PHRI Sleman dan DP3 Bangun Sistem Pemasaran Produk Lokal
PHRI Sleman dan DP3 membangun sistem informasi pemasaran untuk mempertemukan supplier produk lokal dengan pelaku usaha.
Pasar Sentul Jogja - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Pasar Sentul, Kota Jogja, menghadapi tantangan untuk menarik kembali pembeli setelah revitalisasi karena sebagian pedagang memilih tetap berjualan di rumah-rumah warga yang disewa selama relokasi sementara. Kemudahan akses untuk berbelanja menggunakan sepeda motor membuat sebagian konsumen bertahan di lokasi tersebut, sehingga pasar harus bersaing untuk mengembalikan aktivitas perdagangan ke dalam area pasar.
Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja, Oleg Yohan, mengatakan sebagian pedagang yang sebelumnya berjualan di lokasi relokasi Pasar Sentul kini menyewa tempat di rumah warga. Kondisi ini membuat pembeli yang telanjur terbiasa berbelanja di lokasi sementara tidak seluruhnya kembali ke pasar.
“Penjual-penjual ini ternyata sudah nyewa ke rumah-rumah warga. Pembeli pun sebagian tertinggal di pasar sementara ini,” kata Oleg ditemui di kantornya, Senin (12/10/2026).
Kemudahan Akses Jadi Tantangan Pasar Sentul
Menurut Oleg, salah satu persoalan yang dihadapi Pasar Sentul adalah perbedaan kemudahan akses antara lokasi berjualan di rumah warga dan area pasar. Pembeli dapat menghentikan sepeda motor untuk membeli kebutuhan tertentu tanpa harus masuk ke dalam pasar.
Sebaliknya, konsumen yang berbelanja di Pasar Sentul perlu naik ke area pasar untuk mendapatkan barang yang sama. Perbedaan akses tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mengembalikan kebiasaan belanja masyarakat ke lokasi pasar.
Upaya mengembalikan aktivitas perdagangan juga tidak bisa dilakukan dengan serta-merta menghentikan jual beli di bekas lokasi relokasi. Oleg menjelaskan para pedagang telah menyewa tempat kepada warga, sehingga keberadaan mereka di lokasi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi persaingan perdagangan.
Ia mencontohkan kawasan Pasar Kali Mambu yang masih ramai meskipun sebagian aktivitas perdagangan berlangsung di pinggir jalan. Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa lokasi berjualan dan kemudahan akses menjadi faktor penting yang memengaruhi pilihan konsumen.
Revitalisasi Bangunan Tak Menjamin Pasar Lebih Ramai
Persoalan Pasar Sentul juga berkaitan dengan anggapan bahwa pembenahan fisik pasar akan otomatis meningkatkan jumlah pengunjung. Oleg menilai revitalisasi bangunan saja belum tentu membuat aktivitas perdagangan semakin ramai.
“Pasar Pingit itu menurut pengamatan saya justru mengalami penurunan keramaian setelah dibenahi,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi catatan mengenai tantangan yang dihadapi pasar tradisional setelah pembenahan fisik. Selain kondisi bangunan, pasar juga perlu memperhatikan faktor yang memengaruhi keputusan konsumen untuk datang dan berbelanja.
Dalam konteks Pasar Sentul, persaingan dengan pedagang yang masih berjualan di rumah warga menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhitungkan. Kebiasaan pembeli yang sudah terbentuk selama masa relokasi turut menjadi tantangan untuk menghidupkan kembali perdagangan di area pasar.
Pasar Perlu Memiliki Identitas Dagang
Untuk menghadapi persaingan, Oleg mendorong setiap pasar memiliki identitas dagang yang jelas. Keunggulan atau produk khas dapat menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih berkunjung ke pasar tertentu.
Ia mencontohkan Pasar Ngasem yang dapat dikenal melalui produk unggulannya. Sementara itu, Pasar Kranggan dinilai memiliki potensi dari lokasinya di pusat kota serta aktivitas kuliner pada malam hari.
Identitas tersebut dapat menjadi pembeda antarpasar di tengah persaingan mendapatkan pembeli. Dengan demikian, upaya menghidupkan pasar tradisional tidak hanya bertumpu pada pembenahan bangunan, tetapi juga perlu mempertimbangkan daya tarik perdagangan dan kebutuhan konsumen.
Bagi Pasar Sentul, tantangan yang dihadapi mencakup persaingan dengan pedagang di luar area pasar, kemudahan akses berbelanja, serta kebiasaan konsumen yang terbentuk selama relokasi sementara. Faktor-faktor tersebut menjadi bagian penting yang perlu diperhitungkan agar revitalisasi berdampak pada aktivitas perdagangan, bukan hanya pada kondisi fisik bangunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PHRI Sleman dan DP3 membangun sistem informasi pemasaran untuk mempertemukan supplier produk lokal dengan pelaku usaha.
Harga cabai merah di Jateng mencapai Rp90.000 per kg. Pemprov Jateng menggelar pangan murah dan memberi bantuan untuk menekan inflasi.
Kota Jogja mencatat 77 kejadian kebakaran hingga September 2026. Umbulharjo terbanyak, sementara Damkarmat belum merancang program baru pada 2027.
Bareskrim Polri memburu bandar dan penyuplai narkoba lewat operasi nasional. Sebanyak 60 orang diamankan di Jakarta dan Sumatra Utara.
Kelok 23 ditargetkan rampung pada 2027. Simak kendala pembangunan, rambu keselamatan, drainase, hingga rencana penataan lalu lintas.
Pasar Sentul menghadapi persaingan pedagang yang berjualan di rumah warga. Kemudahan akses dan kebiasaan pembeli menjadi tantangan revitalisasi.