SEMA UGM Surati ASEAN soal Kabut Asap, Desak Evaluasi Penanganan Karhutla

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Minggu, 18 Oktober 2026 07:37 WIB
SEMA UGM Surati ASEAN soal Kabut Asap, Desak Evaluasi Penanganan Karhutla

Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM) menyurati Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, untuk mendesak evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap lintas negara. Mereka meminta ASEAN melakukan penilaian independen dan terbuka terhadap kepatuhan Indonesia pada kesepakatan regional mengenai pencemaran asap lintas batas.

Ketua Umum SEMA UGM, Mesa Syafitra, mengatakan surat terbuka tersebut diterbitkan sebagai respons terhadap krisis karhutla yang disebut telah melanda Kalimantan selama berbulan-bulan dan berdampak hingga negara tetangga.

“SEMA UGM menyoroti dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, pendidikan anak-anak, dan pemenuhan hak warga atas udara bersih,” kata Mesa pada Sabtu (17/10/2026).

Menurut Mesa, persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga berdampak terhadap kehidupan masyarakat. SEMA UGM menyoroti gangguan kesehatan, pendidikan anak-anak, serta hak warga untuk mendapatkan udara bersih.

## SEMA UGM Soroti Kesepakatan ASEAN soal Kabut Asap

Melalui surat terbuka kepada Sekjen ASEAN, SEMA UGM meminta evaluasi terhadap kepatuhan Indonesia pada *ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution*, yakni kesepakatan regional terkait pencemaran asap lintas batas.

“Kami mendesak ASEAN melakukan penilaian independen dan terbuka terhadap kepatuhan Indonesia pada ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution,” demikian pernyataan SEMA UGM.

Selain meminta penilaian independen, organisasi mahasiswa tersebut mendesak ASEAN mendorong pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Mereka juga meminta pemerintah menerima bantuan regional untuk mempercepat pemadaman kebakaran.

SEMA UGM turut menyoroti tawaran bantuan pemadaman dari Malaysia dan Singapura. Menurut organisasi tersebut, tawaran bantuan itu tidak dibahas dalam rapat bersama Presiden pada 12 Oktober 2026.

Mereka menilai seluruh sumber daya yang tersedia perlu dimanfaatkan untuk melindungi masyarakat yang terdampak kabut asap dan kebakaran.

Singgung Gugatan Warga Kalimantan Barat

Dalam pernyataannya, Mesa juga menyinggung langkah masyarakat Kalimantan Barat yang mengajukan gugatan perwakilan kelompok terhadap Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta sejumlah pejabat terkait.

Gugatan tersebut berkaitan dengan dugaan kelalaian dalam pencegahan dan penanganan karhutla.

SEMA UGM juga meminta ASEAN menunjukkan solidaritas kepada warga yang terdampak, masyarakat yang turut membantu memadamkan api, serta kelompok yang memperjuangkan keadilan melalui jalur hukum dan aksi publik.

Bagi SEMA UGM, penanganan kabut asap lintas negara membutuhkan langkah nyata, bukan hanya pernyataan diplomatik.

“Pernyataan diplomatik saja tidak akan membersihkan udara. Asap telah melintasi batas negara; solidaritas dan keberanian politik harus melakukan hal yang sama,” ujar Mesa.

SEMA UGM Minta Karhutla Tak Dianggap Bencana Musiman

Mesa menambahkan SEMA UGM berharap karhutla tidak kembali dipandang sebagai bencana musiman yang berulang tanpa penyelesaian konkret.

Organisasi mahasiswa tersebut menginginkan penanganan yang berorientasi pada pengendalian kebakaran, pemulihan hak masyarakat, serta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terbukti bersalah.

Desakan kepada ASEAN itu menjadi bagian dari perhatian SEMA UGM terhadap dampak karhutla yang meluas hingga lintas negara. Melalui surat terbuka tersebut, mereka meminta evaluasi kepatuhan terhadap kesepakatan regional disertai langkah konkret untuk melindungi masyarakat terdampak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online