Asap Masih Keluar, Basement Transhome Sleman Belum Bisa Dimasuki
Basement Transhome Sleman masih mengeluarkan asap dan bersuhu tinggi. Petugas melakukan pendinginan serta pemantauan dari luar.
Sebuah kendaraan sedang melintas di Jalan Selokan Mataram, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (5/10/2026)./ Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, SLEMAN— Pengguna Jalan Selokan Mataram di Sleman masih harus bersabar menunggu pelebaran jalan rampung. Hingga kini, proyek tersebut belum dapat dilanjutkan sepenuhnya karena pembebasan sejumlah bidang lahan masih belum selesai, termasuk sebagian lahan di kawasan Makam Santren Gejayan.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Fauzan Ma’ruf, membenarkan masih adanya lahan yang belum dibebaskan. Sebagian lahan untuk kebutuhan pelebaran jalan memang sudah dibebaskan, tetapi beberapa bidang masih dalam proses.
“Ya mas benar sebagian sudah dibebaskan tapi masih ada yang belum termasuk lokasi Makam Santren Gejayan. Kami pakai sebagaian lahan makam untuk kebutuhan jalan,” kata Fauzan saat dihubungi, Senin (5/10/2026).
Pemkab Sleman sebelumnya telah menyiapkan pembebasan 11 bidang lahan untuk melanjutkan normalisasi Jalan Selokan Mataram. Rencana pembebasan lahan tersebut akan dimasukkan dalam penganggaran APBD Sleman 2027.
Pelebaran diperlukan karena masih terdapat sejumlah titik ruas Jalan Selokan Mataram yang menyempit akibat bidang lahan di sepanjang jalan. Setelah pembebasan lahan tuntas, badan jalan akan diperlebar sehingga kendaraan di ruas tersebut diharapkan dapat melintas lebih leluasa.
Kondisi ruas yang sempit salah satunya dirasakan warga Kampung Cepit, Condongcatur. Partini, warga setempat, mengatakan kendaraan roda empat masih mengalami kesulitan ketika berpapasan di ruas tersebut.
Berbeda dengan mobil, sepeda motor masih dapat melintas dengan lancar.
“Kalau mobil papasan yang macet. Kalau motor lancar. Kalau diperlebar ya lebih bagus,” kata Partini saat ditemui di warungnya, Senin.
Menurut Partini, rencana pelebaran Jalan Selokan Mataram sebenarnya sudah muncul sejak sebelum pandemi Covid-19. Sejumlah rumah di sekitar lokasi juga disebut telah menerima kompensasi pembebasan lahan.
Partini mengaku tidak keberatan apabila warung yang ditempatinya nantinya terkena proyek pelebaran jalan. Dia bahkan siap pindah apabila lahannya dibutuhkan untuk proyek tersebut.
“Kalau warung saya terkena ya pindah, bukan tanah saya juga di sini. Kalau diminta pindah juga tidak apa-apa,” katanya.
Dia menambahkan sebagian sisi utara jalan di sekitar warungnya juga sudah lebih dahulu dipotong. Hal itu dilakukan karena sebelumnya terdapat bangunan atau lahan yang menjorok ke badan jalan.
Kepala DPUPKP Sleman, Sukarmin, menjelaskan proyek pembangunan jalan tersebut nantinya menjadi tanggung jawab Pemerintah DIY. Sementara Pemkab Sleman berperan dalam menyelesaikan pembebasan lahan yang dibutuhkan di sepanjang jalan.
“Untuk konstruksi jalan atau jembatan akan ditangani provinsi. Sleman tugasnya menyelesaikan pembebasan lahannya,” kata Sukarmin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Basement Transhome Sleman masih mengeluarkan asap dan bersuhu tinggi. Petugas melakukan pendinginan serta pemantauan dari luar.
Konser Amal OM Lorenza akan digelar di Alun-Alun Wonosari, Jumat 9 Oktober 2026, sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Gunungkidul ke-196.
Angka pernikahan di Wonosari dan Gunungkidul menunjukkan tren menurun. Pendidikan, karier, ekonomi, jumlah penduduk, hingga relasi digital disebut menjadi fakto
5 rekomendasi laptop untuk desain grafis dan editing video dengan GPU bertenaga, RAM besar, serta layar berakurasi warna tinggi.
Survei World Values Survey menunjukkan 73,5% responden Indonesia percaya ada kehidupan setelah kematian. Indonesia berada di posisi ketujuh Asia.
Pekerja laboratorium di Irkutsk meninggal setelah pneumonia berat. Rusia memantau sekitar 200 kontak, tetapi pes belum dikonfirmasi.