Era AI Makin Canggih, 4 Kemampuan Manusia Ini Tak Boleh Hilang

Newswire
Newswire Senin, 28 September 2026 23:17 WIB
Era AI Makin Canggih, 4 Kemampuan Manusia Ini Tak Boleh Hilang

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Noorhaidi Hasan. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Noorhaidi Hasan menilai kecanggihan artificial intelligence (AI) justru membuat empat kemampuan berpikir manusia semakin penting. Kemampuan tersebut meliputi berpikir logis, kritis, kreatif, serta bertindak secara etis.

Hal itu disampaikan Noorhaidi dalam pidato ilmiah Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta, Senin. Menurut dia, empat kemampuan tersebut harus tetap menjadi fondasi pendidikan meskipun teknologi AI semakin mampu mengerjakan berbagai pekerjaan manusia.

"Empat kemampuan ini, logical, critical, creative and ethical thinking menurut saya merupakan fondasi yang tidak boleh kita tinggalkan. Justru sebaliknya, semakin canggih AI, semakin penting kemampuan tersebut," katanya.

AI Mampu Mengolah Data dalam Skala Besar

Noorhaidi mengatakan manusia tidak dapat menolak kehadiran dan kemampuan AI di tengah perkembangan teknologi saat ini. AI mampu membaca jutaan halaman dalam hitungan detik dan menganalisis data dalam skala yang tidak mungkin dilakukan manusia secara manual.

Teknologi tersebut juga dapat menghasilkan teks, gambar, musik, dan kode. Bahkan, AI dapat membantu menemukan pola-pola baru dalam penelitian.

Karena kemampuan AI yang semakin luas, menurut Noorhaidi, muncul pertanyaan penting mengenai peran manusia ketika teknologi semakin mampu melakukan banyak hal.

"Apa yang tetap harus dilakukan manusia ketika AI semakin mampu melakukan banyak hal?.

"AI dapat menemukan pola, tetapi manusia harus menilai makna pola tersebut. AI dapat menghasilkan banyak pilihan, tapi manusia harus menentukan mana yang benar, adil dan bermartabat, AI dapat mempercepat keputusan, tapi manusia harus mempertanggungjawabkan konsekuensi dari keputusan itu," katanya.

Pendidikan Tak Cukup Berhenti pada Teknologi

Lebih lanjut, Noorhaidi menilai pelajaran yang relevan bagi perguruan tinggi bukan sekadar mengejar kecanggihan teknologi. Tantangan penting lainnya adalah bagaimana mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang dapat diterapkan.

"Saya melihat sesuatu yang mungkin selama ini hanya kita saksikan melalui layar televisi atau media sosial, bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan tinggi, industri, dan kebijakan pembangunan dirangkai menjadi sebuah ekosistem yang terintegrasi," katanya.

Menurut dia, perguruan tinggi selama ini telah menghasilkan penelitian, jurnal, buku, dan lulusan yang menjadi bagian penting dari kegiatan akademik. Namun, tantangan berikutnya adalah menghubungkan seluruh hasil tersebut dengan inovasi, penerapan, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

"Pengetahuan harus melahirkan inovasi. Inovasi harus menemukan aplikasinya. Dan aplikasi harus menghasilkan dampak," katanya.

Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global

Gagasan tersebut sejalan dengan tema Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga, yakni "Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global".

Noorhaidi mengatakan keunggulan akademik tidak seharusnya berhenti pada pengakuan terhadap mutu kampus. Keunggulan tersebut perlu menjadi dasar lahirnya gagasan dan karya yang mampu menjawab persoalan, digunakan lebih luas, serta memberikan kontribusi bagi universitas.

"Universitas masa depan tidak ditentukan semata oleh gedung pintar, namun manusia yang cerdas berpikir. Karena itu, universitas harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi sambil mengembangkan kualitas manusia yang menggunakannya," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online