UIN Sunan Kalijaga Luncurkan Ki Suka Menjawab, Layanan Informasi Berbasis AI

Sunartono
Sunartono Jum'at, 16 Oktober 2026 05:17 WIB
UIN Sunan Kalijaga Luncurkan Ki Suka Menjawab, Layanan Informasi Berbasis AI

UIN Sunan Kalijaga meluncurkan Ki Suka Menjawab, layanan informasi publik berbasis AI yang dapat diakses 24 jam dalam beberapa bahasa. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Masyarakat kini memiliki cara baru untuk mengakses informasi resmi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga melalui layanan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Layanan bernama Ki Suka Menjawab ini dikembangkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) UIN Sunan Kalijaga bersama mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Ki Suka Menjawab diperkenalkan dalam Seminar Nasional Keterbukaan Informasi Publik bertajuk “Pelayanan Informasi Publik Berbasis AI” di Teatrikal Fakultas Kedokteran lantai 4, Kamis (15/10/2026). Inovasi tersebut dirancang untuk memudahkan masyarakat memperoleh informasi kampus melalui mekanisme percakapan tanpa harus menelusuri halaman situs satu per satu.

Peluncuran layanan ditandai dengan pemukulan gong oleh Ketua Komisi Informasi Pusat, Fb. Fx Handoko Agung Saputro. Pada kesempatan yang sama, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, bersama Arman Fauzi menyingkap tirai penutup barcode pada maskot Ki Suka Menjawab.

Barcode tersebut dapat dipindai untuk mengakses layanan informasi publik berbasis AI. Kehadiran layanan ini menjadi bagian dari upaya PPID UIN Sunan Kalijaga meningkatkan keterbukaan informasi yang responsif, inklusif, dan akuntabel.

Ketua Pelaksana yang juga Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (AUK), Ali Sodiq, mengatakan pengembangan Ki Suka Menjawab merupakan bentuk pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan informasi publik.

"Sistem ini menggunakan informasi yang tersedia di situs resmi UIN Sunan Kalijaga sebagai sumber data. Dengan demikian, masyarakat dapat mencari informasi terkait kampus melalui satu layanan berbasis AI," katanya.

Bisa Diakses 24 Jam dalam Tiga Bahasa

Pengembang aplikasi, Muhammad Hadli Alfurqon, menjelaskan Ki Suka Menjawab dirancang untuk membantu masyarakat memperoleh informasi mengenai UIN Sunan Kalijaga melalui percakapan. Sumber informasinya berasal dari situs resmi yang terafiliasi dengan kampus tersebut.

Hadli, yang juga mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, menjelaskan layanan itu memanfaatkan teknologi AI dari Anthropic untuk menyajikan jawaban secara terperinci.

Sistem bekerja dengan memproses pertanyaan pengguna, menelusuri informasi dalam basis data yang tersedia, kemudian menyampaikan jawaban secara langsung. Mekanisme ini diharapkan membuat pencarian informasi kampus lebih praktis dibandingkan menelusuri setiap halaman situs secara manual.

Ki Suka Menjawab juga dirancang untuk memahami pertanyaan dalam beberapa bahasa, yakni bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Layanan tersebut dapat diakses selama 24 jam dengan gaya komunikasi yang ramah.

Selain itu, pembaruan informasi dapat dilakukan melalui server ketika terdapat data terbaru. Fitur tersebut menjadi bagian dari rancangan layanan agar informasi yang disampaikan dapat mengikuti pembaruan data yang tersedia.

Rektor Tekankan Integritas dalam Pemanfaatan AI

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, menyambut baik pengembangan layanan informasi berbasis AI tersebut. Di hadapan ratusan peserta dari berbagai instansi, ia menyampaikan pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola perguruan tinggi yang lebih terbuka dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Peserta seminar berasal dari Kementerian Agama pusat, 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), tiga pemerintah daerah, perguruan tinggi negeri dan swasta, serta unsur internal UIN Sunan Kalijaga.

Noorhaidi menilai AI dapat membantu mempercepat dan mengefisienkan layanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus diimbangi kemampuan manusia untuk berpikir secara logis, kritis, dan kreatif.

“Pemanfaatan AI dapat mempercepat sekaligus mengefisienkan layanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Namun, AI bukan untuk membuat makalah atau menjawab tugas tanpa proses berpikir yang memadai, karena hal itu justru dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang peradaban. Kemajuan teknologi harus tetap berjalan beriringan dengan kemampuan manusia untuk berpikir logis, kritis, dan kreatif,” jelasnya.

Dalam konteks pelayanan informasi publik, Noorhaidi juga menekankan pentingnya keterbukaan sebagai bagian dari integritas dan akuntabilitas lembaga.

“Keterbukaan berkorelasi positif dengan integritas, kejujuran, dan akuntabilitas. Lembaga yang memiliki integritas tinggi akan menjaga amanah dengan baik melalui keterbukaan, sehingga setiap hal yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ia turut mengaitkan prinsip tersebut dengan capaian akademik universitas, termasuk keberhasilan UIN Sunan Kalijaga menempati peringkat kedua nasional dalam THE World University Rankings (WUR) 2027.

Komisi Informasi Pusat Soroti Tantangan Informasi Digital

Ketua Komisi Informasi Pusat, Fb. Fx Handoko Agung Saputro, yang hadir sebagai pembicara utama atau keynote speaker, menyoroti tantangan keterbukaan informasi di tengah perkembangan teknologi.

Menurut dia, kemudahan masyarakat memperoleh informasi tidak selalu menjamin kebenaran informasi tersebut. Informasi keliru, manipulasi fakta, dan aktivitas buzzer menjadi sejumlah tantangan dalam ruang publik digital.

Handoko juga mengingatkan bahwa teknologi tidak sepenuhnya netral karena pemanfaatannya dapat dipengaruhi kepentingan dan pihak yang mengendalikan arus informasi. Dalam situasi tersebut, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis untuk memastikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.

“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi agar benar-benar menjawab kebutuhan manusia dan mendorong kemakmuran bersama. Di dalamnya berkumpul para pakar dan pemilik pengetahuan yang dapat berkontribusi memastikan perkembangan teknologi membawa manfaat bagi masyarakat, bukan justru membuat manusia terjebak di dalamnya. Karena itu, perguruan tinggi harus mampu mengelola dan mengarahkan teknologi agar memberikan manfaat nyata bagi kehidupan,” ujarnya.

Ia menegaskan pemanfaatan AI dalam layanan informasi publik perlu tetap berorientasi pada penguatan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pembahasan mengenai keterbukaan informasi publik juga menghadirkan Ketua Bidang Penyelesaian Sengketa Komisi Informasi Pusat, Arman Fauzi, serta Ketua Bidang Strategi dan Riset, Joemarthine Chandra.

Dalam sesi yang dimoderatori Ketua Satuan Pengawasan Internal UIN Sunan Kalijaga, Shaleh, keduanya membahas berbagai aspek keterbukaan informasi publik, termasuk dinamika dan tantangan dalam pelaksanaannya.

Bagi PPID UIN Sunan Kalijaga, pengembangan Ki Suka Menjawab menjadi bagian dari upaya mendekatkan layanan informasi kepada masyarakat. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung pelayanan publik yang mengedepankan akurasi, integritas, dan akuntabilitas sebagai bagian dari tata kelola perguruan tinggi yang transparan dan bertanggung jawab.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online