Siswa Dilibatkan dalam Pemorsian MBG Prasmanan di Sleman, Ini Alasannya

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 08 Oktober 2026 20:07 WIB
Siswa Dilibatkan dalam Pemorsian MBG Prasmanan di Sleman, Ini Alasannya

Siswa SDN Soprayan sedang antre untuk menerima program Makan Bergizi Gratis di SDN Soprayan, Kalurahan Girikerto, Turi, Sleman, Rabu (7/10/2026)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono

Harianjogja.com, SLEMAN—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di Sleman tidak sekadar mengatur cara siswa mengambil makanan. Dalam uji coba yang berlangsung di SPPG Sleman Turi Bangunkerto 2, siswa SDN Soprayan di Girikerto, Turi dilibatkan secara langsung dalam proses pemorsian makanan.

Pelibatan siswa tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan jam makan di sekolah sebagai sarana edukasi bagi peserta didik. Melalui sistem ini, siswa tidak hanya menerima makanan, tetapi juga belajar mengambil makanan sesuai kebutuhan masing-masing.

Koordinator Wilayah BGN Sleman, Hening Sucahya mengatakan keterlibatan siswa dalam pemorsian menjadi salah satu karakteristik utama sistem MBG prasmanan yang tengah diuji coba.

"Pelibatan peserta didik secara langsung sebagai relawan pemorsian menjadi karakteristik utama sekaligus keunggulan dari sistem MBG prasmanan ini," kata Hening dikonfirmasi, Kamis.

Jam Makan Jadi Sarana Edukasi

Menurut Hening, pelibatan siswa dalam proses pemorsian memiliki sejumlah tujuan. Salah satunya adalah mengintegrasikan edukasi gizi dan pembentukan karakter melalui aktivitas makan di sekolah.

Jam makan dimanfaatkan untuk membiasakan siswa menerapkan kedisiplinan, kebersihan, tanggung jawab, serta pola makan sehat. Siswa juga dilibatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan kelas selama seluruh rangkaian kegiatan makan berlangsung.

Sistem prasmanan juga dirancang untuk membantu mengendalikan sisa makanan. Siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan sehingga diharapkan tidak mengambil porsi secara berlebihan dan jumlah makanan yang terbuang dapat ditekan.

Selain itu, siswa dibiasakan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebelum, selama, dan setelah makan. Aktivitas makan bersama juga diharapkan membangun budaya makan yang positif sekaligus menumbuhkan kebersamaan dan gotong royong antarsiswa.

Tetap Diawasi Guru dan Petugas SPPG

Meski siswa terlibat secara langsung dalam pemorsian, proses tersebut tetap dilakukan dengan pengawasan guru dan petugas SPPG. Pengawasan diperlukan untuk memastikan standar higiene dan sanitasi tetap diterapkan selama kegiatan berlangsung.

Pengawasan tersebut mencakup kebersihan peralatan serta upaya mencegah risiko kontaminasi makanan. Dengan demikian, keterlibatan siswa tetap berjalan dalam kondisi yang aman dan sesuai standar.

SPPG Sleman Turi Bangunkerto 2 menjadi lokasi pilot project MBG dengan sistem prasmanan yang diinisiasi Badan Gizi Nasional (BGN). Model ini dikembangkan dengan mengadopsi pembelajaran dari sistem makan siang sekolah di Jepang melalui konsep kyūshoku dan shokuiku.

Hening mengatakan pelaksanaan uji coba saat ini difokuskan agar berjalan aman, tertib, dan sesuai standar operasi. Seluruh proses akan dicatat dan dilaporkan sebagai bahan evaluasi untuk menyempurnakan model layanan MBG prasmanan sebelum kemungkinan diterapkan secara lebih luas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online