Seniman Lintas Negara Angkat Warisan Budaya ke Panggung Pertunjukan di Jogja

Sunartono
Sunartono Rabu, 07 Oktober 2026 06:37 WIB
Seniman Lintas Negara Angkat Warisan Budaya ke Panggung Pertunjukan di Jogja

Seniman Indonesia, Malaysia, dan Singapura berkolaborasi menghadirkan dua pertunjukan tentang warisan budaya bersama di Yogyakarta. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Seniman lintas negara terdiri dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura akan mempertemukan gagasan tentang warisan budaya bersama Asia Tenggara melalui dua pertunjukan di Yogyakarta pada Oktober 2026.

Dua karya tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas negara dalam program Embracing Shared Heritage through Performing Arts yang digagas UNESCO melalui kemitraan dengan Temasek Foundation.

Pertunjukan Hutan dijadwalkan hadir dalam Pesta Boneka pada 6–7 Oktober di Kampung Media. Sementara itu, Rumah dari Lidah akan dipentaskan dalam Bedog Arts Festival pada 9–10 Oktober di Studio Banjarmili.

Program tersebut mempertemukan seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama empat bulan untuk bertukar gagasan sekaligus menciptakan karya bersama. Kolaborasi itu menggali kembali makna warisan budaya yang berkembang dan saling terhubung di kawasan Asia Tenggara.

Head of Culture UNESCO Regional Office in Jakarta Moe Chiba mengatakan seni memiliki kemampuan melintasi batas negara, tetapi kesempatan bagi para seniman dari berbagai negara untuk bertemu dan berkarya bersama belum selalu terbuka luas.

Ia menilai karya seni kerap melintasi batas negara dengan cara yang tak terduga. Namun, para senimannya sendiri belum tentu memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan berkarya bersama.

"Melalui inisiatif ini, kami ingin memberi ruang bagi para seniman untuk bertemu, bertukar gagasan dan menciptakan karya baru dari warisan budaya yang menghubungkan mereka,” kata Moe Chiba, Head of Culture, UNESCO Regional Office in Jakarta dalam rilisnya, Selasa (6/10/2026).

Menggali keterhubungan budaya Asia Tenggara

Menurut Moe, proses kolaborasi tersebut mempertemukan beragam sejarah, identitas, dan tradisi seni. Pertukaran itu sekaligus membuka kemungkinan baru untuk menafsirkan serta mengekspresikan warisan budaya melalui seni pertunjukan.

Head of Programmes Office and Resilient Societies Temasek Foundation James Chan mengatakan masyarakat Asia Tenggara memiliki banyak keterhubungan, meski setiap komunitas tetap mempunyai tradisi, cerita, dan sudut pandang masing-masing.

Menurutnya masyarakat di Asia Tenggara terhubung dalam banyak hal, namun masing-masing memiliki tradisi, cerita, dan cara pandangnya sendiri. Seni membuka ruang bagi orang-orang untuk berkumpul, mengenal pengalaman yang berbeda, dan menemukan titik temu.

"Melalui kemitraan ini, Temasek Foundation berharap pertukaran seperti ini dapat mempererat hubungan antarbudaya dan mendorong harmoni ditengah keberagaman kawasan kita” kata James Chan, Head of Programmes Office and Resilient Societies, Temasek Foundation.

Dua pertunjukan yang akan dipentaskan di Yogyakarta tersebut mengangkat warisan budaya bersama dengan sudut pandang berbeda.

Hutan mengeksplorasi hubungan masyarakat dengan hutan sebagai ruang alam sekaligus ruang budaya. Cerita, ingatan, kepercayaan, serta hubungan antara manusia dan alam menjadi bagian dari eksplorasi dalam pertunjukan tersebut.

Hutan juga menerapkan sejumlah pendekatan inklusif sehingga pertunjukan dapat lebih mudah diakses oleh beragam penonton, termasuk penonton neurodivergen.

Rumah dari Lidah telusuri warisan Peranakan

Sementara itu, Rumah dari Lidah mengangkat warisan budaya Peranakan dan keterkaitannya dengan Indonesia, Malaysia, serta Singapura.

Pertunjukan tersebut menelusuri sejarah masyarakat Peranakan yang terbentuk melalui proses migrasi dan pertukaran budaya dari generasi ke generasi.

Sutradara Rumah dari Lidah, Melati Suryodarmo, mengatakan dirinya tidak ingin menggambarkan budaya Peranakan hanya melalui satu cerita. Sebaliknya, pertunjukan tersebut memberi ruang bagi beragam pengalaman pribadi yang berkaitan dengan sejarah dan kehidupan masyarakat Peranakan.

“Saya tidak ingin menggambarkan budaya Peranakan hanya melalui satu cerita. Saya ingin membuka ruang bagi beragam pengalaman pribadi, potongan sejarah, bahasa, makanan, dan ingatan yang mungkin selama ini tersembunyi atau terlupakan,” ujar Melati Suryodarmo, Sutradara dari Rumah dari Lidah.

Program Embracing Shared Heritage through Performing Arts telah dimulai sejak 2025. Program tersebut mempertemukan seniman, peneliti, mahasiswa, dan pelaku budaya dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura melalui berbagai kegiatan, mulai dari lokakarya, diskusi, hingga pertukaran seni.

Dua pertunjukan di Yogyakarta menjadi bagian dari hasil proses kolaborasi tersebut sebelum karya diperkenalkan kepada publik melalui Pesta Boneka dan Bedog Arts Festival.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online