IABI Ungkap Gempa Lombok Barat M5 Intraslab, Bukan Sesar Dangkal

Sunartono
Sunartono Rabu, 07 Oktober 2026 08:27 WIB
IABI Ungkap Gempa Lombok Barat M5 Intraslab, Bukan Sesar Dangkal

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, JAKARTA—Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menjelaskan gempa tektonik bermagnitudo 5,0 yang mengguncang Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan gempa intraslab yang bersumber dari deformasi internal Lempeng Australia.

Gempa tersebut terjadi pada pukul 03.15 WIB dengan kedalaman 82 kilometer. Anggota IABI, Daryono, mengatakan gempa dipicu patahan sesar turun atau normal fault di dalam tubuh lempeng samudra yang menunjam ke bawah kawasan Lombok-Bali.

"Gempa ini bukan gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di Pulau Lombok, melainkan gempa intraslab di mana sumbernya berada di dalam Lempeng Australia yang menunjam ke bawah kawasan Lombok-Bali," kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurut Daryono, gempa tersebut terjadi ketika akumulasi tegangan atau stress pada slab lempeng yang menunjam melampaui daya tahan batuan. Kondisi itu kemudian memicu patahan internal dan memancarkan gelombang seismik dengan daya sebar guncangan yang amat luas.

Guncangan Terasa di Sejumlah Wilayah

Estimasi peta guncangan atau shakemap Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah.

Guncangan mencapai skala IV-V MMI di Mataram. Sementara itu, Lombok Tengah mengalami guncangan III-IV MMI.

Guncangan skala III MMI tercatat di Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, dan Sumbawa. Adapun Kuta dan Denpasar, Bali, merasakan guncangan pada skala II-III MMI.

Daryono menjelaskan karakteristik gempa intraslab memiliki tingkat produktivitas gempa susulan yang cenderung lebih rendah dibandingkan gempa kerak dangkal. Hal itu berkaitan dengan proses ruptur yang berlangsung pada kondisi tekanan dan suhu tinggi di kedalaman bumi.

Ancaman Gempa Perlu Dipahami Secara 3 Dimensi

Menurut Daryono, peristiwa di Lombok Barat menjadi pengingat bahwa ancaman gempa bumi di Indonesia perlu dipahami secara tiga dimensi.

Ancaman tersebut tidak hanya berasal dari sesar aktif di permukaan maupun zona megathrust. Gempa intraslab juga perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan guncangan yang merusak apabila magnitudonya cukup besar, meskipun hiposenternya relatif dalam.

Indonesia memiliki sejumlah contoh gempa intraslab. Salah satunya gempa Jawa Timur bermagnitudo 6,1 pada 10 April 2021 yang berpusat di Samudra Hindia sebelah selatan Malang.

Gempa tersebut merupakan gempa intraslab yang menimbulkan kerusakan pada ribuan bangunan di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.

"Sumbernya boleh jauh di kedalaman, tetapi gelombang gempanya dapat menjangkau wilayah yang sangat luas dan tetap patut diwaspadai," cetusnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online