Dinkes Kota Jogja mencatat total 34 kasus leptospirosis. Kendati mengalami penurunan, Anandi menyebut jumlah kasus tahun ini tidak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya.

Lingkungan Jadi Faktor Risiko Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat menular melalui paparan urine tikus yang mengandung bakteri Leptospira. Penularan dapat terjadi ketika seseorang melakukan aktivitas di lingkungan yang telah terkontaminasi.

Anandi mengatakan faktor risiko penyakit tersebut tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan tertentu. Aktivitas sehari-hari, seperti membersihkan rumah dan halaman tanpa alat pelindung diri (APD), juga dapat meningkatkan risiko apabila lingkungan terkontaminasi urine tikus.

“Kalau dari sisi leptospirosis, faktor risikonya berhubungan dengan lingkungan yang memang rentan terpapar urine tikus,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).

Musim penghujan menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian. Genangan air memungkinkan seseorang bersentuhan dengan lingkungan yang telah terkontaminasi urine tikus.

Namun, berdasarkan pemantauan Dinkes Kota Jogja, perbedaan jumlah kasus leptospirosis antara musim kemarau dan musim penghujan tidak terlalu signifikan.

“Memang musim penghujan salah satu faktor karena banyak genangan air yang kemungkinan terpapar urine tikus yang terdapat bakteri leptospira. Tapi kalau dilihat dari kasus antara musim kemarau dan musim penghujan juga tidak terlalu banyak perbedaan,” katanya.

Dinkes Ingatkan Warga Jaga Kebersihan

Dinkes Kota Jogja terus melakukan edukasi pencegahan leptospirosis melalui puskesmas. Masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama setelah melakukan aktivitas yang berpotensi bersentuhan dengan lingkungan terkontaminasi.

Anandi mengimbau warga mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun setelah beraktivitas. Langkah tersebut termasuk dilakukan setelah membersihkan rumah, halaman, maupun lingkungan sekitar.

“Yang pertama memang mencuci tangan dan kaki setelah aktivitas yang berhubungan dengan risiko terkena urine tikus,” ujarnya.

Selain menjaga kebersihan diri, sanitasi lingkungan juga perlu diperhatikan untuk mencegah munculnya sarang tikus. Barang-barang bekas yang sudah tidak digunakan sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk karena dapat menjadi tempat tikus bersarang.

Masyarakat juga diminta selalu menutup makanan dan minuman untuk mencegah kontaminasi maupun paparan tikus.

Pekerja Berisiko Diminta Gunakan APD

Bagi masyarakat yang memiliki aktivitas atau pekerjaan dengan risiko terpapar urine tikus, penggunaan APD menjadi salah satu langkah pencegahan. Anandi menyarankan penggunaan sepatu boot dan sarung tangan ketika melakukan pekerjaan berisiko.

“Kalau pekerjaan berisiko terhadap leptospirosis, menggunakan sepatu boot maupun sarung tangan,” katanya.

Dinkes juga meminta masyarakat rutin membersihkan lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya tikus. Upaya tersebut menjadi bagian dari menjaga sanitasi lingkungan agar populasi tikus tidak berkembang di sekitar permukiman.

“Sanitasi lingkungannya itu membersihkan tempat-tempat yang kemungkinan bisa menjadi sarang tikus,” katanya.

Dengan kasus leptospirosis di Jogja hingga Agustus 2026 yang tercatat 23 kasus, kewaspadaan tetap diperlukan meski terjadi penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Terlebih, masyarakat mulai menghadapi kondisi lingkungan yang lebih banyak memiliki genangan air saat memasuki musim penghujan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online