Angka Pernikahan di Jogja Menurun, Usia Menikah Kini 22-28 Tahun

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Minggu, 04 Oktober 2026 10:57 WIB
Angka Pernikahan di Jogja Menurun, Usia Menikah Kini 22-28 Tahun

Foto ilustrasi pernikahan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Angka pernikahan di Kota Jogja menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jogja mencatat jumlah pernikahan turun dari 1.632 pada 2023 menjadi 1.546 pada 2024, kemudian kembali turun menjadi 1.434 pada 2025.

Hingga September 2026, jumlah pernikahan yang tercatat di Kemenag Kota Jogja mencapai 1.023 pernikahan. Di tengah tren tersebut, pasangan yang menikah saat ini mayoritas berada pada usia yang lebih matang.

Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja, Ahmad Shidqi, mengatakan penurunan angka pernikahan tidak hanya terjadi di Kota Jogja, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia dalam lima tahun terakhir.

Meski demikian, secara nasional angka pernikahan pada 2025 sempat mengalami sedikit kenaikan.

"Pada dasarnya dari tahun ke tahun memang mengalami penurunan. Persentasenya rata-rata sekitar 1 persen, meskipun ada daerah yang penurunannya sekitar 5 sampai 10 persen," kata Ahmad.

Angka Pernikahan Kota Jogja Setelah Pandemi

Data Kemenag Kota Jogja menunjukkan jumlah pernikahan pada 2020 tercatat sebanyak 248 pernikahan. Angka tersebut kemudian turun menjadi 171 pernikahan pada 2021 dan 175 pernikahan pada 2022.

Jumlah pernikahan pada tiga tahun tersebut relatif rendah karena masih berada dalam periode pandemi Covid-19.

Memasuki periode pascapandemi, angka pernikahan kembali tercatat lebih tinggi. Pada 2023 terdapat 1.632 pernikahan, kemudian 1.546 pernikahan pada 2024 dan 1.434 pernikahan pada 2025.

Sementara itu, hingga September 2026 Kemenag Kota Jogja mencatat sebanyak 1.023 pernikahan.

Perubahan Nilai Sosial hingga Kesempatan Karier Perempuan

Ahmad mengatakan penurunan angka pernikahan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah pergeseran nilai-nilai sosial yang berkembang di masyarakat.

Selain perubahan nilai sosial, semakin terbukanya kesempatan perempuan untuk menempuh pendidikan dan membangun karier juga turut memengaruhi keputusan untuk menikah.

"Kesempatan bagi perempuan untuk meniti karier sekarang lebih luas sehingga ketergantungan finansial terhadap laki-laki atau pasangan tidak lagi menjadi hal yang pokok," ujarnya.

Perubahan tersebut membuat keputusan menikah tidak lagi semata-mata berkaitan dengan usia. Kesiapan individu dalam menjalani kehidupan setelah menikah juga menjadi bagian yang diperhatikan.

Kemenag Dorong Edukasi Remaja

Di tengah perubahan tersebut, Kemenag Kota Jogja terus mendorong edukasi bagi remaja melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS).

Program BRUS ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada remaja mengenai berbagai hal yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki pernikahan.

Menurut Ahmad, kesiapan menikah tidak hanya berkaitan dengan usia. Aspek mental, kesehatan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya juga menjadi bagian dari kesiapan sebelum membangun rumah tangga.

Program tersebut juga dinilai berkontribusi terhadap menurunnya angka pernikahan masyarakat di bawah usia 19 tahun.

Perempuan Rata-rata Menikah Usia 22-25 Tahun

Sementara itu, pasangan yang menikah di Kota Jogja saat ini mayoritas berada pada usia yang lebih matang.

Ahmad menyebut rata-rata perempuan di Kota Jogja menikah pada usia 22-25 tahun. Sementara laki-laki berada pada rentang usia 25-28 tahun.

"Rata-rata sudah di atas usia selesai sekolah," katanya.

Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pasangan yang menikah di Kota Jogja berada pada usia setelah menyelesaikan pendidikan sekolah. Tren penurunan angka pernikahan pun berjalan bersamaan dengan perubahan kondisi sosial serta semakin luasnya kesempatan perempuan untuk melanjutkan pendidikan dan membangun karier.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online