Harga Cabai Rawit Gunungkidul Tembus Rp75.000, Ini Penyebabnya

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 07 Oktober 2026 10:17 WIB
Harga Cabai Rawit Gunungkidul Tembus Rp75.000, Ini Penyebabnya

Pedagang cabai rawit merah. - Foto ilustrasi/Antara

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Harga cabai rawit merah di pasar tradisional Gunungkidul kembali melonjak hingga mencapai Rp75.000 per kilogram pada awal Oktober 2026. Kenaikan tersebut terjadi setelah pasokan dari petani mulai berkurang karena masa puncak panen telah terlewati.

Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Ris Heryani mengatakan cabai rawit merupakan komoditas yang paling sering mengalami perubahan harga dibandingkan bahan kebutuhan pokok lainnya.

Pergerakan harga cabai rawit sepanjang tahun ini pun cukup dinamis. Sebelum Lebaran tahun ini, harganya sempat mencapai Rp100.000 per kilogram sebelum berangsur turun.

Memasuki pertengahan tahun, harga kembali naik hingga Rp80.000 per kilogram. Setelah sempat mengalami penurunan, harga cabai rawit kembali terkerek naik sejak akhir September.

Ris mengatakan kenaikan terbaru berlangsung secara bertahap. Pada awalnya, harga cabai rawit merah berada di kisaran Rp40.000 per kilogram, kemudian terus meningkat hingga menembus Rp75.000 per kilogram pada awal Oktober.

“Sama seperti kenaikan di periode sebelumnya juga berlangsung bertahap. Awalnya dipasarkan Rp35.000 terus menjadi Rp40.000, naik lagi menjadi Rp50.000, kemudian menyentuh Rp75.000 per kilogram,” katanya, Selasa (6/10/2026).

Pasokan Cabai Menipis

Ris Heryani menjelaskan perubahan harga cabai rawit berkaitan erat dengan kondisi pasokan di pasar. Ketika stok berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga komoditas tersebut cenderung mengalami kenaikan.

Kondisi itu terlihat pada cabai rawit merah saat ini. Permintaan masyarakat masih tinggi, sedangkan pasokan dari petani mulai berkurang karena masa puncak panen telah terlewati.

Akibatnya, pasokan cabai rawit ke pasar tidak lagi selancar sebelumnya. “Flutuasi harga sangat dipengaruhi pasokan,” katanya.

Ris menambahkan komoditas kebutuhan pokok lainnya relatif lebih stabil. Beras, misalnya, berada di kisaran Rp13.200-14.900 per kilogram, sedangkan gula pasir dijual Rp17.500 per kilogram.

Untuk komoditas lainnya, harga telur tercatat Rp24.500 per kilogram dan daging ayam Rp40.000 per kilogram. Adapun bawang merah dipasarkan Rp28.000 per kilogram dan bawang putih Rp38.000 per kilogram.

Pemantauan Harga Dilakukan Rutin

Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, mengatakan pemantauan harga kebutuhan pokok di pasar terus dilakukan secara rutin.

Menurut dia, pemantauan tidak hanya dilakukan untuk mengetahui perkembangan harga, tetapi juga untuk mengetahui kondisi stok kebutuhan pokok di lapangan.

“Kami pastikan terus dilakukan pengawasan dan pemantauan. Adapun hasilnya rutin dilaporlan ke Kementerian Perdagangan melalui Pemerintah DIY,” katanya.

Selain pemantauan, pemerintah juga melakukan upaya stabilisasi harga melalui kegiatan operasi pasar. Kelik mencontohkan kegiatan yang belum lama ini digelar dengan komoditas minyak goreng merek Minyakita.

Pemerintah juga menjalin kerja sama dengan pedagang melalui program toko pengendali inflasi. Program tersebut diarahkan untuk menjaga ketersediaan barang sekaligus keterjangkauan dan stabilitas harga di pasaran.

“Kami juga ada kerja sama dengan pedagang bertajuk toko pengendali inflasi. Program ini dijalankan sebagai upaya untuk menjaga ketersediaan, keterjangkauan dan stabilitas harga di pasaran,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online