Rektor Unriyo Berharap Lulusan Jadi Pencipta Lapangan Kerja, 455 Orang Diwisuda

Newswire
Newswire Rabu, 28 Oktober 2026 03:47 WIB
Rektor Unriyo Berharap Lulusan Jadi Pencipta Lapangan Kerja, 455 Orang Diwisuda

Foto ilustrasi wisuda mahasiswa. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) mewisuda 455 mahasiswa dari berbagai program studi, Selasa (27/10/2026). Dalam momentum tersebut, Rektor Unriyo, Profesor Hari Kusnanto, berpesan agar para lulusan tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga berani merintis usaha dan menciptakan lapangan kerja.

Para wisudawan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, hingga Bali. Ia turut mengapresiasi para lulusan yang dapat menyelesaikan studi tepat waktu, termasuk dalam penyusunan tugas akhir atau skripsi.

"Jadi, relatif cukup banyak dan masa studi juga relatif tepat waktu. Jadi, kami sangat senang dengan pola pendidikan yang kami terapkan, ternyata mahasiswanya tidak molor-molor gitu, termasuk membuat skripsi juga tepat waktu," tuturnya.

Hari menekankan pentingnya kemandirian bagi lulusan di tengah persaingan global. Menurutnya, bekal pendidikan di perguruan tinggi perlu diikuti keberanian untuk mengembangkan potensi dan menciptakan peluang usaha.

Kampus telah membekali mahasiswa dengan pengetahuan kewirausahaan melalui mata kuliah umum dan pengalaman praktik lapangan. Pengembangan jiwa usaha juga diasah selama mahasiswa mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Ia menilai mahasiswa menunjukkan kreativitas dalam menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat. Kemampuan tersebut diharapkan menjadi modal bagi lulusan untuk merintis usaha setelah menyelesaikan pendidikan.

"Setelah lulus karena kami mengharapkan mereka bisa menciptakan pekerjaan ya, karena kewirausahaan juga mereka belajar dan mereka juga saya pantau waktu KKN juga kreatif sekali bisa membuat produk-produk yang dibutuhkan masyarakat," kata Hari.

Ia juga meminta para wisudawan tidak takut menghadapi kegagalan ketika mencoba membangun usaha. Menurutnya, kegagalan merupakan bagian dari proses yang dapat menjadi pengalaman untuk mencoba kembali.

"Jangan takut mencoba, gagal enggak apa-apa, mencoba lagi, gagal enggak apa-apa," tegasnya.

Ketua Yayasan Respati, Tiwi Nurhastuti, mengingatkan bahwa wisuda bukan akhir perjalanan belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar di tengah masyarakat.

Ia menekankan bahwa gelar akademik perlu diwujudkan melalui kompetensi, perilaku, integritas, dan kontribusi nyata. Yayasan Respati, menurutnya, memiliki visi membentuk insan yang tangguh, berdaya saing, berintegritas, serta berlandaskan nilai luhur bangsa.

Menghadapi perubahan teknologi dan persaingan global, Tiwi mengajak para lulusan menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat. Alumni juga diharapkan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja atau job seeker, tetapi mampu menciptakan peluang dan membuka lapangan kerja sebagai job creator.

"Jadilah generasi yang mampu membawa nilai luhur bangsa ke dalam praktik profesional dan kehidupan bermasyarakat," katanya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, menyoroti tantangan psikologis dan moral yang dihadapi generasi muda, khususnya Generasi Z, di tengah perkembangan teknologi digital.

Ia menyinggung tantangan menghadapi tekanan atau ketidakpastian dengan cara yang kurang sehat. Paparan media sosial yang terus-menerus juga disebut berkaitan dengan persoalan overthinking atau pemikiran berlebihan.

"Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, para lulusan jangan mudah menyerah pada keadaan dan tetap memiliki ketangguhan dalam menjalani kehidupan setelah lulus dari perguruan tinggi," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online