Kustomfest ke-15 Jadi Ruang Industri Kustom Hadapi Produk China

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 08 Oktober 2026 20:47 WIB
Kustomfest ke-15 Jadi Ruang Industri Kustom Hadapi Produk China

Direktur Kustomfest Lulut Wahyudi (tengah) menyampaikan maksud tema High-Octane dalam gelar Kustomfest ke-15 di Sender Coffee, Caturtunggal, Depok, Sleman, Kamis (8/10/2026)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono

Harianjogja.com, SLEMAN—Kustomfest kembali menjadi ruang bertemunya pelaku dan penikmat industri kreatif otomotif di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu hingga Minggu (10-11/10/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-15, perhelatan yang digagas Lulut Wahyudi tersebut mengajak pelaku industri kustom terus berinovasi dan saling menopang menghadapi tekanan ekonomi serta persaingan industri otomotif yang semakin ketat.

Direktur Kustomfest Lulut Wahyudi mengatakan keberadaan Kustomfest tidak sebatas menjadi ajang berkumpul. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelaku industri kustom untuk belajar, bertukar gagasan, berkembang bersama, sekaligus membangun daya tahan menghadapi perubahan.

“Kustomfest perlu terus adaptasi di tengah tekanan ekonomi dan persaingan dengan industri besar,” kata Lulut dalam jumpa pers di Sender Coffee, Caturtunggal, Kamis.

Tekanan Produk China Jadi Tantangan

Lulut mengatakan tantangan industri kreatif otomotif saat ini juga datang dari ekspansi industri China yang semakin kuat, termasuk di sektor otomotif. Kondisi tersebut membuat pelaku industri kustom perlu menyiapkan strategi agar dapat bertahan sekaligus terus berkembang.

Menurutnya, Kustomfest berusaha menjadi ruang bersama untuk mencari berbagai solusi atas tantangan tersebut. Ekosistem yang dibangun melalui perhelatan ini diharapkan memberikan ruang yang aman bagi pelaku industri untuk berkolaborasi, bertukar gagasan, dan merespons tekanan ekonomi.

Semangat itu kemudian dituangkan melalui tema Kustomfest tahun ini, yakni High-Octane. Tema tersebut menjadi simbol energi baru untuk terus menggerakkan dunia kustom.

“Maka Kustomfest kali ini mengangkat tema High-Octane. Bahan bakar beroktan tinggi mampu menjadi bahan bakar optimal,” katanya.

Gen Z Disiapkan Jadi Generasi Baru

Kustomfest juga tidak hanya berbicara mengenai karya dan produk yang ditampilkan dalam perhelatan tahunan. Upaya membangun generasi baru pelaku industri kreatif otomotif menjadi bagian dari ekosistem yang terus dikembangkan.

Lulut menilai Generasi Z memiliki posisi penting dalam keberlanjutan industri tersebut. Dia menyadari Kustomfest bagi sebagian anak muda kerap lebih dahulu dikenal melalui musisi yang tampil di panggung, tetapi musik hanya merupakan bagian dari keseluruhan rangkaian acara.

“Kalau Generasi Z kan ketika mendengar Kustomfest yang terbersit pertama adalah siapa pengisi panggung musiknya. Kami memandang ini sebagai cara membangun generasi baru. Panggung musik hanya menjadi rangkaian yang lebih besar,” ucapnya.

Karena itu, transformasi Kustomfest terus dilakukan dengan menangkap perkembangan selera generasi muda sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk terlibat dalam ekosistem kreatif otomotif.

Sender Coffee dan Cerita Generasi Muda

Irisan antara generasi muda dan ekosistem kreatif juga terlihat melalui kolaborasi Kustomfest dengan pelaku usaha kreatif. Co-Founder Sender Coffee, Gebby Ragil Triyanto, mengatakan dirinya telah mengikuti Kustomfest sejak 2012 ketika masih duduk di bangku SMA.

Kini, pada usia 30 tahun, Gebby melihat adanya irisan antara Sender dan Kustomfest yang dapat dikembangkan melalui sebuah narasi bersama. Menurutnya, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah ekosistem dapat mempertemukan generasi muda dengan ruang untuk berkarya.

“Sender lahir bersama Gen Z,” kata Gebby.

Menurut Gebby, anak muda memiliki kemampuan untuk mengolah berbagai hal yang mereka temui menjadi sesuatu yang produktif. Karena itu, kegelisahan dan gagasan generasi muda perlu mendapatkan ruang agar dapat diwujudkan menjadi karya maupun aktivitas nyata.

Kolaborasi lintas generasi pun dinilai penting untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Kustomfest menjadi salah satu ruang yang mempertemukan pelaku dari berbagai latar belakang untuk berbagi pengalaman dan mengembangkan gagasan.

Berawal dari Pengunjung, Kini Jadi Pelaku Kustom

Cerita mengenai berkembangnya pelaku industri kustom juga datang dari Founder Trooper Custom, Oki Nandhiwardhana. Ketertarikannya terhadap dunia kustom bermula ketika dia mengikuti Kustomfest pada 2014 saat masih duduk di bangku kuliah.

Pengalaman tersebut kemudian mendorong Oki mengembangkan gagasan membuat produk helm dengan pendekatan berbeda. Produk tersebut terus dikembangkan hingga akhirnya memperoleh sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) pada 2020, di tengah situasi pandemi Covid-19.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa industri kustom berkembang melalui keberanian pelakunya untuk mencoba dan berinovasi. Tantangan berupa kondisi ekonomi dan persaingan industri membuat kemampuan bertahan perlu berjalan beriringan dengan inovasi.

“Kustomfest menjadi ruang yang supportif dalam membentuk ekosistem yang baik,” kata Oki.

Kustomfest Berkembang Menjadi Kultur

Ekosistem kustom yang dibangun selama bertahun-tahun juga berkembang menjadi sebuah kultur. Seniman rupa, Decki “Leos” Firmansah, mengatakan keterlibatannya dalam Kustomfest telah berlangsung cukup lama.

Menurutnya, Kustomfest kini telah berkembang menjadi budaya yang mengikat para pelakunya. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya orang yang bergabung dan berkarya setiap tahun.

“Kustomfest ibarat iring-iringan panjang. Tiap tahun bertambah [penikmat dan pelakunya]. Sebab itu kustom kultur mengikat kami,” ujarnya.

Memasuki penyelenggaraan ke-15, Kustomfest akhirnya tidak hanya menjadi perhelatan tahunan masyarakat otomotif. Perhelatan tersebut juga menjadi ruang yang mempertemukan karya, generasi, dan gagasan untuk menjaga keberlanjutan industri kreatif otomotif.

Di tengah tekanan ekonomi dan persaingan industri, keberlangsungan ekosistem kustom bergantung pada kemampuan para pelakunya untuk terus berinovasi, berkolaborasi, beradaptasi, serta menyiapkan generasi baru.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online